
Brakkk!
Ella yang sedang menikmati waktu berendam nya di dalam bath tub langsung terlonjak kaget saat mendengar suara pintu yang di dobrak paksa. Dirinya sudah hapal bahwa pasti Stive yang melakukan itu, ia pun tidak menghiraukan dan kembali melanjutkan mandi nya, Namun, saat dirinya hendak memakai bathrobe, tiba – tiba Stive menariknya hingga membuat Ella hampir kehilangan keseimbangan.
Deg!
Entah mengapa kini tiba- tiba Ella merasa sangat takut melihat sorot mata tajam Stive saat ini. begitu tajam dan terlihat semakin menyeramkan.
“Sa- sayang ... “ desis Ella menelan saliva nya dengan kasar.
“Siapa yang menyuruh mu mengganti mawar ibuku?”tanya Stive pelan namun begitu dingin dan tajam.
__ADS_1
“Ke- kenapa?” ucap Ella malah balik bertanya, padahal maksudnya ia bertanya mengapa Stive tiba tiba berubah begini, tidak seperti pagi tadi saat dirinya hendak bekerja, begitu hangat dan menenangkan.
Sangat berbeda dengan saat ini, begitu dingin dan menyeramkan. Apakah hanya karena mawar? Padahal dirinya sudah meminta izin langsung pada nyonya Melanie, lalu mengapa Stive terlihat se marah ini? batin Ella.
“Jawab aku Daniella!” bentak Stive mendorong tubuh Ella hingga membuat gadis itu terjerembab ke lantai, siku nya sedikit berdarah akibat terbentur bath tub, namun Ella tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sama sekali.
Fokus nya kini hanya pada wajah Stive yang terlihat begitu marah, mengapa? Batin Ella selalu bertanya tanya. Sementara Stive yang memang sedang di kuasai amarah, jiwa iblis nya muncul kembali, ia yang melihat Ella masih biasa saja walau siku nya berdarah membuat amarah nya semakin membuncah.
“Sudah ku katakan berkali kali bukan, jangan pernah mencoba merubah apapun. Dan sudah ku katakan tadi pagi agar kau istirahat di kamar, bukan malah mengganti dan mendekor pondok sesuka hatimu!” ucap Stive dengan mata menyorot tajam pada Ella.
Ella sama sekali tidak berekspresi, matanya masih fokus tak berkedip menatap lekat mata Stive, hingga akhirnya setetes air mata lolos begitu saja melintasi pipi mulus nya.
__ADS_1
Deg!
Stive yang melihat air mata Ella, seketika tersadar dan langsung menjauhkan dirinya dari Ella, kini tubuh Ella polos, tak tertutupi benang sehelai pun, tubuh nya luruh dan terjatuh ke lantai. Stive yang melihat tubuh Ella lemas dan tak berdaya pun, segera mengangkat nya dan membawa nya ke tempat tidur. Wajah marah nya kini langsung berubah menjadi panik saat melihat air mata Ella.
“Tidak bisakah kau bertanya dengan pelan dan lembut padaku?” tanya Ella begitu lemah, sebelum akhirnya ia menutup matanya dan tak sadarkan diri.
“Sa- sayang!” Stive menepuk nepuk pipi Ella berkali kali, ia semakin panik saat melihat Ella tak sadarkan diri, “Sayang bangun. Ella, bangun! Ella, aku tidak mengizinkan kamu untuk pingsan! Cepat bangun! Ella, Sayang!” seru Stive begitu panik, ia pun dengan cepat mengambil ponsel nya dan menghubungi Jhon.
“Cepat kau bawa Marcel kemari! SEKARANG!” pekik Stive saat sambungan telfon nya di angkat oleh Jhon. Dan, belum sempat Jhon menjawab, bos nya langsung mematikan nya sepihak begitu saja.
“Tuan, aku lelah mengumpat mu terus menerus,” gumam Jhon yang hendak merebahkan dirinya di atas tempat tidur, terpaksa ia urungkan dan segera bersiap mengganti pakaian lagi.
__ADS_1