
“Stive, masuklah!” teriak Ella dari dalam kamar Jasmine.
Cklek!
Menghela nafas lega, akhirnya Stive masuk ke kamar Jasmine untuk memberikan surat dari mendiang ibu nya.
“Apa ini kak?” tanya Jasmine mengerutkan dahi.
“Dari Mama!” jawab Stive dengan datar, dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Jasmine membuka surat tersebut.
Setelah beberapa menit, Stive bisa melihat mata Jasmine kembali berkaca-kaca, lalu Stive merebut kembali surat itu dan membaca nya. ( Pura-pura membaca nya lagi maksud nya)
“Siapa yang kalian maksud Dia?” tanya Stive menatap curiga pada Jasmine yang kini nampak menundukkan kepala nya.
“Jas-Jasmine tidak tahu kak. Jasmine tidak mengerti dengan apa yang di katakan mama,” jawab nya lirih dan penuh ketakutan.
__ADS_1
“Jasmine, jangan memancing emosi ku! Sangat jelas di situ di tulis oleh mama bahwa kamu bisa menghentikan dia, siapa itu dia!” seru Stive.
“Stive, bisakah kamu bicara baik-baik. Tunggu lah saat Jasmine tenang dulu, jangan terus menekan nya seperti ini, yang ada kau akan menakuti nya!” kata Ella ikut bicara.
“Kamu diam! Ini bukan urusan kamu!” tunjuk Stive marah pada Ella.
“Memang benar ini bukan urusan aku! Ini urusan kalian, ini keluarga kalian, aku hanya orang lain disini! Tapi tolong ngerti, Jasmine itu adik kamu, dia seorang wanita, tidak seharus nya kamu memperlakukan dia dengan kasar! Aku kau siksa sudah biasa, karena aku hanya budak mu, tapi dia adik kamu! Bahkan mama kamu sangat menyayangi nya, tidak bisa kah kamu menyayangi nya juga seperti mama kamu menyayangi dia!” sungut Ella dengan penuh emosi menjawab ucapan Stive.
“Ella, sudah cukup! Jangan terus membela ku!” bisik Jasmine takut, terlebih saat ia melihat pancaran api kemarahan menyorot tajam di mata sang kakak saat menatap Ella.
“Kakak tunggu, jangan. Biarkan dia disini, kakak!” pinta Jasmine berusaha mencegah Stive membawa Ella.
“Diam kamu!” bentak Stive kepada Jasmine, “Katakan yang sebenar nya, atau kau angkat kaki dari rumah ini!” tekan Stive lalu ia kembali menarik tangan Ella dengan sangat kasar.
Ella sempat tersenyum menahan sakit saat Jasmine menatap nya, sementara Jasmine hanya bisa berdiam diri di depan kamar nya sambil menggigit bibir bawah nya. Ia bingung harus berbuat bagaimana. Ia bagai memakan buah simalakama, bila ia jujur maka seseorang akan hancur, tapi bila ia tidak jujur maka Ella, orang yang sudah membantu nya dan baru dekat dengan nya juga terancam di tangan kakak nya.
__ADS_1
Braakk!
Stive membuka pintu nya dengan kasar, lalu ia melemparkan tubuh Ella ke tempat tidur, membuat Ella sedikit meringis kesakitan. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa sakit nya itu, ia tahu bahwa Stive memang sedang di landa kemarahan besar karena kehilangan ibu nya.
“Sepertinya kau sudah melupakan status mu Ella, kau bertingkah semau mu, dan berperan seolah kau lah ang utama bagiku!” ucap Stive penuh penekanan sambil mencengkram dagu Ella.
“Tidak, aku tidak pernah berfikir bahwa akulah yang utama bagimu, aku cukup sadar diri siapa aku. Aku hanyalah budak yang kau ambil dari tempat pelacuran! Aku hanyalah penebus hutang kakak ku!” jawab Ella menatap tajam mata Stive, hingga membuat mata mereka saling pandang satu sama lain.
Drrtt ... Drrtt...
Saat mereka sedang saling menatap, tiba- tiba suara getaran HP dari saku Stive membuyarkan lamunan keduanya, Ella segera membuang muka ke samping dan menghapus air mata nya. Sementara Stive langsung bangkit dan mengangkat panggilan telfon tersebut.
“..... “
“Baiklah, aku ke sana sekarang!” kata Stive singkat, lalu ia segera mematikan sambungan telfon nya. Dan bergegas menuju tempat yang di maksud, meninggalkan Ella sendiri dengan isak tangis nya.
__ADS_1