
“Ka—kau sudah mengetahuinya?” gumam Marko sedikit terbata.
“Apa yang mau kau jelaskan!” wajah Stive kini sudah berubah menjadi datar, “Wanita itu lebih memilih ku karena aku lebih kaya darimu. Dimana harga dirimu yang Masih mau mempertahankan wanita seperti nya!”
“Dia tidak seperti yang kau pikir. Dia tidak seburuk itu!” bela Marko tidak terima.
“Oh yah? Lalu apa tujuan dia datang kembali lagi kesini? Hanya untuk membunuh mama? Hahaha, aku lupa, dia bukan mama mu, jadi kau tak akan kehilangan nya!”
Marko membulatkan kedua matanya dengan sempurna saat mendengar ucapan Stive, “Apa maksud mu!”
“Apa maksud ku?” tanya Stive mengerutkan dahi nya saat melihat raut wajah Marko yang begitu terkejut.
__ADS_1
“Apa kau tidak tahu bahwa ibuku sudah meninggal di tangan wanita itu? Ah, aku pikir dia selalu melapor padamu bahwa misi kalian sudah sukses.”
“Stiven! Aku tidak tahu bahwa mama sudah meninggal!” Seru Marko, memang benar Marko yang masih berada di luar negri, ia tidak tahu bahwa mama tiri nya sudah meninggal. Tujuan Mawar meminta izin padanya ingin pulang ke Indonesia karena ia ingin bertemu dengan mama keluarga nya yang sedang sakit. Ia sama sekali tidak tahu bahwa ternyata Mawar masuk ke Mansion Stive dan membunuh mama Melanie.
“Tidak mungkin Mawar melakukan itu!” kilah Marko masih membela Mawar.
“Maybe, aku tidak tahu dengan apa yang kau lakukan sekarang. Apakah kau sedang ber acting dan berpura-pura seolah tidak tahu? Aku tidak perduli, kalau kau ingin menemui wanita mu masuk saja aku tidak akan melarang mu,” ucap Stive menggeser posisi nya dan mempersilahkan Marko untuk masuk.
“Dimana kamu sembunyikan Mawar hah!” sentak Marko, satu hal yang Marko lupa, ia melakukan kesalahan, ia lupa bahwa Stive sangatlah sensitive terhadap bentakan.
Setelah beberapa detik ia baru menyadari dan ia langsung terdiam saat melihat kilatan api amarah di mata Stiven.
__ADS_1
“A- aku sudah mencarinya ke seluruh tempat, tapi aku juga tidak menemukan nya, aku yakin kamu pasti sudah menyembunyikan nya di tempat lain. Dimana kau menyembunyikan nya,” tanya Marko mencoba tidak gugup.
Stive menatap Marko dengan wajah datar nya, ia bangkit dari duduk nya lalu berjalan mendahului Marko. Ia melangkah menuju sebuah pintu yang berada di belakang kolam renang, pintu itu lah jalan masuk menuju ruang bawah tanah dimana ia menyekap Mawar.
“Persiapkan dirimu dari sekarang!” kata Stive datar sambil terus berjalan menuju ruang bawah tanah.
‘Hanya cicak kecil, mau melawan ku. Bahkan buaya sekalipun tidak berani padaku.’ Gumam Stive dalam hati sambil mengepalkan kedua tangan nya.
“Masuklah, dia ada di dalam.” Stive menunjuk ke arah pintu dimana Mawar di sekap, tanpa banyak bertanya lagi, Marko pun segera membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam.
“Mawar!” Pekik nya saat melihat keadaan Mawar di dalam ruangan itu, dirinya langsung menatap ke arah Stive, namun terlambat karena Stive langsung menutup pintu dan mengunci nya dari luar.
__ADS_1
“Cicak nya sudah masuk kandang!” gumam Stive lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.