My Psycho Husband

My Psycho Husband
Menantang


__ADS_3

“Sudah berapa banyak kau mengusik hidupku? Berapa banyak peringatan yang sudah ku berikan padamu? Cih, laki- laki tua seperti mu, sama sekali tidak pantas di kasih hati!” ucap Stive menatap tajam pada Hendra yang kini tengah berdiri dengan kaki dan tangan yang di ikat rantai.


“Bocah seperti mu tau apa hah!” Bukan takut melihat Stive, Hendra malah semakin menantang tanpa rasa takut.


Ibarat bara api, harusnya Hendra berusaha memadamkan nya, namun yang ia lakukan kini malah menyiram nya dengan bahan bakar, sehingga membuat amarah Stive kian memuncak.


“Hah, sepertinya, kau tidak pernah jera dengan hukuman yang selama ini ku berikan.”


“Lebih baik kau membunuhku, sebelum aku yang akan membunuh mu.” Ucap Hendra dengan di sertai tawa yang begitu menggelegar.


Walau keadaan nya kini sudah lemah tak berdaya, namun ia masih memiliki kekuatan untuk membangkitkan amarah Stive. Luka yang di berikan oleh Bayu dan Jhon tempo hari masih sangat terasa menyakitkan untuk nya, wajah nya sudah hancur dan penuh dengan luka lebam. Bahkan kini, kaki nya sudah hampir tak merasakan apapun.

__ADS_1


“Wow, kau mau membunuh ku? Silahkan, coba saja kalau kau bisa. Aku penasaran, kira – kira, apa yang bisa di lakukan oleh manusia sampah seperti mu,” tantang Stive, kini ia mendekati Hendra sambil membawa sebuah belati di tangan nya.


“Hahahaha, kau takut dengan ancaman ku?” kata Hendra kembali tertawa.


“Kenapa kau sangat ingin menghancurkan ku hem? Apakah tidak cukup untuk mu sudah membunuh ibu ku yang juga istri mu?” tanya Stive pada akhirnya.


“Istri? Hahaha, wanita sampah kaya dia mana bisa di sebut istri. Kau tahu, bahkan sejak menikah dengan ibu mu, aku tidak sudi untuk menyentuh nya!” ujar Hendra.


Stive langsung menusuk pipi kanan Hendra dan sedikit menarik belati nya hingga pipi itu sobek. Darah nya mengucur deras, namun Hendra masih tersadar, bukan meminta maaf atas ucapan nya, ia malah semakin tertawa mendapatkan siksaan dari Stive.


“Kau yang sampah! Laki- laki tidak berguna!” umpat Stive begitu emosi.

__ADS_1


Hatinya begitu bergemuruh, bagaimana bisa laki laki yang sudah hidup dengan nya belasan tahun, yang ia anggap suami dari ibu kandung nya, malah ternyata tega mengatakan hal seperti itu. Bila memnag Hendra membenci nya, ia masih memaklumi nya, namun ini ia juga mengatakan bahwa ia membenci ibu nya. Lantas untuk apa Hendra menikahi Melanie?


“Untuk apa kau menikahi Mama ku hah! Aku yakin, bukan hanya semata – mata untuk harta seperti yang kau katakan selama ini!” tanya Stive lagi dengan penuh penekanan.


“Hahaha, apakah kau begitu penasaran? Bagaimana bila ini di sebut karma?” ucap Hendra masih dengan senyum mengembang di wajah nya. Walau kini, pipi nya sudah sobek dan darah terus mengucur, namun Hendra masih berusaha berbicara dan menantang Stive.


“Katakan bangsaattt!” teriak Stive dan hendak menancapkan pisau nya lagi di pipi sebelah kiri Hendra.


“Tuan, hentikan.” Ujar Jhon yang tiba- tiba masuk dan menahan tangan Stive, “Jangan kotori tangan Anda. Ingat Nona Ella di rumah. Dan juga, bila anda membunuh nya sekarang, maka anda tidak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan anda. Dan juga, bukan kah kematian, terlalu indah untuk manusia seperti nya?”


Stive mencerna ucapan Jhon yang ada benarnya. Dosa Hendra begitu banyak, tidak sepantas nya ia mati dengan begitu mudah. Ia pun menghela nafas nya dengan panjang, berusaha mengontrol emosi nya agar tidak lepas kendali dan membunuh Hendra sekarang.

__ADS_1


__ADS_2