My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Pesta Pernikahan Sahabat Rey hari "H"


__ADS_3

Ternyata kali ini Rey bisa menyesuaikan makanan dengan perutku. Tak banyak berfikir, ia langsung memarkirkan mobil di rumah makan Padang. Aku masih mengira bahwa aku saja yang harus menyesuaikan diri dengan seleranya.


Kami berdua turun. Cukup ramai di sini padahal jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Agak terlambat untuk makan malam, tapi tak apa, yang terpenting perut ini sudah terpenuhi haknya.


Kami masuk dan memesan makanan. Tak terlalu banyak. Karena aku khawatir pipi ini akan semakin membengkak bila aku melepaskan nafsu makanku begitu saja. Aku sengaja mengambil cukup banyak sayur agar lebih cepat keyang dan sedikit nasi.


Rey, masih saja makan menggunakan garpu. Bahkan beberapa orang melihatnya sambil menyantap makanan mereka.


"Rey. Emang bisa, ya, pake garpu? Pake tangan aja."


"Aku nggak biasa makan langsung pake tangan."


"Rey, kamu tau nggak, kalo kita makan langsung pake tangan, makanan akan lebih mudah dicerna karena enzim yang ada di jari-jari kita membantu mencerna makanan. Lagian makan langsung pakai tangan itu sunnah," kataku sambil menyuapkan nasi ke mulut.


Dia masih tetap memegang sendok dan garpunya. Entah kenapa, aku mulai merasa risih dengannya. Aku raih daging ayam dan menyuirnya dengan tanganku. Lalu meletakkannya di piring Rey.


"Tanganku bersih, Rey. Tadi udah aku cuci." Dia melihatku di saat aku sibuk menyuir daging ayam ini.


"Ayo, makan." Nampak sedikit keraguan di wajah Rey. Aku hanya tersenyum sedikit melihatnya mulai menyendok daging itu.


Setelah selesai makan, kami pun keluar dari rumah makan dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Besok pesta jam 10 pagi. Kamu harus bersiap. Kamu bisa kan, bersiap sendiri?" tanya Rey.


"In sya Allah bisa, Rey."


Memang sudah menjadi kebiasaan, bila otot perut mengencang, maka otot mata mengendur. Selama perjalanan pulang. Mata ini terasa berat. Bahkan sudah beberapa kali kepala terjatuh ke kanan atau ke kiri.


"Hei, bangun." Tangan Rey menggoyang-goyangkan lengan kiriku.


Aku mencoba membuka mata perlahan memandangnya yang berdiri dengan pintu mobil dibuka. Aku hanya menggeliat dan menutup kembali mata ini. Rasanya mengantuk sekali.


"Bangun, Alma."


Aku merasa kesal sekali karena tidurku diusik oleh Rey. Aku terpaksa bangun dengan wajah mengantuk, tapi juga kesal.


"Ngantuk, Rey," kataku sambil berjalan ke arah rumah dan duduk di kursi depan. Sedangkan Rey membuka pintu.


Aku mendengar suara kunci dibuka. Lantas Rey masuk terlebih dulu.


"Gendong, Rey." Aku mengangkat kedua lengan dengan mata setengah terbuka.


Rey muncul kembali dari dalam rumah.


"Kamu berat," katanya.

__ADS_1


"Kan, belum dicoba, Rey."


Dia menurutiku dan menggondongku di punggungnya. Rey lantas membuka pintu kamarku dan melemparku begitu saja ke atas ranjang. Untung saja ranjang ini empuk, jadi aku tak merasakan sakit sama sekali. Hanya sedikit terkejut saja.


Rey beranjak dan bermaksud berjalan keluar.


"Rey," panggilku.


Dia menoleh dan melihatku.


"Apa."


"Bukain jilbabku."


Rey berjalan dan membuka jilbabku. Sementara aku kembali tertidur.


**


"Aaaaaaaaaa..." Aku berteriak pagi ini. Rupanya hal ini membuat Rey terkejut.


Terdengar suara langkah kaki berlari ke arah kamarku.


"Kenapa triak-triak?" tanya Rey.


"Ya kamu sendirilah," jawabnya sambil menautkan alis.


"Bukannya aku tidur?" Aku masih tak percaya dengan ucapan Rey.


"Kamu lupa kali." Dia membalikkan badan dan berjalan pergi.


"Mandi cepet, kita berangkat jam 10. Kamu kan, dandannya lama."


Aku turun dari ranjang dan berjalan ke toilet dengan malas. Masih penasaran mengapa aku bisa mengganti piyama sendiri dan lebih anehnya lagi, aku sama sekali tak ingat kejadian itu.


Aku menggosok gigi sambil bercermin. Memandang piyama yang melekat. Tapi, tak mungkin juga Rey mau mengganti pakaianku. Kemungkinan itu mungkin hanya 10%.


Setelah selesai membersihkan badan, aku duduk di kursi dan memandang cermin di meja riasku. Aku membuka koper make up dan membuka aplikasi video. Aku menjajalnya langsung di wajahku. Untung saja, meski berbagai kuas terasa asing di mataku, aku masih bisa mengatasinya.


Benar-benar cukup memusingkan. Aku pikir, dandanan simple seperti penyanyi gambus yang manis itu mudah ternyata cukup sulit. Mungkin memang aku masih satu kali mencobanya.


Membuat alis cukup sulit, untung saja, tanganku cukup sering memegang pensil dan cukup bisa melukis. Jadi, tak terlalu kaku. Aku lihat-lihat, dandananku saat ini cukup bagus. Setidaknya tak terlalu berantakan.


Aku tersenyum puas saat aku memakai jilbab yang sama dengan penyanyi gambus itu. Juga cocok dengan pipiku yang tembem. Sejenak aku berpikir, perkataan Rey bila aku ini berat. Dandanan yang indah ini sejenak terlihat jelek karena aku cemberut.


"Sudah belum?" tanya Rey dibalik pintu kamarku.

__ADS_1


Aku merapikan sedikit gamis dan mengambil sepatuku. Sepatu pernikahan yang masih sangat bagus. Kenangan indah tertera di sepatu ini. Membuatku teringat kembali saat Rey mengucapkan ijab kabul itu.


Aku membuka pintu dan melihat Rey mengenakan jas hitam serta kemeja berwarna senada dengan gamisku. Aku berjalan ke sofa depan dan memakai sepatu di sana.


"Itu sepatu waktu kita nikah?" tanya Rey sambil melihatku mamakai sepatu yang memiliki hak lima senti berwarna putih.


"Iya, Rey. Masih bagus, ya. Ini juga kan, mahal, Rey." Aku bangkit dan memandang Rey. Dia masih terpaku di sana.


Sejenak ia berkedip saat aku mendekat dengannya.


"Ayo, katanya mulai jam 10," kataku berjalan kaluar.


**


Di perjalanan, rupanya Rey mencuri-curi pandang denganku. Aku mulai merasa aneh denganya.


"Kenapa, Rey?" tanyaku.


"Kenapa apa?"


"Kamu tadi liatin aku terus." Aku melihatnya tengah fokus dengan kemudi.


"Make up mahal memang sangat berpengaruh besar."


Aku mengrenyitkan alis memandangnya. Lalu, aku mengambil bedak kecil di tas dan melihatku di kaca itu.


"Maksud kamu, aku cantik karena make up mahal?" tanyaku dengan wajah yang mulai berubah.


Mata tajam seakan mengitimidasi Rey karena menunggu jawabannya.


"Mungkin."


Aku melihat ke arah depan dengan meruncingkan bibirku. Perkataanya cukup membuatku terpukul.


Apa tidak bisa dia sedikit berbohong demi menyenangkan hatiku?


**


Mobil memasuki garasi gedung hotel. Hotel yang tinggi menjulang. Aku sampai tak bisa melihat puncaknya dari dalam mobil ini. Aku merasakan aura kejutan ada di depan mata. Tiba-tiba jantungku menaikkan kecepatannya degupannya hingga aku meletakkan telapak tanganku untuk merasakan degupannya.


Aku menarik napas berulang kali untuk menetralisir rasa gerogi ini. Tanganku dingin seketika. Entah kenapa rasa gerogi ini bahkan melebihi saat aku membaca puisi di depan kelas sewaktu masih SMA.


Rey turun dari mobil diikuti denganku. Terlihat beberapa tamu juga berjalan masuk. Semua terlihat cantik dan tampan. Modis juga rapi. Aku kembali memegang dadaku dan berjalan masuk bersama Rey.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2