
“Stive, berhenti!” Ella langsung menahan tubuh Stive yang kini masih berada di atas nya.
“Sayang, sedikit lagi.” Stive masih terus bergerak untuk mengejar pelepasan nya, namun lagi agi konsentrasinya ambyar karena Ella terus menyuruh nya berhenti.
“Stive, hentikan. Sakit Stive, sakit.. “ ringis Ella memaksa Stive untuk berhenti saat itu juga.
“Sayang, aku—"
“Stive sakitttt!” jerit Ella semakin histeris, membuat Stive mau tak mau langsung mencabut adik nya dan menatap istrinya dengan tatapan bingung.
Untuk beberapa detik, otak Stive masih terdiam, hingga tiba tiba Ella menarik rambut nya dan semakin menjerit histeris, “Stive, perut ku sakit.”
Dan saat itu juga, Stive langsung tersadar, karena saat Ella mengatakan bahwa perutnya sakit, ia juga ikut merasakan ada sesuatu yang basah di bawah selimut nya.
__ADS_1
“Ka—kamu kenapa? Ini kenapa basah begini,” Stive sempat heran saat melihat kondisi tempat tidur nya. Padahal, seingat nya mereka tidak ada yang sampai mengotori sprei begitu banyak seperti itu.
“Stive, sepertinya a- air ketuban ku pecah.” Ella kini sudah tidak berteriak, ia mengingat kembali kata kata yang di ucapkan oleh pembimbing senam nya. Bahwa apa yang ia rasakan saat ini, adalah salah satu tanda melahirkan. Sekuat tenaga, Ella mengatur nafas nya untuk mengurangi rasa sakit nya.
“Me—melahirkan? Mak- maksud mu?” Stive yang masih terkejut, hingga kini otak nya masih terasa lelet di ajak berfikir.
“Iya Stive, melahirkan. Cepat, aku gak tahan,” ujar Ella terus meringis menahan sakit luar biasa.
“Astagfirullah Stiven Arthajaya! Aku gak kuatttt!” teriak Ella lagi pada akhirnya. Rasanya ia tidak memiliki tenaga lagi untuk menjelaskan pada suaminya, mengapa air ketuban nya sudah pecah sebeleum waktu nya.
“Tu- tunggu sebentar. Aku bersiap dulu,” Dengan cepat ia segera membuka selimut, dan ternyata sudah banyak air yang membasahi sprei dan nya. Tubuh keduanya masih polos, dengan keadaan panik, Stive segera turun dan berlari ke walk in closed untuk mencari pakaian.
Tak berapa lama, ia kembali dengan membawakan pakaian untuk Ella, “Kita ke rumah sakit?” Stive segera memakaikan Ella sebuah baju terusan tanpa memakai baju dalam. Lalu ia segera menggendong nya menuruni tangga sambil terus berteriak memanggil supir nya.
__ADS_1
Ia tidak mau mengambil resiko, saat panik ia tidak mau membawa mobil sendiri. Sepanjang perjalanan, Ella terus meringis dan tak hentinya menjambak serta mencakar tubuh Stive. Air matanya menetes tanpa permisi, namun ia tidak terisak, hanya air mata saja yang lolos.
“Apakah sesakit itu?” tanya Stive tak tega saat melihat wajah Ella yang begitu menyedihkan, rambutnya masih berantakan, serta peluh semakin membanjiri kening dan wajah nya.
“Sakitt,” rintih Ella semakin mencengkram lengan Stive saat kontraksi itu datang kembali.
“Maafkan aku yang tidak peka,” ujar Stive menciumi pucuk kepala Stive.
“Stive, sakittt. Pengen nangis hiks hiks.”
“Sudah cukup, aku tidak mau lagi kamu hamil. Cukup ini yang pertama dan terakhir, aku gak mau punya anak lagi, aku gak mau lihat kamu kesakitan seperti ini lagi,” tiba tiba saja Stive menangis dan langsung memeluk kepala Ella.
Sementara Ella langsung menghela nafas nya dengan berat sambil menangis. Memang awalnya, ia tidak ingin menangis, namun suasana saat mendukung air matanya untuk lolos, dan juga setidaknya, daripada ia teriak dan membuat panik, mungkin menangis lebih baik, pikir nya.
__ADS_1