My Psycho Husband

My Psycho Husband
Jasmine


__ADS_3

“Pah,” panggil Jasmine untuk kesekian kalinya. Sedari tadi ia sudah mengetuk pintu kamar Hendra untuk menemui laki- laki paruh baya itu.


“Papa. Buka pintu nya Pah!”


Cklek!


“Ada apa? Kenapa ku tak juga pergi dari sini.” Kata Hendra menatap marah.


“Bagaimana caranya agar Papa mau berhenti? Jasmine sudah tidak mau melihat atau Kehilangan keluarga lagi. Kak Marko masih berada di rumah sakit, dan kak Stive, di sebentar lagi akan memiliki bayi. Jasmine tidak mau anak nya akan kehilangan ayah. Pah, Jasmine mohon, berhenti.” Pinta Jasmine dan langsung tertunduk, ia berlutut di depan Hendra.


“Jasmine, kau jangan gila!” pekik Hendra langsung menyuruh Jasmine bangun.


“Papa mau banyak uang kan? Apakah Jasmine harus menjadi pelacur dulu? Jasmine akan hasilkan banyak uang, tapi Jasmine mohon berhenti lah. Pah,bila papa melakukan ini semua untuk Jasmine dan kak Marko, bagaimana kalau kak Marko dan Jasmine meninggal, apakah Papa juga mash akan terus lanjut? Percayalah pah, kak Marko juga tidak akan mau semua ini terjadi.”


“Diam kamu!” bentak Hendra dan langsung mendorong tubuh Jasmine hingga membuat nya terjungkal ke belakang.

__ADS_1


“Kamu itu masih anak kecil, anak kemarin sore, tau apa kamu soal hidup hah! Sepertinya aku sudah salah terlalu memanjakan mu dari dulu.”


“Pah, Jasmine hanya tidak mau Papa kenapa napa! Jasmine sayang sama papa!”


“Sayang? Hahahaha, putri yang ku besarkan ini ternyata sudah besar. Dan apa tadi kamu bilang mau jadi pelacur untuk menghasilkan uang?” tanya Hendra dengan senyum smirk nya, “Bagaimana kalau kau mnejadi pelacur untuk ayah mu ini?”


“Pah!” jerit Jasmine ketakutan saat Hendra langsung menarik nya untuk masuk ke dalam kamar.


****


“Mungkin mereka pergi,” jawab Stive seperti biasa, cuek.


“Kemana?” tanya Ella penasaran.


“Sayang, makan lah lebih dulu. Kamu butuh banyak tenaga,” kata Stive tak habis pikir. Istrinya baru saja bangun dari pingsan nya, tapi saat di suruh makan, malah maunya langsung ke meja makan. Ella tidak mau makan berada di dalam kamar, maka dari itu, Stive selalu senantiasa menggendong nya.

__ADS_1


“Tapi Stive, perasaan aku tidak enak. Aku gak tau kenapa, tapi aku terus kepikiran sama Jasmine,” ucap Ella begitu lirih.


“Dia pasti baik baik saja. Percayalah,” kata Stive mencoba menenangkan istrinya.


“Telfon dia Stive, tanyain dia dimana sedang apa dan sama siapa.” Tanya Ella dengan cepat.


“Astaga, Sayang, kamu makan dulu, biar nanti aku hubungi dia.” Stive berdecak dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.


“Gak mau, harus sekarang, ayo Stive telfon Jasmine.” Rengek Ella terus memohon pada Stive. Entah mengapa, sejak tadi hatinya begitu cemas dan terus kepikiran dengan adik ipar nya.


“Makan dulu, habiskan susu mu dan vitamin mu juga, baru aku akan menghubungi Jasmine!” kata Stive dengan tegas, tanpa bantahan.


“Tapi Stive—"


“Semakin cepat kau habiskan makanan mu, maka semakin cepat juga kau tahu kabar Jasmine.”

__ADS_1


Ella pun dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. Ia memakan makanan nya dengan cepat, dengan hati dan perasaan yang campur aduk. Namun, setiap kali ia menyuapkan makanan ke mulut nya, maka ia akan langsung mual dan memuntahkan makanan.


__ADS_2