My Psycho Husband

My Psycho Husband
Hanya kita berdua


__ADS_3

Pagi harinya, Ella terbangun saat merasakan sebuah lengan kekar yang melingkar di perutnya. Kini keadaan nya sudah membaik setelah semalaman ia menghabiskan dua botol infus. Dua jam setelah Marcel pulang, Stive kembali menghubungi nya lantaran Ella belum juga mau sadar, hingga akhirnya Marcel menyarankan agar di infus, karena memang perut Ella benar- benar kosong.


Eugghh


Ella meregangkan otot nya, ia mencoba melepaskan pelukan Stive, namun Stive malah semakin mengeratkan pelukan nya pada perut nya, membuat Ella menghela napas nya berat.


“Tuan, lepaskan.” Ella sengaja memanggil Stive dengan Tuan kembali, ia masih mengingat dengan begitu jelas bagaimana wajah Stive saat membentak nya, dan kini tujuan nya adalah ingin mengganti bunga mawar itu kembali seperti semula.


“Mau kemana?” tanya Stive tanpa membuka matanya.


“Mandi, terus ke bawah.”


“Mau apa?’


“Mau mengganti mawar nya lagi agar tuan tidak marah padaku,” cicit Ella pelan.

__ADS_1


Stive membuka matanya, ia bisa melihat wajah Ella yang kembali sendu, membuatnya menghela napas berat. Ia ulurkan tangan nya untuk mengusap wajah Ella dengan lembut. Sungguh ia sangat menyesal karena sudah menyakiti hati wanita kecil tersebut.


“Apa kau mau membuat ku marah lagi hem?” tanya Stive sambil memainkan anakan rambut di wajah Ella.


“Justru karena aku tak ingin membuat mu marah, maka aku akan memperbaiki nya,” kata Ella membela diri, “Padahal kemarin aku sudah meminta izin pada nyonya Melanie, dia mengizinkan ku. Lalu mengapa kau malah membentak ku dan memarahi ku? Apakah itu bunga milik mu?”


Stive hanya terdiam mendengar ucapan Ela. Memang benar, itu bunga bukan milik ibunya, dan ia lah yang meletakkan di sana. Walau sudah sangat lama, namun dirinya masih belum bisa melupakan mawar tersebut. Entah mengapa dirinya begitu sulit menghilangkan mawar putih dari hidup nya.


“Biarkan saja, bila kau menyukai nya.” Ujar Stive pelan, namun masih mampu di dengar oleh Ella.


“Apakah aku harus memberikan mu jawaban karena perubahan ucapan ku” tanya Stive menatap tajam pada Ella.


“Tentu saja, agar aku tak merasa percuma sudah pingsan karena mu.” Jawab Ella sedikit kesal, “Tapi Aku lapar.”


“Ayo turun,” tanpa berkata lagi, Stive langsung menggendong tubuh Ella keluar kamar.

__ADS_1


Ella sedikit terkejut dengan perlakuan Stive, namun ia segera bisa menguasai dirinya. Ella langsung mengalungkan tangan nya pada leher Stive, sejujurnya ia sangat malu karena banyak pelayan yang menatap padanya.


“Mau apa?” tanya Stive kembali perhatian padanya.


“Aku bisa mengambilnya sendiri,” cicit Ella pelan.


“Apa kau risi dengan mereka?” tanya Stive, namun Ella hanya menundukkan kepalanya.


“Kalian semua, tinggalkan kami. Dua jam baru kalian bisa masuk kembali ke dalam rumah!” ujar Stive begitu dingin, tentu saja hal itu membuat Ella terkejut, menurut nya Stive sangat berlebihan, dan ia tidak mau beberapa pelayan semakin tidak menyukainya.


“Stive, tidak seperti itu juga,” desis Ella merasa tak enak.


“Aku akan melakukan apapun agar kamu nyaman dan juga maan. Tentu saja kamu harus bahagia disini, karena aku gak mau membuat mu menderita lagi, jadi mulai hari ini kau tidak akan membiarkan kamu kesulitan.”


“Kemana semua orang? Apakah benar hanya ada kita berdua?” tanya Ella sat tidak melihat keberadaan Jasmine dan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2