
"Masuklah," ucap Stive saat sudah sampai di depan rumah Ella.
"Hem, terimakasih." Jawab Ella, lalu ia segera keluar dari mobil Stive dan masuk ke dalam rumah.
Stive hanya mampu menghela nafas nya dengan berat saat melihat Ella semakin menjauh dan menghilang di balik pintu rumah nya. Ia sudah mengumpulkan niatnya sejak beberapa hari yang lalu, namun hingga kini, nyatanya ia masih belum sanggup untuk jujur dan mengatakan semuanya pada Ella.
'Aku takut kamu akan pergi dan menjauhiku,' gumam Stive sambil memukul setir mobil nya.
Sementara Ella, ia kini masih berdiri dari balik jendela rumah nya. Ia menatap mobil Stive yang masih stay di tempat nya dan belum meninggalkan rumah nya.
'Sebenernya apa yang kamu sembunyikan Stive.' Ella hanya mampu bergumam dalam hatinya, sesungguhnya ia sangat penasaran dan ingin tahu, namun dirinya tidak memiliki keberanian untuk bertanya, terlebih ia sangat hafal dengan sikap Stive, ia takut akan membuatnya marah.
__ADS_1
"Ella, kenapa berdiri di situ hem?" tegur bapak nya yang ternyata sudah sejak tadi memperhatikan gerak gerik Ella.
"Bapak, enggak kok Pak. Anu itu emmtt," Ella menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal lalu ia buru-buru menutup horden agar bapak nya tidak melihat mobil Stive yang masih terparkir di luar.
"Ella, ada yang mau bapak bicarakan sama kamu," ucap pak Darto lalu ia mengajak Ella untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa Pak? kok sepertinya penting," kata Ella mengerutkan dahi.
"Maksud Bapak apa sih Pak?"
"Ella, Bapak mau meminta maaf, karena Bapak sudah membuat hidup Ella sedih selama ini. Bapak minta maaf karena kesalahan Bapak, Ella tidak pernah bahagia. Nak, sekarang kamu sudah dewasa, dan bila ada laki-laki yang datang nanti, Bapak cuma bisa berharap kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu darinya. Walau nanti kamu akan merasa sedikit terluka, tapi percayalah, Tuhan sudah menyiapkan segalanya untuk kebahagiaan kamu," ucap pak Darto panjang lebar.
__ADS_1
Bukan mengerti, kini Ella justru semakin bingung mencerna ucapan bapaknya yang panjang lebar.
"Maksud Bapak apa sih? Gimana? Ella bingung."
"Apa kamu mencintai laki-laki bernama Stive itu?" tanya pak Darto serius.
"Bapak apaan sih, enggak ih!" jawab Ella sedikit malu.
"Nak, kamu tahu rumah tangga itu tidaklah mudah. Ibarat rumah, membutuhkan pondasi dan bahan material yang kuat. Begitu juga dengan rumah tangga yang membutuhkan pondasi seperti kepercayaan, dan bahan seperti kasih sayang. Pernikahan itu menyatukan dua hati yang berbeda, mencoba mengerti pasangan masing-masing dan memahami karakter nya, akan membuat rumah tangga kamu bertahan nanti. Tapi, jika rasa percaya tidak ada, maka rumah itu akan hancur perlahan."
"Ella, semua manusia di ciptakan berpasangan. Dan semua manusia tidak ada yang sempurna, kamu tahu itu, manusia tempatnya salah, dan tugas kita juga saling memaafkan. Bila nanti kamu menemukan seseorang yang membuat mu sakit, cobalah untuk memaafkan dan berdamai dengan diri kamu sendiri. Hanya itu pesan Bapak sama kamu." Ella hanya terdiam mendengarkan nasehat dari bapak nya.
__ADS_1
Dalam hati, ia berfikir keras, mencerna setiap ucapan bapak nya dan juga perilaku Stive. Entah mengapa kini ia mulai memiliki firasat bahwa apa yang mereka katakan saling bersangkutan.