
"Ma—Marko," panggil Mawar lirih, tubuhnya kini sudah sangat lemas karena di sekap oleh Stive.
"Ini katamu yang ingin menemui keluarga mu hah!" seru Marko begitu marah kepada Mawar, pasalnya, ia mengizinkan Mawar kembali untuk keluarga nya, namun ternyata malah Mawar sengaja memasukkan dirinya masuk ke kandang Komodo.
"Maafin aku hiks hiks, a—aku,"
"Sudahlah, sekarang kita pikirkan cara agar bisa keluar dari sini!" kata Marko menghela napas nya kasar.
"Marko, kenapa kau kemari? Kenapa kau tidak membenci ku sama seperti Stive?"
"Apa kau gila hah! Bagaimana aku bisa membenci mu! dan kau tau jelas alasan ku!"
"Tapi Mar—"
"Aku tidak mau bicara lagi!" Kini Marko segera merebahkan kepala Mawar di paha nya dengan posisi dirinya bersandar di dinding.
__ADS_1
Sementara itu, Stive sedari tadi melihat interaksi mereka lewat CCTV dari ruang kerjanya. Ia mengepalkan tangan nya begitu kuat dengan rahang yang sudah mengeras, ia tidak menyangka bahwa Marko akan tetap mencintai Mawar walau pun ia tahu bahwa wanita itu tidak baik.
Stive menghela nafas nya dengan kasar, ia menyandarkan kepala nya apa sandaran kursi. lalu matanya menatap langit langit ruangan itu.
Gelap, sunyi dan sepi, itulah kehidupan Stive saat ini. Pikiran nya kembali melayang kepada gadis kecil nya, Ella. Sedang apa dia? apakah dia baik baik saja? pikir Stive.
'Apakah bila kau tahu kenyataan nya nanti. kau juga akan memaafkan ku dan masih mencintaiku? Seperti cinta kedua cicak itu?' gumam Stive dalam hatinya.
Saat Stive tengah melamun memikirkan gadis kecil nya, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari luar, membuatnya mengerutkan dahi. Ia pun segera bergegas keluar untuk melihat keadaan, dan benar saja, rupanya pasukan buaya datang menyerang nya untuk menyelamatkan si cicak.
Dengan santai nya, Stive memasukkan tangan nya dalam saku sambil bersandar di sisi pintu. Menatap beberapa pasukan buaya menyerang pasukan nya.
"Dimana anakku!" pekik nya marah menatap Stive.
"Anak mu yang mana? Apakah bukan aku? Ah atau mungkin Jasmine?" tebak Stive seolah sedang berfikir.
__ADS_1
"Brengsek! Jangan mempermainkan ku!" serunya lalu ia hendak melayangkan pukulan ke wajah Stive.
"Ingatlah pak Tua, umur mu sudah tidak akan mampu melawan ku, jadi tidak perlu bersusah payah membuang tenaga. Lebih baik, katakan dengan jelas semua kesalahan mu, mungkin aku bisa memaafkan mu nanti," kata Stive santai.
"Tidak akan!"
Jrrussshh
Dengan tiba-tiba sebuah pisau kecil berhasil menancap di perut Stive. Ia sama sekali tidak melihat bahwa Hendra membawa senjata, maka dirinya masih begitu santai, namun ternyata ia salah, Hendra membawa sebuah pisau belati yang ia sembunyikan di pergelangan tangan nya.
"Mati kau!" Serunya lagi dan langsung memukul pundak Stive hingga membuatnya hampir terjatuh.
"Kau pikir aku akan mati semudah itu," ucap Stive menyeringai sambil menahan sakit. "Belati mu tak cukup beracun untuk membunuh komodo besar seperti ku!" imbuh nya tertahan.
Ia mengeluarkan sebuah remot kecil dari saku nya dan segera menekan nya sambil menatap sinis pada Hendra.
__ADS_1
Duaaarrrr!
Terdengar suara ledakan yang begitu keras dari arah belakang, membuat Hendra langsung mengalihkan pandangan nya. Hanya beberapa detik lalu ia segera kembali menatap Stive yang tengah menatap nya dengan seringai tajam di bibir nya.