My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Kembali ke Rumah


__ADS_3

"Sus, saya udah boleh pulang, ya, udah habis dua juga infusnya," pintaku pada perawat yang baru saja masuk ruangan ini.


Dia tersenyum, tapi, sedikit tersipu saat Rey menatapnya. Seperti anak gadis sedang jatuh cinta. Gerogi mungkin.


"Iya nanti saya akan tanya dokter, ya, Mbak." Dia lantas keluar dengan senyum itu. Bukannya cemburu aku malah merasa lucu.


Setelah aku memastikan ia sudah jauh dari sini, aku lantas tertawa sekeras yang aku bisa. Tentu Rey terkejut dan menyuruhku diam.


"Kamu pikir ini di hutan?" Begitu katanya.


"Abis dia lucu Rey. Haha."


Rey berdiri dan keluar ruangan.


Dia ini, nggak bisa diajak bercanda, ya. Ampun.


Karena merasa bosan terus tidur hingga tak terasa sudah enam jam lamanya aku tergeletak di tempat tidur. Aku duduk karena merasa haus.


Nafas lelah keluar dari mulutku. Apa gunanya baju mahal ini kalau aku tergeletak di klinik? Aku kembali mengingat hal indah yang dilakukan Rey untukku. Ternyata, dia cukup siaga meskipun rasa cuek itu masih saja ditunjukkan kepadaku.


Aku sendirian di sini. Dan Rey tak kunjung atang. Aku meraih kantong infus dan mencoba berjalan keluar. Kebetulan ruangan dokter ada di sebelah ruangan di mana aku di rawat. Samar-samar, aku mendengar dokter sedang berbincang dengan Rey.


Aku mendekat ke arah pintu dan mencoba mendengarkan obrolan mereka. Rupanya pintu ini seperti kedap suara. Suara di dalam sama sekali tak terdengar. Sampai seorang perawat membuka pintu dari dalam. Untung saja ketika itu aku berpura-pura berjalan masuk ke ruanganku.


Pintu sedikit terbuka akibat perawat itu keluar. Aku kembali mendekat dan mendebarkan mereka berbincang.


Suara sepatu dari dalam ruangan dokter membuatku terkejut. Aku sampai harus berlari dan masuk kembali ke ruangan perawatan. Meletakkan kembali kantong infus di tiang besi.


Tak lama kemudian, Rey masuk dengan santai.


"Ayo, pulang," ajaknya.


"Iya."


Kami bergegas pulang. Rupanya Rey sendiri yang meminta izin kepada dokter agar aku bisa pulang karena keadaanku sudah jauh lebih baik.


Sebelum kami berjalan keluar, Rey terlebih dulu menebus obat di apotik.

__ADS_1


Aku berjalan perlahan keluar rumah sakit ini menuju garasi. Lagi-lagi aku berharap simpati Rey. Namun, apa dayaku, itu sia-sia saja. Sungguh kali ini dia benar-benar bisa melihatku sudah lebih baik.


Aku kembali menghadapi Rey yang cuek dengan wajah datarnya.


"Apa kita akan membeli makanan, Rey?" Aku melihat wajah lelahnya.


"Pesan saja, aku lelah," jawabnya tanpa melihatku.


Aku harus mengerti keadaannya. Karena setelah diingat, ia sudah mau membawa dan menggendongku menuju klinik. lima puluh lima kilo berat badanku, tak begitu berarti di saat kecemasan itu melanda. Kali ini, entah dia benar-benar tulus mengkhawatirkanku atau tidak.


Mobil sampai di depan gerbang. Saat aku ingin melepaskan sabuk pengaman, Rey terlebih dulu turun dan membuka pintu gerbang. Lalu, masuk kembali ke dalam mobil.


Aku hanya diam memandangnya. Mobil berhenti di garasi. Tanpa berbasa-basi, ia lantas turun dan langsung membuka pintu rumah. Mungkin ia benar-benar lelah hari ini.


Bingung juga harus berbuat apa. Aku langsung menuju kamar dan membersihkan badanku yang terasa lengket ini.


Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, aku berjalan dan bermaksud melihat keadaan Rey. Pintunya terbuka meski tak terlalu lebar. Mungkin ia lupa menutupnya tadi.


Rey tertidur tengkurap di ranjangnya. Masih dengan kemeja lengkap dengan sepatunya. Aku tak mengira, ia benar-benar lelah. Aku melangkah menuju kamar Rey bermaksud membangunkannya karena hari mulai petang dan hampir magrib.


Aku membuka sepatu dan meletakkannya di lantai. Membuka kaos kaki dan mencoba mengguncang-guncangkan tubuhnya.


Matanya perlahan terbuka. Ia membalik badannya dan melihatku duduk di ranjang.


"Bangun. Mandi, terus kita makan." Aku sematkan senyum dan bangkit meninggalkan Rey.


Aku berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan. Aku ambil sebutir obat lalu menelannya. Sambil menunggu Rey datang, aku sempatkan mambuka ponselku.


Di sana, ada lima panggilan tak terjawab. Nomor tak di kenal. Lantas ada sebuah pesan.


[Ini aku Rian] Isi pesan tersebut.


Rasa sesal melanda. Kenapa juga dengan mudah aku memberikan nomor ponselku padanya? Aku tak biasanya begini. Kalau bukan dengan Rey. Mungkin saja aku tak mau dijodohkan karena aku tak mudah akrab dengan manusia bernama laki-laki.


Tak kubalas tentunya isi pesan itu. Biarkan saja, siapa tau dia akan merasa lelah sendiri dan berhenti mengusikku. Saat diingat ketika pesta tadi siang, Rey marah besar karena aku mengobrol dengannya.


Rasanya, ingin kuulang waktu dan tak melakukan hal itu. Aku biarkan saja, hati ini tercabik-cabik karena aku diacuhkan oleh Rey daripada aku terkena omelannya. Mungkin aku lebih bisa mengalah dibanding Rey.

__ADS_1


Kreet. Kursi ditarik oleh Rey. Wajah itu tampak lebih segar karena siraman air yang membersihkan badannya. Bekas sabun dan sampo masih tercium di hidungku. Tak lupa dengan aroma parfum yang sangat aku sukai.


Tak ada obrolan di meja makan kali ini. Kami sibuk memainkan sendok dan mengunyah makanan yang ada dihadapan.


"Rey, sebenarnya..." Sebelum selesai berbicara, Rey bangun dan meninggalkan meja makan.


Nggak sopan! bisikku.


Ya, sudah hampir dua bulan kami menikah. Mungkin aku hampir terbiasa dengan sikapnya yang kadang baik, biasa saja, perhatian, bahkan jutek sekalipun. Sikapnya terhadapku benar-benar susah ditebak.


Sambil membereskan piring dan sendok aku mencoba berfikir, bagaimana kami kedepannya. Bagiku, tak ada perubahan yang signifikan dari sikap Rey kepadaku.


Mungkin, aku yang memang harus senantiasa bersabar dengannya. Ibaratkan sedang mengasuh anak kecil yang sikapnya masih berubah dengan cepat tanpa diduga.


Aku kembali melangkah mengambil beberapa butir obat dan menelannya. Terkadang, bingung rasanya menghadapi Rey.


Apa sebaiknya aku menyerah saja?


Aku berjalan menuju ruang tivi di mana Rey sudah duduk di sana.


"Gimana, Rey?"


"Gimana apanya?" Sejenak dia menoleh ke arahku.


"Kerja." Dua kedipan mata berlangsung sangat cepat. Berharap Rey bisa luluh dengan permintaanku.


"Enggak!"


Bibir manyun seketika. Kedua lengan aku liapat di depan dada. Tentu saja, seharusnya aku sudah bisa menebak ini semua. Apalagi setelah kejadian tadi siang.


"Kamu telat makan aja masuk klinik."


"Kamu lupa, ya, Rey. Penyebab maag kambuh itu bukan hanya dari telat makan aja, tapi, dari pikiran yang berlebihan."


"Kamu tau dari mana?" tanya Rey sambil menatapku. Tentu saja hal ini membuatku terasa sedikit takut. Karena itulah obrolan Rey dengan dokter saat aku menguping dari luar ruangan.


Aku meringis dan menjawab, "Aku nggak sengaja denger Rey."

__ADS_1


Rey kembali memandang tivi tanpa curiga.


Bersambung...


__ADS_2