
Stive langsung terdiam di kursi nya, saat mendengar alasan Hendra begitu membenci nya. Ah, bukan membenci nya, lebih tepatnya, Hendra membenci ayah nya. Tuan Artha, atau Arthajaya. Tuan Artha dan Hendra, dulu sempat berteman saat masa kuliah, mereka menyukai satu orang wanita yang sama. Hendra lebih dulu menyukai wanita itu, namun ternyata dia lebih menyukai Artha di banding dirinya.
Hendra berusaha mengikhlaskan gadis itu, ia pergi keluar negri untuk menghindar, ia tak ingin terus merasa tersakiti melihat kebahagiaan Artha dan gadis itu. Namun ternyata, Artha dan gadis itu berhubungan tak lama, karena ternyata Artha menghamili Melanie, membuat gadis itu bunuh diri. Hendra tidak mengetahui kejadian itu, dan ia baru mengetahui setelah beberapa tahun berlalu, saat Hendra dan Artha bertemu kembali dan ternyata Artha sudah bersama melanie dan Stive.
Hendra tak tinggal diam, ia terus mencari infomasi tentang kejadian itu, hingga ia menemukan fakta yang begitu menyesakkan. Melanie lah yang menjebak Artha agar menikahi nya, dan membuat gadis itu pergi untuk selama lamanya. Akhirnya, Hendra memutuskan untuk menetap dan membalaskan dendam pada keluarga Artha.
__ADS_1
Sejujurnya, Hendra tidak sepenuhnya menyalahkan Melanie maupun Artha, terkadang ia juga menyalahkan dirinya sendiri, tidak seharusnya dulu dirinya pergi. Andai ia tetap bertahan, maka ia bisa mencegah agar gadis yang di cintai nya tidak memilih jalan buntu. Nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa mengembalikan waktu, maka dari itu ia berusaha membalaskan dendam dengan cara membuat keluarga Artha dan Melanie menderita.
Dan teruntuk Jasmine, ia memanglah bukan anak Hendra, Jasmine adalah anak yang ia ambil dari jalanan. Bila biasanya ia hanya memungut anak laki- laki, namun entah mengapa dulu saat dirinya melihat Jasmine ia begitu terpesona dan hatinya terenyuh, saat melihat bayi mungil yang di tergeletak di pinggiran jurang.
Saat itu, Stive tidak berada di Indonesia. Karena sejak Hendra dan Melanie menikah, Stive memutuskan untuk tinggal di luar negri, dan ia baru kembali saat SMP. Maka dari itu, dulu ia tidak tahu bahwa Jasmine bukanlah anak kandung mama nya.
__ADS_1
“Maka dari itu, bunuh lah iblis ini agar aku tidak membunuh mu, hahaha!” Hendra masih bisa tertawa, walau mata nya sudah memerah menahan tangis. Stive bisa melihat itu.
“Apakah kau sebegitu nya ingin mati? Ah, atau kau begitu tidak sabar untuk bertemu orang tua ku, atau gadis yang kau sebut tadi?” cibir Stive dan bersiap dengan belati nya.
“Hahaha, aku sudah tidak sudi bertemu penghianat seperti mereka. Tentu saja, agar aku bisa bertemu wanita ku. Karena tidak seharusnya dulu aku meninggalkan nya, andai aku tidak pergi, maka papa mu tidak akan pernah menyakiti nya!Kau sama baji ngan nya dengan Artha! Bajingann!” teriak Hendra di sisa tenaga nya.
__ADS_1
“Mengapa kau salahkan papa ku? Salahkan diri mu sendiri!” ucap Stive seraya menekan ujung belatinya tepat di daadaa Hendra.
“Dan juga, kalau pun kau tidak pergi waktu itu, apakah kau yakin, perempuan itu mau dengan mu? Dia begitu cinta mati pada papa ku, maka dari itu, dia rela mati daripada move on dan mencari pengganti.” Ucap Stive mencibir, membuat Hendra tidak terima dan terus berusaha memberontak melepaskan ikatan nya.