
“Assalamuaikum, Bapak, Ibu!” panggil Ella saat mengetuk pintu rumah nya.
Cklek!
Ella langsung tersenyum lebar saat melihat ibu tirinya membuka yang membuka pintu. Begitu pun dengan Ratih yang sedikit terkejut saat melihat kedatangan Ella. Ia sangat pangling karena penampilan Ella kini sangat jauh berbeda dari yang dulu sebelum pergi dari rumah.
Kini penampilan Ella terlihat sangat elegan dan berkelas, dengan dress selutut dan berlengan panjang, rambut ia ikat kesamping serta sepatu hak yang tak terlalu tinggi. Bahkan kini kulit dan wajah Ella terlihat sangat halus dan mulus.
“Ella,” gumam Ratih menatap tak percaya pada anak tiri nya.
“Woahh, lihat siapa ini yang datang!” saut Anggia dari belakang Ratih, dan kini ia langsung menghampiri Ella yang masih berdiri di depan pintu.
__ADS_1
“Sukses kan lo jadi pecun. Apa gue bilang, lo itu cocok jadi pecun. Lihat aja penampilan lo sekarang,” cibir Anggia sambil bersedekap tangan di dadaa.
“Anggia, jangan begini.” Tegur Ratih menatap tak suka pada Anggia.
“Cih, Ibu mentang mentang sekarang dia udah jadi pecun dan banyak duit, makanya Ibu belain dia. Hah, sangat lucu sekali!” sindir Anggia, namun Ratih masih bergeming dan tak memperdulikan Anggia.
“Ibu dan kakak apa kabar?’ tanya Ella lembut dan masih sopan.
“kabar gue buruk!” saut Anggia ketus.
Entah mengapa, hati Ella sedikit sakit saat melihat sorot mata ibu tirinya. Tidak ada kemarahan atau kebencian, namun Ella merasa bahwa ibu tirinya tengah merasa bersedih dengan kedatangan nya.
__ADS_1
“Ibu tunggu!” Ella menahan tangan ibu Ratih, lalu ia memberikan bingkisan pada ibunya, “Aku belikan untuk Ibu. Bukankah, ibu dulu sangat menginginkan nya?” tanya Ella, untuk sesaat Ratih menatap paper bag itu, terlihat dengan jelas barang apa yang di berikan oleh Ella.
Sebuah HP pengeluaran terbaru, Handphone yang memang dulu pernah ia impikan. Tapi entah mengapa kini ia tidak merasa senang sama sekali ketika mendapatkan barang itu.
“Woahh, gila lo beliin handphone buat ibu semahal ini!” seru Anggia dan langsung merebut bingkisan di tangan ibu nya.
“Kakak, itu punya Ibu!” Ella langsung mengambil lagi bingkisan dari tangan Anggia dan memberikan nya pada ibu nya.
“Heh pecun, ini ibu gue. Dan karena ini udah lo kasih jadi ibu gue gak akan keberatan kalau gue yang pake! Yaelah, pecun kaya lo mah cari beginian juga sekali ngangkang dapet!” kata Anggia lagi begitu menohok hati Ella.
“Anggia!” bentak ibu Ratih pada akhirnya, ia juga sangat jengah sedari tadi menahan kesal karena mendengar sindiran serta kata kata tak pantas yang di ucapkan oleh putri kandung nya.
__ADS_1
“Ibu bentak Anggia!” kata Anggia tak percaya, “hebat lo La, baru dua bulan jadi pecun udah sekaya ini dan hasilnya gue jadi anak pungut. Hebattt! Teruskan La, dan jangan lupa beli cream biar selangka ngan lo gak lecet akibat kebanyakan yang masuk!” kata Anggia lalu ia membanting Handphone yang di belikan oleh Ella tadi untuk ibu nya.
Anggia langsung pergi ke kamar nya dan membanting pintu kamar. Membuat Ela dan Ratih menghela napas nya dengan berat.