
“Stive!” pekik Ella yang langsung bangun membuka matanya. Nafas nya langsung terengah dan dahinya bercucuran keringat. Ia menatap sekeliling dan mencari keberadaan Stive, namun ia tak menemukan nya. Ia pun segera keluar dan berlari mencari Stive dimana pun.
“Stive! Stive kamu dimana hiks hiks!” teriak Ella, ia bahkan tak mengenakan alas kaki saat keluar dari kamar nya, kini dirinya terisak sambil berjongkok di ujung tangga.
“Kenapa lo?’ tanya Jasmine tiba-tiba datang dan berkata ketus sambil bersedekap tangan di daada menatap Ella.
“Hiks hiks, di-dimana Stive hiks hiks,” tanya Ella mendongakkan kepalanya menatap Jasmine.
“Ngapain nyari kakak! Lo itu bodoh apa gimana sih hah!” seru Jasmine saat melihat penampilan Ella yang masih mengenakan seragam sekolah, dan bertelanjang kaki.
“A-aku mau ketemu Stive, ta- tadi dia. Suara tembakan, terus hiks hiks hiks.”
__ADS_1
Jasmine hanya menghela napas nya kasar, ia baru teringat bahwa tadi sempat mendengar suara tembakan, ia yang sudah hafal akan suara itu tampak biasa saja, karena ia percaya kakak nya pasti dengan mudah melawan mereka. Tapi berbeda dengan Ella yang baru kali ini melihat Stive di serang dengan banyak orang dan semua bersenjata.
“Kakak di bawah, mending lo naik ke atas dan ganti pakaian lo. Dan satu lagi, jangan lupa pakai sendal, kalau lo gak mau buat kakak gue marah!” kata Jasmine ketus, lalu ia berlalu meninggalkan Ella begitu saja. Ia kaan bersiap untuk pulang ke rumah Oma nya, dimana ia tinggal bersama ayah nya.
“Jasmine tunggu!” Ella berdiri dan mengejar Jasmine, “Di bawah mana? Bukan kah ini sudah di bawah?” tanya nya masih dengan lelehan air mata membasahi pipi nya.
“Dasar Bocah yah, udah di bilang lo mending ke kamar ganti baju! Lo pikir gue sebaik itu sama lo sampai gue mau ngasih tahu dimana bawah yang gue maksud hah? Apa kita sedekat itu? Cih, jangan harap!” ketus nya lalu ia membanting pintu kamar nya tepat di depan Ella.
“Umur ku memang bocah, tapi aku lebih kuat dan dewasa dari kamu!” decak Ella pelan, lalu ia kembali mencari keberadaan Stive.
“Katakan, siapa yang menyuruh mu!” tanya Stive santai, namun di tangan nya kini sudah memegang sebuah belati yang selalu menemaninya menghabisi musuh.
__ADS_1
“Saya tidak akan mengatakan itu! Karena pantang bagi kami untuk mengatakan orang yang menyuruh kami! Lebih aku mati daripada harus mengatakan nya padamu! Cih!” seru laki laki itu meludah tepat di depan Stive.
Bukan marah, Stive malah tertawa begitu kencang, saat mendapatkan perlawanan yang menantang baginya, “Apa kau pikir semudah itu aku akan membunuh mu hem?”
“Kematian, itu terlalu indah buat orang seperti mu,” bisik Stive di telinga musuh nya, membuat sang empunya langsung menelan saliva nya dengan kasar.
“A-apa yang aaaaaaaa!” jerit nya saat ia merasakan sebuah benda kecil menggores pipi bawah matanya.
“Sepertinya akan menyenangkan bila dia bermain di dua mata kamu,” kata Stive masih terus menancapkan ujung belati nya di pipi musuh nya tersebut.
“Saya lebih baik mati, saya tidak akan pernah mengatakan apapun pada mu!” kekeuh nya tetap pada pendirian nya.
__ADS_1
“Baiklah kalau itu mau mu, tapi bagaimana kalau sebelum kamu mati, kita bersenang senang dulu,” kata Stive menyeringai, lalu ia memanggil beberapa orang suruhan nya untuk mendekat.
“Jangan, jangaaann! Lebih baik kau membunuh ku! Jangannn!” teriaknya begitu menggelegar hingga membuat Stive tertawa semakin kencang.