
Hari berganti hari dengan begitu cepat, kini kesehatan Stive sudah membaik dengan sepenuhnya. Ella pun juga sudah menyelesaikan sekolah nya, tepat di hari wisuda, Stive datang bersama dengan Jasmine dan juga Jhon.
"Kenapa kau disini?" tanya Ella mengerutkan dahinya menatap Stive dengan intens.
"Untuk membawa mu pergi, memang nya apa lagi," jawab Stive begitu santai, membuat Ella hanya bisa menghela nafas nya berat.
"El, selamat yah. Hebat loh, kamu udah lulus di umur 18 yang belum genap. Iks aku iri," kata Jasmine mengulurkan tangan pada Ella, lalu memeluk nya.
"Makanya, jangan terlalu bodoh!" saut Stive menghela nafas kasar.
"Kakak, aku tidak bodoh! hanya saja dulu guru ku terlalu menyayangi ku, makanya mereka tak membiarkan ku lulus dengan cepat!" ralat Jasmine memanyunkan bibir nya.
"Memang nya? berapa?" tanya Ella mengerutkan dahinya lagi, pasalnya bukankah di umur nya yang segitu wajar untuk lulus SMA.
"Dua puluh satu," jawab Jhon dengan ekspresi datar.
"Hah!" Ella begitu terkejut saat mendengar ucapan Jhon, sementara Jasmine sudah siap ancang ancang untuk mengomeli pria kanebo tersebut.
"Hey, jangan sok tau yah! mana ada dua puluh satu, umur ku dulu belum sampai segitu! dasar kanebo tukang fitnah!"
__ADS_1
"Hanya kurang dua bulan lagi Jas," desis Stive pusing.
"Tetap saja, kurang dua bulan juga masih belum bisa di sebut dua puluh satu. Dulu masih dua puluh!"
"Terserah," kata Stive mengalah, "Ayo, kita pergi. Biarkan mereka terus berdebat!" Stive menggandeng tangan Ella, lalu mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat.
"Kakak! terus Jasmine gimana?" teriak Jasmine saat kakak nya hendak pergi dengan mobil nya.
"Taxi masih banyak! atau kau bisa tanyakan Jhon, dia punya seribu satu cara untuk pulang!" kata Stive santai.
"Kamu gak kasian sama mereka?" tanya Ella saat melihat ke arah belakang dan melihat dua manusia itu masih terus menatap kepergian mobil nya.
"Heeemm."
"El, ada yang mau aku bicarakan sama kamu."
"Apa?" tanya Ella, namun Stive hanya diam dan fokus pada setir nya. Kini, mobil yang di tumpangi Stive sudah sampai di tempat tujuan.
"Ngapain kita kesini?" tanya Ella melihat sekeliling.
__ADS_1
"Hanya ingin bersantai," jawab Stive lalu ia mencari tempat duduk.
Kini, keduanya duduk di sebuah bangku yang berada di bawah pohon. Stive hanya diam dan menatap lurus ke depan, bayangan demi bayangan masa lalunya saat berada di taman tersebut membuat nya kembali di landa kebingungan.
"Stive," panggil Ella karena sedari tadi sudah hampir satu jam mereka hanya berdiam diri, sibuk dengan pikiran masing masing.
"Stive, aku lapar. Kalau memang tidak ada hal penting yang di bicarakan, bisakah kita pergi dan mencari makan?" kata Ella memelas.
"Apa kamu tahu tempat apa ini?" tanya Stive dengan ekspresi datar.
"Ini Taman sudah lama di tutup. Aku tidak tahu," jawab Ella.
"Kenapa di tutup?"
"Aku gak tau."
"Karena dulu ada sebuah tragedi mengenaskan disini. Pertarungan, yang menyebabkan nyawa seseorang hilang. Bahkan, karena pertarungan itu, membuat sebuah keluarga hancur."
"Stive—" Ella menatap Stive dengan intens.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku sudah membunuh seseorang?" tanya Stive menatap Ella dengan begitu intens, sementara Ella hanya bisa menela Saliva nya saat melihat wajah Stive yang begitu serius dan semakin terlihat seram.