My Psycho Husband

My Psycho Husband
Apakah terlihat?


__ADS_3

“Stive, kau itu sangat menyebalkan!” sungut Ella begitu kesal, ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polos nya.


“Kenapa aku yang menyebalkan? Kamu memuji ketampanan pria lain di depan ku, tentu saja aku marah. Dan itu, hukuman buat kamu, cup!” kata Stive santai, dania langsung mengecup kening Ella dengan lembut.


“Aku tidak memuji siapapun. Aku hanya berbicara fakta, memang begitu, dan kamu tau tadi aku sedang melakukan panggilan video dengan Jasmine. Astaga Jasmine!” seru Ella langsung beranjak dari tempat tidur mencari keberadaan laptop nya yang ternyata sudah berada di lantai.


“Stive, sejak kapan laptop nya pindah tempat? Apakah tadi Jasmine melihat—" Ella menutup mulut nya dengan satu tangan nya, ia menatap Stive yang terlihat sangat cuek dan tidak perduli.


“Biarkanlah, kenapa kamu memikirkan Jasmine, lebih baik kamu memikirkan aku,” Stive langsung menarik tangan Ella dan kembali membawa nya ke dalam pelukan. “Maaf Sayang, papa tidak sengaja,” desis Stive saat melihat Ella sedikit meringis, ia langsung mengusap perut besar Ella dan menghujani nya dengan ciuman.

__ADS_1


“Tapi Stive, bagaimana bila benar, Jasmine melihat kita sedang itu,” cicit Ella begitu pelan, sungguh otaknya kini tidak bisa berfikir tenang, ia begitu resah dan gelisah. Takut, sudah pasti, namun lihatlah suami tiada akhlak nya, kini malah terlihat santai dan mengobrol dengan sang calon jabang bayi.


“Kalau pun dia melihat nya, biarkan saja. Dia sudah dewasa, dan sebentar lagi, dia akan merasakan nya,” kata Stive begitu santai.


“Yaaakkk!” pekik Ella dan langsung memukul punggung suaminya, “Kamu itu benar benar menyebalkan!”


Meski bukan kali pertama atau kedua, ia mendengar kata- kata atau ungkapan abstruk dari Stive, namun tetap saja, ia selalu merasa malu.


“Sayang, sekali lagi ayo, daripada kamu memikirkan duo JJ kamu itu, lebih baik kamu memikirkan kami.”

__ADS_1


“Kami? Kami siapa? Yang harusnya menyebut KAMI itu aku, karena aku sedang mengandung jadi KAMI, lah kamu, apanya yang kami, kamu ya kamu, Cuma satu.” Kata Ella sedikit cemberut, tak habis pikir dan tak mengerti dengan cara berfikir suami nya.


“Kami, maksud ku, aku dan dia.” Ucap Stive mengambil tangan Ella dan meletakkan nya pada sang adik, seketika membuat Ella langsung terkejut dan menatap Stive dnegan tatapan horor, “Dia masih mau bermain,” bisiknya.


“Enggak!” Ella segera menjauh dari Stive, ia sudah siaga empat, melihat wajah Stive yang terus tersenyum lebar seperti itu, malah membuat Ella merasa takut, “Kamu itu bener- bener Stive. Kita baru saja selesai loh, aku capek. Kamu gak ada capek nya!”


“Kalau kamu capek, kamu diam saja. Cukup diam, pejamkan mata dan nikmati,” ujar Stive yang kini sudha berada di atas tubuh Ella.


Meski sekuat apapun Ella menolak dan mencoba menghindar, namun bukan Stive namanya, bila ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk kepuasan batin nya, mulut Ella memang selalu berkata tidak di awal,, namun Stive selalu berhasil membuat mulut Ella terus mengeluarkan suara suara merdu saat sampai di pertengahan dan akhir dari perjalanan mereka menuju puncak.

__ADS_1


__ADS_2