
Kepalaku beberapa kali hampir terjatuh ke kana dan ke kiri. Mata juga terasa sepat. Kepala ini terasa berat dan sangat mengantuk. Sesekali aku melirik berkas yang masih menumpuk di samping laptop. Sedangkan Rey sudah terlelap dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia bahkan masih sangat tampan dengan posisi seperti itu.
Brakk... Aku jatuh tertidur dengan menggeletakkan kepala di atas meja.
"Heeeh, bangun." Aku merasa seperti ada yang mencolek lenganku.
"Bangun. Jam berapa ini?"
Aku menguap dan meregangkan lengan. Aku membuka sedikit mataku dan mengintip Rey ada di depanku.
"Sudah jam setengah tiga. Waktu duhur mau habis," katanya.
Aku masih terdiam sejenak mencerna perkataan Rey.
"Haaa, udah setengah tiga."
"Aaaa!" Aku berlari ke kamarku sambil berteriak.
Masuk ke toilet dengan segera dan berwudhu, lalu menunaikan salat duhur. Setelah selesai, barulah aku merasakan kepalaku yang cukup sakit karena terkejut. Sedikit merasa kesal karena ulah Rey. Andai saja dia tak memberikan pekerjaan kantornya, pasti aku tak akan ketiduran.
Setelah melipat sajadah, aku pun berjalan ke arah dapur sambil memegangi dahiku.
"Heh, mau kemana?" tanya Rey dari dalam kamarnya. Ia masih tergeletak dengan riang di atas ranjang.
Aku yang mendengar suaranya segera menoleh dan melihat dari depan pintu.
"Aku mau makan siang."
"Tugas kamu belum selesai."
"Iya, tapi, aku kan, lapar. Kamu lupa, ya, kalau aku punya maag?"
Rey tampak sedikit gelagapan.
"Baiklah. Cepat makan dan selesaikan pekerjaanmu."
"Hem."
Aku percepat jalan menuju dapur dengan sedikit mengumpat.
Sejak kapan dia bisa seenaknya menyuruhku?
**
Makan siang selesai, membereskan piring juga sudah selesai. Kini giliran ku menyelesaikan pekerjaan kantor Rey. Masih terbayang di otakku apa yang terjadi tadi pagi saat Rey mengunci pintu dan membuka baju. Pikiranku benar-benar perlu disapu.
"Tolong ambilkan aku makan siang," perintah Rey saat kakiku melangkah masuk ke kamarnya.
"Kenapa nggak dari tadi, sih." Aku berbalik dengan raut wajah kesal.
Ternyata selain jutek dan dingin, Rey juga sangat jago mengerjai orang. Kenyataan yang cukup mencengangkan.
Nasi dan lauk sudah berada di piring. Sambil bergumam sebal aku kembali ke kamar Rey. Aku juga membawa segelas air mencegah ia kembali mengerjaiku.
Aku masuk dan langsung duduk di kursi sebelah ranjang. Rey masih bersandar di pinggir ranjang sambil membaca majalah otomotif.
"Ini."
__ADS_1
"Suapi."
Mulut ini melongo mendengar satu kata yang terucap. Aku menahan nafas yang hendak meledak. Mau bagaimanapun, aku tetap harus menurutinya.
Aku mengangkat sendok dan menyuapkannya pada Rey.
"Aa!" teriak Rey saat satu sendok penuh nasi masuk ke dalam mulutnya dengan sedikit kasar.
"Pelan-pelan. Aku kan, sedang sakit," katanya dengan mulut penuh nasi.
Ting...
Sendok beradu di piring dengan keras pertanda aku sedang menahan kesal. Nyatanya Rey sudah sembuh, tapi dia amat manja bahkan tak mau walau hanya sekedar duduk di kursi makan.
"Minum."
Aku melirik Rey tajam sambil mengambil segelas air di atas meja.
"Nih." Aku hendak bermaksud memberikannya supaya ia meminum ya sendiri dari tangannya. Namun, yang maju justru kepalanya.
Brakkk...
Aku meletakkan piring dan gelas dengan kasar di atas meja.
"Sudah cukup. Kamu sudah sehat, kan. Kenapa kamu begitu suka mengerjaiku?" Aku bengkit dari kursi hendak keluar dari kamar.
Tiba-tiba saja tanganku ditarik paksa oleh Rey hingga aku harus jatuh di ranjang tepat di atasnya.
Deg... Deg... Deg...
Detak jantungku naik signifikan. Matanya kini manatapku dengan wajah kami yang sangat dekat. Aku menelan air liur karena gerogi bukan main.
Desis nafas itu mengenai wajahku. Membuat hatiku semakin tak karuan.
"A-ku a-ku, mau, tapi, bukan berarti kamu bisa seenaknya sama aku." Aku melirik ke sana kemari hanya untuk merangkai kata-kata. Bukan apa-apa, pada posisi seperti ini, otakku sedikit lemot mencerna perkataan yang masuk dan keluar.
Tangan Rey meraba rambutku dengan lembut, semakin membuat jantungku menaikkan kembali detaknya.
"Kamu mau apa, Rey?"
Konyolnya aku, kenapa pertanyaan itu yang terucap.
"Ada nasi di rambutmu."
Aaaaa...
Mungkin kali ini wajahku seperti kepiting pedas manis yang baru matang. Aku bahkan tak mampu mengangkat kepalaku karena merasa malu. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, Rey masih saja mempermainkanku.
Terasa perut Rey bergerak cepat sebentar. Ia tertawa geli, namun, tak terlalu keras. Aku menoleh dan melihat Rey.
"Kamu ngetawain aku?"
Rey menutup matanya saat beberapa helai rambutku mengenai wajahnya. Perlahan ia mengusapkan rambut itu dan menatapku. Tatapan itu, aku bahkan tak pernah melihatnya.
Brukkk...
Seketika ia memindahkan posisi. Kini Rey yang ada di atasku.
__ADS_1
"Kamu akan aku kerjai sekali lagi," katanya dengan mata sayup dan sedikit memerah.
**
"Rey, mau makan apa?" tanyaku sambil berdiri di depan pintunya.
"Apa aja yang penting enak."
Dengan penuh senyum aku kembali ke kamar untuk menaruh handuk dan merapikan pengering rambut yang baru saja aku pakai.
Rey benar-benar lelaki yang misterius. Sekejap, ia bisa membuatku kesal, tapi, dalam sekejap, ia juga mampu membuat hatiku senang. Kalau begini terus, cita-cita Ibu untuk cepat memiliki momongan akan segera terwujud, tapi, aku tak boleh senang dulu. Karena Rey, masih bisa berubah. Mungkin setelah ia puas mengerjaiku, barulah ia bisa menyenangkan hatiku.
"Sudah matang?"
"Hah!" Aku sangat terkejut saat mendengar suaranya. Rey tiba-tiba sudah ada duduk di kursi makan.
"Kamu. Ngagetin aja." Sambil mengatur nafas.
"Jangan suka ngayal. Fokus sama pekerjaan."
Aku meruncingkan bibir.
"Iya."
"Setelah makan malam, selesaikan pekerjaanku."
"Haah? Aku pikir kamu yang akan membereskannya."
"Kalau kamu bisa menyelesaikan semuanya, aku akan memberimu hadiah."
Aku berjalan cepat menghampiri Rey.
"Hadiah apa, Rey?"
"Besok sepulang bekerja akan aku beritahu."
Aku tersenyum lebar sekali mendengar perkataan Rey. Dengan cepat aku menyiapkan makan malam dan segera melahapnya. Lalu, aku bisa kembali mengerjakan pekerjaan kantor Rey. Entah hadiah apa yang akan Rey berikan. Kecil atau besar. Mahal atau tidak, bukanlah hal yang penting. Namun, kepeduliannya terhadapkulah yang terpenting.
**
Aku melirik ponsel dan melihat jam. Sudah jam delapan malam. Berkas ini sudah selesai. Suamiku sudah terlelap di sana. Di tempat tidur. Mungkin ia sedikit kelelahan. Aku berjalan ke arahnya dan merapikan selimut. Lalu, berjalan keluar dan menutup pintu.
Saat aku hendak membuka pintu kamarku, tiba-tiba saja pintu kamar Rey terbuka. Kepalanya muncul dari dalam.
"Kamu mau kemana?" tanya Rey.
"Tidur," jawabku setelah menoleh ke arahnya.
"Hem." Rey terlihat memutar bola matanya kesana kemari.
"Hem?" tanyaku.
"Ya, sudah."
"Oke," sahutku.
Aku membuka pintu kamar dan masuk.
__ADS_1
Bersambung... Jangan lupa like, rate n vote. Akan aku feedback ya. Asalkan kalian mau komen.