My Husband Is-Cuek

My Husband Is-Cuek
Ayam Penyet Kesukaan Rey


__ADS_3

"Yes, akhirnya aku dapat."


Rey diam dan sesekali menongok arloji hitam yang ia pakai di lengan kanannya.


"Ayo pulang."


"Okey suamiku."


Kami berjalan menuju mobil setelah aku mendapatkan barang yang aku inginkan.


"Uang belanja bulan ini sudah ku transfer ke rekeningmu," kata Rey. Aku melihatnya yang tengah fokus menyetir.


"Iya, Rey, makasih."


"Kamu nanti mau makan siang apa, Rey?" tanyaku basa-basi.


"Apa aja," jawabnya singkat.


"Kamu suka ayam penyet, nggak?"


"Biasa aja."


Aku hanya mengangguk kecil.


"Huaaaam." Aku menguap di mobil. Saat aku ingin memejamkan mataku, tiba-tiba Rey menahan kepala agar tak bersandar.


"Eh. Kita mau sampai jangan tidur."


"Biarin aja, nanti kalau aku tidur, kan, kamu yang angkat aku ke rumah." Aku mengangkat kedua lengan ke arah Rey sambil menutup mata, tapi aku sedikit mengintip untuk mengetahui reaksinya.


"Kamu itu berat. Mana kuat aku." Aku menurunkan lengan setelah mendengar perkataanya.


"Iya-iya aku tau kalau aku itu gendut." Sambil memonyongkan bibir.


"Rey. Kamu besok mau kemana?"


"Kerja."


"Yah. Kirain belum kerja. Aku, kan pengan jalan-jalan, ya, itung-itung sama bulan madu." Aku mengedipkan mata manja kepada Rey. Dan sekali lagi Rey hanya diam tanpa ekspresi.


"Rey. Kamu malam tadi ke kamar aku, kan, Rey? Kenapa kamu pergi?"


"Kamu mendengkur. Aku nggak bisa tidur."


Haaah? masa iya aku mendengkur. Ya ampun Alma.


Aku menggigit bibirku karena malu.


Tau gitu aku nggak nanya.


Aku lemas seketika mendengar perkataan Rey. Dia sangat jujur sampai kejujurannya menghancurkan hatiku. Ohh.


Diem aja deh. Daripada malu lagi.


Tak berpa lama, mobil pun berhenti di garasi rumah kami.


Setelah turun, aku langsung mengambil barang-barang yang sudah kami beli dan berjalan masuk.


Aku segera berjalan ke dapur dan memasak untuk makan siang. Kali ini aku akan masak ayam penyet. Akan kubuktikan Rey pasti suka dan tidak akan menolak masakan yang aku buat.


Sambil menghidupkan speaker baru, aku menyetel musik kesukaanku. Musik gambus yang penyanyinya gadis cantik berpipi tembem. Lumayan bisa menghilangkan stres dalam menghadapi Rey dan bisa membuatkuku good mood kembali.


Aku merebus ayam selagi kutinggalkan berganti pakaian.

__ADS_1


Biar aja deh badan buntal ini terbungkus baju minim di depan suamiku. Siapa tau aja, karena begitu seringnya dia liat aku begini, dia jadi... Auu, geli sendiri mikirnya. Hihihi


Aku terkiki memikirkan hal yang mingkin mustahil, tapi, aku tetap tak menyerah untuk mendapat simpati dari Rey. Seperti pepatah jawa mengatakan 'Witing tresno jalaran soko kulino' yang artinya Cinta ada karena terbiasa.


Mungkin kali ini, aku harus benar-benar tahan banting demi Rey. Bagaimanapun juga, ia sudah menjadi suamiku.


**


Aku membuka ponsel dan mencari musik favoritku dan mendengarkannya lewat speaker yang baru tadi pagi dibelikan oleh Rey.


Man ana man ana man ana laulaakum


Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum


Kaifa ma hubbukum kaifa maa ahwaakum


Ma siwaaya wa la ghoirokum siwaakum


Laa wa man fiil mahabah 'alayya walaakum


Antum antum muroodi wa antum qosdhii


Laisa ahadun fiil mahabbati siwakum 'indii


Man ana man ana man ana laulaakum


Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum


Kullama zaadanii fii hawaakum wajdii


Qultu yaa saadati muhjati tafdaakum


Lau qotho'tum wariidii bihaddi maadlii


Qultu wallaahi ana fii hawaakum roodli


Kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum


Setelah lagu pertama jeda, aku tak sengaja melihat Rey bediri di depan pintu saat aku mulai menggerus sambal. Aku pergi ke arah speaker dan mematikannya. Masih kupandangi Rey dengan matanya yang terpejam.


"Rey," sapaku. Rupanya suaraku mengejutkannya. Ia membuka mata dan menggerakkan sedikit tubuhnya setelah aku memanggil namanya. Tanda bahwa ia sedikit terkejut.


"Suaraku bagus, ya, Rey?"


Ia hanya melengkungkan satu bibirnya dan menggeleng kecil lantas masuk ke kamar.


Kali ini aku akan bernyanyi tanpa alunan musik. Karena dilihat dari reaksinya, mungkin saja dia suka dengan suaraku.


Belum selesai aku bernyanyi, sebuah bantalan koran, ia lemparkan ke arah luar.


"Beriisiikk!"


Aku benar-benar terkejut dan hingga rongga mulutku terbuka lebar.


Huuh, dia itu benar-benar.


Plaaaak!


Aku membanting talenan kayu di atas westafel karena terkejut oleh sikapnya. Namun, begitu emosiku ini mudah mereda. Tak berlarut-larut. Apalagi dengan orang yang serumah denganku.


Setelah beberapa puluh menit berselang, Rey datang ke meja makan dan menarik kursi dari dalam kolong meja.


"Sudah matang? Aku lapar," katanya sambil menuang air di dalam gelas.

__ADS_1


"Iya, ini tinggal ngiris timun aja," jawabku sambil mengiris mentimun.


"Haa, selesai."


Aku membawa piring dengan ayam goreng di atasnya yang sudah aku penyet sedikit di atas cobek. Tak lupa dengan sambal terasi kesukaanku serta mentimun, tomat, dan tampe goreng sebagai pelengkap.


Aku menata makan siang itu dengan indah di meja makan. Setelah selesai, barulah aku menyiduk nasi ke piring Rey dan mengambilkan ia sepotong besar dada ayam beserta sambal dan lalapan.


"Ini."


Ia mengambil pisau dan garpu di atas meja.


"Mau aku ambilkan air kobokan? Enak pake tangan Rey."


"Aku tak pernah makan langsung dengan tangan," katanya.


"Oh." Aku melahap ayam penyet ini. Rey hanya melirikku tajam sambil berusaha mengiris daging itu.


Setelah dia menyuapkan satu sendok ke mulutnya, tiba-tiba saja ia terdiam. Ia lantas berdiri dan berjalan menuju waestafel dan mencuci tangan.


Pisau dan garpu ia sisihkan. Kini ia makan menggunakan tangannya. Aku tersenyum sambil memandanginya makan. Sangat lahap sampai tak sadar bahwa mulutnya masih penuh sudah di suapinya lagi.


"Ehem.. pelan-pelan, Rey," kataku sambil menahan tawa.


"Apa enak?"


Tentu saja tak ada jawaban karena ia tengah sibuk menikmati daging dan sambal terasi itu. Kepalanya mulai berkeringat, karena aku sudah selesai, aku pergi mengambil tisu dan mengelap keringatnya.


Aku duduk mendekat agar lebih mudah menjangkaunya. Aku memandangnya dari jarak dekat, tersenyum sendiri karena ia suka dengan masakanku.


"Haa." Segelas air telah masuk di kerongkongannya sebagai penutup makan siang ini.


"Enak, Rey?" tanyaku.


Raut wajahnya sontak berubah dengan cepat. Tadi terlihat sangat puas, kini berubah menjadi acuh kembali.


"Biasa aja."


Aku tersenyum mendengar jawabannya.


"Kenapa kamu gak makan piringnya sekalian?"


Nampak ia tercekat dengan pertanyaanku. Ia lantas bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


"B...bahahahahah." Aku tertawa geli sekali melihat ekspresi Rey sampai air mataku kaluar karena tertawa.


Dasar Rey. Bilang aja enak, enak banget. Andai piring ini bisa dimakan, pasti akan ia lahap juga. Haha.


**


Aku membereskan piring ini dan mencucinya. Setelah itu aku langsung menyapu lantai seluruh ruangan di rumahku. Karena perut kenyang, mungkin sedikit gerakan akan membuat makanan cepat tercerna.


Tok. tok. tok.


"Rey, buka pintunya Rey. Aku mau sapu kamar kamu," pintaku sambil mengetuk pintu.


"Rey..."


Pintu terbuka dan aku pun masuk. Kamarnya rapi sekali dengan beberapa buku tertata di rak. Aku berjalan dan mulai menyapu kamar Rey. Sejenak aku duduk di ranjangnya.


Andai saja, aku bisa sekamar dengan Rey. Pasti itu akan menyenangkan buatku.


Tanpa tersadar, aku tertidur di sana, di kamar Rey.

__ADS_1


Bersambung...


Hai, para Readers, dukung author terus ya. Jangan sungkan buat kasih kritik atau saran yang membangun. Baik pedas atau sangat pedas, akan diterima dengan senang hati. Terima kasih. 😊


__ADS_2