
Yuhuuu,, extra part lagi nih 😘🥰🥰
.
.
.
Lima tahun berlalu dengan begitu cepat, kini Clay memilih kembali ke Indonesia saat mendapatkan kabar bahwa bunda nya baru saja melahirkan.
Terkejut, tentu saja. Di umur nya yang belasan tahun, dirinya baru memiliki seorang adik. Benar benar luar biasa bukan.
Dan disinilah ia, di dalam kamar ruang perawatan sang bunda, dimana bunda nya bersama dengan sang ayah sedang menimang nimang seorang bayi perempuan.
"Ayah kira, kamu tidak akan pulang." kata Stiven menatap putra sulung nya.
"Ckck! kalau Clay gak pulang, ayah akan memblokir kartu Clay. Percuma!" decak nya malas.
Memang benar, dirinya sudah di ancam oleh ayah nya. Karena sejak kepergian nya lima tahun yang lalu, Clay sama sekali belum pernah pulang ke Indonesia. Selalu saja bunda Ella dan ayah Stive yang mengunjungi ke sana. Alasan nya simple, karena Clay tidak mau bertemu dengan Jesika. Dan sekarang, dirinya mau pulang karena mendengar kabar bahwa Jesika juga sudah menetap di luar Vietnam bersama orang tua nya. Untuk mengurus anak perusahaan ayah Stive di sana.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak mau melihat adik kamu hem?" tanya bunda Ella dengan lembut.
Clay menghela nafas sedikit berat, lalu ia menghampiri sang bunda dan adik baru nya.
Bayi mungil dengan bulu mata yang begitu lentik dan rambut yang lumayan lebat. Pipi yang begitu chuby dan bibir berwarna pink, membuat bayi mungil itu terlihat sangat menggemaskan.
Sekilas, Clay kembali teringat saat Jesika bayi, ia juga sangat lucu dan menggemaskan. Namun saat sudah besar, ternyata sikap gadis itu berubah menjadi sangat menyebalkan. Dan itulah yang membuat Clay sedikit takut kepada adik nya nanti.
"Bun, apakah dia nanti juga akan sepertu Jeje?" tanya Clay tiba tiba sambil menatap wajah bayi mungil di depan nya.
"Astgaa, Sayang. Kamu sudah sebesar ini kenapa masih mengingat Jesika?" tanya bunda Ella meng geleng kan kepala.
"Apapun itu, dia adik kamu. Kanu harus menyayangi dia, mengerti Clay!" kata ayah Stive dengan tegas.
"Ayah sudah mau berbagi Bunda rupanya," sindir Clay tanpa menatap ayah nya.
"Welcome my sister, selamat datang di keluarga Arthajaya. Semoga kamu kuat dan tak mengalami nasib seperti kakak mu yang tampan ini." gunam Clay berbisik di telinga adik bayi nya.
"Kamu semakin besar semakin menyebalkan!" decak Stive kepada anak sulung nya.
__ADS_1
"Tidak juga, Clay semakin besar semakin tampan dan menawan!" bantah Clay tak mau kalah.
"Astaga, kenapa kalian harus selalu b bertengkar seperti ini sih! ya Tuhan!" keluh bunda Ella menghela nafas nya kasar.
"Oh iya, bunda siapa nama adik bayi nya?" tanya Clay mengalihkan pembicaraan.
"Apa kamu punya usul hem?" tanya bunda Ella tersenyum pada putra nya.
"Claudia," jawab Clay dengan cepat dan tersenyum seolah mendapatkan jackpot.
"Claudia Arthajaya, nama yang indah." kata bunda Ella langsung menyetujuinya.
"Kenapa tidak ada yang bertanya pada ayah hem?" tanya Stive seolah tak terima.
"Memang nya ayah punya usul nama lain?" tanya Clay balik.
"Gak ada!" jawab Stiven polos, membuat Clay dan juga Ella langsung menatap nya horor.
Berikutnya, ruangan itu di penuhi okeh debatan debaran kecil antara Clay dan juga Stive. Memang benar, sejak dulu hubungan ayah dan anak itu kurang baik. Namun meski begitu keduanya saling menyayangi, hanya saja dengan cara yang berbeda. dari yang lain. Untuk orang awam yang melihat perdebatan mereka maka akan mengira bahwa hubungan mereka tidak harmonis, namun untuk yang sudah biasa melihatnya maka akan merasa senang dan bahkan bila mereka tidak berdebat berati hubungan keduanya sedang tidak baik baik saja.
__ADS_1