
Holaa... Mommy balik nih, ngabulin permintaan kalian yang minta extra part. 🙈🙈
.
.
.
"Clay!" panggil Jeje terus berteriak memanggil Clay, namun sang empunya tampak acuh dan tidak perduli sama sekali. Ia terus melangkahkan kakinya acuh, dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana nya.
"Clay tungguin Jeje!"
Brug!
Clay menghentikan langkah nya saat mendengar suara seseorang terjatuh. Yah, dialah Jeje, si gadis manja, ceroboh dan pengganggu. Sejak awal masuk sekolah, Jeje selalu mau bersama nya, sudah cukup bagi Clay selalu di rusuhi selama enam tahun di sekolah dasar. Dan kini, memasuki SMP, ia begitu ingin bersekolah di luar negri agar Jeje tidak lagi mengganggu nya.
Dan disinilah ia saat ini, Bandara internasional. Sejak kecil, memang dirinya sudah terbiasa hidup mandiri, dan kepintaran nya, tidak perlu di ragukan lagi. Maka dari itu, Stiven tidak ragu untuk memberikan izin pada Clay untuk ke luar negri. Walau pun pasti akan selalu ia pantau, dan Stive juga sudah menempatkan beberapa pengawal dan penjaga yang akan memantau Clay di sana.
Alasan utama Stive bukan hanya itu, ia mengizinkan Clay pergi karena selain membiarkan Clay mandiri, namun juga agar dirinya tidak ada lagi saingan bila bersama Ella. Tentu saja, semakin tua, ia semakin posesif terhadap istri nya.
__ADS_1
"Dasar ceroboh! Pengganggu, manja!" celetuk Clay yang sudah berdiri di hadapan Jeje, membuat gadis cantik nan mungil itu langsung tersenyum sumringah saat mendongakkan kepalanya.
"Kaki Clay itu panjang kaya jerapah! Jeje gak bisa ngejar nya!" ucap Jeje sambil melantunkan bibir nya, lalu gadis itu langsung merentangkan kedua tangan nya menatap Clay seolah meminta bantuan.
Clay hanya menghela napas nya dengan berat, lalu ia pun meraih tangan Jeje dan membawa nya berdiri.
"Lain kali, pakai tongkat! Biar gak jatuh!" cetus Clay memutar bola mata nya dengan malas.
"Ikkss, memang nya Jeje nenek nenek. Harus pake tongkat!" sungut gadis itu dengan kesal.
Walaupun Clay begitu kasar dan acuh padanya, namun tak membuatnya menyerah untuk mendapatkan hati Clay.
"Clay, saat liburan sekolah. Kamu pulang kan?" tanya Clay yang sudah berdiri dan kembali mengikuti langkah kaki Clay.
"Entah!" jawab Clay acuh.
"Iihh, Clay. Jalan nya jangan cepet cepet! Jeje jatuh lagi nih!" seru Jeje mengancam, lagi lagi membuat Clay menghela napas nya dengan kasar.
Kini Clay mulai memelankan langkah kaki nya. Keduanya mengobrol panjang lebar untuk yang terakhir kalinya. Maaf ralat, bukan keduanya, tapi hanya Jeje yang terus mengoceh. Sementara Clay hanya diam. Dan diam diam ia mengambil earphone di tas dan memasang nya tanpa di ketahui oleh Jeje.
__ADS_1
"Kenapa kalian lama sekali hem?" tanya bunda Ella saat melihat Clay dan Jeje baru tiba.
"Maaf Bun, tadi ada kecoa jatuh!" jawab Clay, lalu ia segera mendekati Bunda dan memeluk nya.
"Jeje bukan kecoa!" seru Jeje tak terima.
"Bodo!" cetus Clay, lalu ia kembali memeluk bunda nya. Bermanja manja untuk terakhir kalinya, karena sebentar lagi, ia akan pergi untuk waktu yang lumayan lama.
"Clay, kau itu sudah besar. Ini tempat umum! Lepaskan bunda mu!" kata Stive hendak menarik Clay agar melepaskan bunda nya.
"Astaga, ayah apaan sih! Clay udah mau pergi!! Setelah itu ayah bebas mau ngapain sama Bunda!" sungut Clay dengan kesal.
"Astaga, bahkan saat anak kamu mau pergi pun, kamu masih over. Astaga Stive!" geram bunda Ella menatap suaminya.
"Aku bukan over! Aku hanya memberikan nya peringatan! dia sudah besar, apa tidak mau bermanja seperti itu pada ibu nya. Dan juga, dia itu laki laki!" jelas Stive tak mau di salahkan.
Ella dan Clay hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat tingkah Stive. Sama sekali tidak berubah, ia masih selalu sama. Sejak dulu, selalu memperebutkan Ella dengan Clay.
"Ayah Stive so sweet yah. Nanti, Clay kalau sudah menikah sama Jeje juga seperti itu yah ." celetuk Jeje yang menatap ayah Stive dengan kagum. Lalu matanya menatap Clay yang juga menatap nya, membuat senyumnya semakin merekah menghiasi wajah nya.
__ADS_1