
"Ella," panggil Jasmine saat Ella membuka pintu.
"Jasmine! mengapa kau bisa ada disini?" tanya Ella terkejut.
"Ada yang ingin aku katakan sama kamu," ujar Jasmine pelan, lalu ia pun mengajak Ella untuk pergi ke suatu tempat.
Setelah mendapatkan izin dari bapak nya, Lelah pun pergi bersama Jasmine. Sesungguh nya ia juga sudah sangat kesepian dan membutuhkan teman. Sudah satu minggu dirinya di rumah dan tidak pernah keluar sebentar pun, bahkan halaman depan rumahnya saja, rasanya begitu enggan bagi Ella.
"Ada apa Jasmine? katakan," ucap Ella, saat ini keduanya sudah berada di sebuah taman yang tak jauh dari rumah Ella. Duduk di ayunan sambil menikmati udara sore hari yang begitu menyegarkan.
"Ella, kak Stive sakit. Kemarin, perutnya tertusuk oleh papa," kata Jasmine begitu lirih dan pelan.
"Hah, ba—bagaimana bisa?" tanya Ella dengan wajah sangat terkejut, Jasmine pun akhirnya menceritakan semua masalah nya pada Ella. Yah, kini dirinya sudah merasa nyaman dengan Ella, bahkan sejak ia memutuskan untuk meninggalkan Hendra, dirinya sudah berubah menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1
"Ella, aku harus bagaimana hiks hiks," kata Jasmine setelah selesai bercerita, kini ia terus menangis, membayangkan bahwa keluarga nya akan hancur.
Peperangan antar saudara, dan perebutan harta. Membuat semua nya terluka. Padahal Hendra tau bahwa itu semua milik Stive dan mama Melanie. Walau Marko dan Stive bukan kakak kandung nya, namun Jasmine juga menyayangi mereka, karena baginya mereka adalah kakak terbaik, walau belakangan ini sikap mereka berubah padanya, namun ia juga cukup tau diri mengapa mereka bisa berubah padanya.
"S—Stive terluka, la—lalu bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Ella.
"Aku pikir sudah lebih baik, di banding kak Marko yang sampai saat ini masih koma," Jasmine kembali menghela napas nya berat, sambil menghapus air matanya.
"Maaf Jasmine, tapi dia sendiri yang—"
"Ella, hanya sebentar. Nanti aku juga yang akan mengantarkan kamu kemari lagi, aku mohon," pinta Jasmine penuh harap, dirinya sudah sangat frustasi mengurus Stive yang sedang sakit.
Bukan apa, Stive begitu kolok dan keras kepala, selalu banyak drama yang ia buat setiap kali Marcel datang untuk mengganti perban. Belum, saat waktu makan dan minum obat. Harus ada perdebatan terlebih dulu. Stive memang sosok tegas, arogan dan menyeramkan juga sadis, namun bila sedang sakit seperti itu, di depan orang terdekat nya maka ia akan sangat manja dan penuh drama.
__ADS_1
"Tapi Jas—"
"La, aku mohon," Jasmine menggenggam tangan Ella dan menatap matanya dengan penuh harap.
"Hanya sebentar, tidak menginap," kata Ella meyakinkan.
"Iya, ayo," Jasmine segera menarik tangan Ella dan membawanya pulang pada Stive. Sepanjang perjalanan, Ella banyak diam, ia memikirkan bagaimana saat nanti ia bertemu dengan Stive.
Apa hubungan nya dengan laki-laki itu, dirinya tidak tahu. Apakah Stive akan kembali mengusirnya atau memarahinya, atau bahkan menyakiti nya, ia hanya bisa pasrah dan terus berdoa.
'Niat ku baik, bila memang niat ku tidak di terima, ya sudah. Aku membawa uang, aki bisa pulang sendiri.' gumam Ella meyakinkan dirinya dalam hati.
'Apakah Stive juga merindukan ku? Apakah dia juga merasakan perasaan ini?" gumam nya lagi sambil menyentuh dada nya yang sedari tadi terus berdetak begitu cepat saat ia memikirkan bahwa akan bertemu dengan Stive.
__ADS_1