
“Jasmine?’ panggil Ella saat dirinya melihat Jasmine hendak masuk ke dalam kamar nya.
Ia tidak menjawab teguran Ella, ia hanya menatap Ella dengan tajam, lalu ia langsung masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu nya sedikit kencang.
Sementara Ella, ia menatap bingung, mengapa Wajah Jasmine terluka dan penampilan nya terlihat sangat berantakan. Tidak ingin mengambil pusing, ia pun segera berjalan menuju pondok untuk melihat keadaan nyonya Melanie.
“Selamat pagi Nyonya,” sapa Ella dengan senyum manis dan duduk di depan nyonya Melanie, “Tidak apa nyonya, hanya saja kemarin sempat jatuh karena aku kurang hati-hai.” Jelas Ella saat melihat nyonya Melanie mengerutkan dahinya.
Nyonya Melanie tampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali mendengarkan cerita Ella tentang hari harinya. Yah, inilah rutinitas Ella sebelum berangkat ke sekolah, ia akan mengantarkan sarapan pagi untuk Nyonya Melanie, serta bercerita tentang apa saja yang ia lalui sepanjang hari.
“Nyonya jangan tertawa, teman Ella yang itu memang sangat aneh,” sungut Ella menahan tawa, pura-pura merajuk saat melihat wajah nyonya Melanie tersenyum lebar saat mendengarkan ceritanya tentang Janu yang berubah menjadi Jenny.
“Nyonya tahu, bahkan dia jauh lebih cantik dariku. Bukankah itu tidak adil? Dia laki- laki, sementara aku yang wanita asli bisa kalah darinya,” katanya lagi berdecak.
__ADS_1
Nyonya Melanie kembali tersenyum, lalu tangan nya menyentuh tangan Ella dan menggenggam nya dengan begitu lembut.
Tok .. tok .. tok .
Seorang pelayan wanita datang untuk membawakan obat nyonya Melanie. Ella menerima nya dengan ramah seperti biasa, namun berbeda dengan wajah nyonya Melanie yang langsung berubah menjadi lebih tajam dan kembali datar saat mendengar suara pintu terbuka.
“Nona, ini adalah obat nyonya. Dan kali ini harus di habiskan,” katanya saat menyerahkan obat dan air minum.
“Kok lebih banyak dari biasanya?” tanya Ella heran saat melihat beberapa butir obat yang memang bertambah dari biasanya.
“Ah begitu, terimakasih, selesai sarapan aku akan memberikan nya pada nyonya Melanie. Kau bisa keluar” kata Ela mengusir pelayan tersebut.
“tapi Nona saya-“
__ADS_1
“Apakah saya harus merekam nya agar kamu percaya dan yakin bahwa obat ini sudah di minum nyonya Melanie?” tanya Ella sedikit curiga, membuat pelayan tersebut langsung gelagapan.
“Siapa yang menyuruhmu? Tuan Stive? Kalau iya, ini saya bawa Hp, nanti video nya akan saya kirim kan langsung padanya.” Ucap nya lagi yang mana malah membuat pelayan tersebut semakin panik.
Entah mengapa, saat Ella melihat raut wajah nyonya Melani yang langsung berubah saat kedatangan pelayan itu, membuat nya kurang percaya dan meragukan obat yang ia bawa. Setelah pelayan pergi, Ella kembali mengunci pintu dan hendak menghubungi Stive untuk menanyakan obat tambahan tersebut.
Namun, dengan cepat nyonya Melanie menahan tangan nya dan menggelengkan kepala, melarang Ella agar tidak melapor pada Stive. Nyonya Melanie memberikan isyarat pada sebuah laci yang berada di samping tempat tidur nya.
Ella pun segera bangkit, lalu ia mengecek laci tersebut. Dan betapa terkejut nya ia saat melihat isi dari laci itu, ia langsung menatap wajah nyonya Melani dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa? Sebanyak itu, untuk apa? Batin nya.
Nyonya Melanie meraih kertas dan pulpen yang selalu ia duduki, lalu ia mulai menuliskan sesuatu kepada Ella. Yah, kini nyonya melanie sudah bisa bergerak dan menampilkan ekspresi wajah nya, Ella benar benar merawat nya dengan baik sehingga kondisi nya semakin membaik dan cepat pulih, hanya saja nyonya Melanie masih belum bisa berjalan dan berbicara.
‘Berhati-hatilah. Jangan percaya pada siapa pun.’ Pesan yang di tuliskan oleh nyonya Melanie, membuat Ella langsung mengerutkan dahinya dan kembali menatap nyonya Melanie.
__ADS_1
‘Begitu banyak teka teki disini, ya Allah semoga hamba selalu ada dalam lindungan-Mu.’ Gumam Ella dalam hati.