
“Tuan, anda tidak apa?” tanya Jhon saat melihat Stive sudah mulai sadar dan membuka matanya.
“Menurut mu!” seru Stive lalu ia kembali meringis, ia begitu kesal dengan Jhon lantaran ia terlambat datang.
“Maaf Tuan, tadi saya—"
“Sudahlah, jangan banyak bicara. Bagaimana para cicak nya? Sudah matang kah? Atau hanya gosong saja?”
“Saat ledakan, mereka sudah berada di luar ruangan Tuan, namun sepertinya tuan Marko terkena sedikit benturan, sementara nona Mawar baik-baik saja.”
“Wow, pasangan luar biasa. Pecundang itu pasti menyelamatkan dewi ular nya,” cibir Stive mengepalkan kedua tangan nya dengan kuat.
Sementara Jhon yang melihat kilatan api amarah di wajah Stive, langsung terdiam dan memilih pergi. Ia tahu bagaimana perasaan Stive, karena ia lah yang mengetahui bagaimana dulu Stive sangat mencintai gadis itu. Meskipun kini Jhon juga tahu bahwa sudah ada Ella di hati Stve, namun Jhon masih bisa melihat bahwa Stive belum sepenuhnya bisa melupakan perasaan nya pada Mawar.
“Siapa yang menyuruh mu untuk pergi!” ringis Stive menahan luka nya dan menatap tajam pada Jhon.
“Maaf Tuan, saya pikir—"
“Apa yang kau pikirkan Jhon! Cepat panggilkan Marcel!”
__ADS_1
“Baik Tuan,” Jhon pun kembali membalikkan tubuh nya sambil terus menggerutu, tadi dirinya di larang keluar, dan kini di suruh keluar.
Menghela napas kasar, Jhon pun bergumam dalam hatinya, ‘Bos gak ada akhlak!’
Ia pun langsung memanggil Marcel yang kini tengah berada di ruang tamu bersama Jasmine.
“Di panggil!” kata Jhon menepuk pundak Marcel hingga membuat sang empunya terkejut.
“Iks, kau itu tidak bisa memanggil nama ku apa? Kenapa harus mengejutkan ku!” kesal Marcel berdecak.
“Sudahlah, cepat, karena mood nya sedang tidak bagus! Sedikit saja kau menyulut api, siap-siap terbakar!” kata Jhon memberi peringatan.
“Jangan kan kalian, aku sendiri pun bingung,” ujar Jasmine menghela napas nya berat, “OH iya, Jhon bagaimana keadaan kak Marko dan papa?”
“Saya tidak tahu Nona, mungkin mereka masih berada di rumah sakit,” jawab Jhon dengan wajah datar nya.
“Jhon, apakah menurut mu mereka akan di penjara? Terutama kak Mawar karena sudah membunuh Mama?”
“Saya tidak tahu Nona.”
__ADS_1
“Jhon, kau itu sangat tidak asik dan begitu menyebalkan. Apakah suara mu begitu mahal hingga kau bicara dengan begitu irit!”
“Iya Nona."
“Astaga.” Jasmine kembali menghela napasnya frustasi, “Sudahlah, aku akan pergi!”
“Silahkan nona.” Dengan mengepalkan kedua tangan nya, Jasmine pun segera melenggang pergi meninggalkan Mansion Stive.
‘Aku heran, mereka bisa sangat irit berbicara begitu! Hanya kak Marcel saja yang tidak, astaga percuma mereka keren dan ganteng kalau sifat mereka seperti itu. Kalau kak Stive masih mending dia sudah ada Ella yang sudah menerima nya, sementara Jhon? Astaga, mana ada perempuan yang mau sama laki-laki kanebo kaya dia!’ gerutu Jasmine sepanjang jalan.
****
“Tinggalkan anak ku! Tugas mu sudah selesai, sebelum Stive menjebloskan kamu ke penjara, kau bisa pergi dari sekarang!” ucap Hendra saat berada di rumah sakit.
“Tidak tuan, saya tidak mungkin meninggalkan Marko!” Jawab Mawar menolak.
“Dia juga tidak akan membutuhkan kamu! Sebelum Stive datang dan menyeret mu lebih baik kau pergi!”
“Tidak! Kalau pun aku akan di penjara, maka kau juga akan masuk ke sana!” ancam Mawar Menatap tajam pada Hendra.
__ADS_1