
“Sayang, ini bagaimana?” teriak Stive dari dalam kamar, sementara Ella yang berada di dalam kamar mandi berusaha menahan tawa nya. Ia hanya ingin memberikan suaminya pelajaran, dengan menyuruh nya mengganti popok baby Clay.
Dan Ella juga sudah berpesan agar Stive tidak membangunkan perawat baby Clay hanya untuk mengganti popok. Sementara Ella berpura pura mules agar bisa menghindar. Bukan apa, Ella begitu geram dan kesal terhadap suaminya, pasal nya sejak pulang kerja jam sembilan malam, dirinya terus di hajar oleh Stive. Hingga jam dua pagi, itupun Stive baru berhenti karena suara tangisan baby Clay.
Ela merasa bersyukur karena baby Clay terbangun, ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan menyerahkan baby Clay kepada ayah nya. Dan disinilah akhirnya, Stive selalu berteriak memanggil Ella karena ia tidak bisa mengganti pampers yang sudah penuh. Sementara baby Clay terus menangis karena merasa sangat risi.
“Aduhh, perut aku mules banget Stive. Tolonglah, sekali ini saja.” Teriak Ella dari dalam kamar mandi, lalu ia kembali terkekeh.
__ADS_1
“”Hey, jagoan, berhentilah menangis! Kuping ayah sudah penging rasanya!” omel Stive pada baby Clay. Bukan berhenti, tangis baby Clay malah semakin pecah, “Hey, ayolah, berhenti menangis. Kau itu laki laki, jadi tidak boleh menangis!” seketika itu juga baby Clay langsung berhenti menangis, ia malah menatap ayah nya yang sedang mengomel.
“Nah, begitu. Ingat Clay, kamu anak laki laki, jadi jangan menangis, oke!” Dengan perlahan, Stive mulai membuka pampers Clay. Bila Ella atau perawat yang membuka, tinggal menyobek dari samping maka akan terlepas bukan, namun Stive dengan pelan, dan teliti, melepaskan nya seperti melepas celana, meski sedikit terlihat sulit namun hingga beberapa menit, akhirnya Stive berhasil melepaskan pampers itu.
Stive segera membuang nya ke tempat sampah yang berada tak jauh dari sana, lalu ia mengambil tisu basah serta pampers yang baru. Cukup lama, hampir setengah jam, hingga Stive berhasil memakaikan baby Clay pampers dengan sempurna.
Ella menatap kagum Stive dari ambang pintu. Ia tersenyum lega sambil bersedekap tangan di daada. Sebenarnya ia tak tega dan segera ingin menghampiri Stive, namun saat ia ingin mendekat, baby Clay sudah berhenti menangis, makanya ia mengurungkan niat dan memilih menonton.
__ADS_1
Sambil tersenyum, akhirnya Ella berjalan maju menghampiri Stive dan baby Clay. Kini ia tahu, bahwa baby Clay menangis bukan lagi karena risi, melainkan kehausan, “Sini biar sama aku.” Dengan perlahan, Ella mengambil baby Clay dari ranjang nya, lalu ia mendudukkan dirinya memangku baby Clay dan segera membuka kancing baju nya.
“Sayang, kau mau apa?” tanya Stive selalu begitu setiap kali melihat istrinya hendak menyusui baby Clay.
“Diam lah! Kau itu sangat menyebalkan, ini anak mu!” sungut Ella selalu di buat kesal oleh sikap suami nya yang semakin hari semakin gila menurut nya Bagaimana tidak gila, bila Stive malah menyarankan agar baby Clay di berikan sufor saja, dengan alasan agar Ella tidak kesakitan lagi. Karena beberapa waktu lalu, saat Ella awal menyusui baby Clay, Ella selalu meringis menahan sakit. Selain itu juga, alasan utama Stive memberikan asi Ella pada baby Clay karena ia tidak mau milik nya di sentuh orang lain, meskipun itu anak nya sendiri. Bukan ia tak sayang dengan baby Clay, tapi ia lebih sayang pada Ella.
.
__ADS_1
.
Lagi gak??? komen yah buat lanjut ...