My Psycho Husband

My Psycho Husband
Menelfon Jasmine


__ADS_3

“Jasmine, apakah kau tidak ingin pulang sebentar? Jahat banget masak kamu di sana terus, ninggalin aku sendirian, nanti kalau anak aku gak kenal sama aunty nya gimana?” rengek Ella, kini ia sedang melakukan panggilan video dengan sang adik ipar, Jasmine.


“Hahaha, nanti aku akan pulang El, tapi aku masih belum tahu kapan. Aku masih ingin disini dulu,” ucap Jasmine dengan senyum tipis menghiasi wajah nya.


Memang, kini Jasmine sudah sangat berbeda dengan yang dulu. Tidak ada lagi keceriaan dan kecerewetan gadis itu, yang ada hanya tatapan sayu, senyum tanpa tawa dan juga suara yang begitu lembut.


“Apakah kau masih bersama Jhon?’ tebak Ella menyeringai, sukses membuat Jasmine langsung membulatkan matanya.


“Ka- kau bercanda. Bagaimana mungkin dia ada disini, dia kan-“

__ADS_1


“Iya Jas, dia kan sedang membelikan mu makanan atau minuman, iya gak?” tebak Ella yang lagi lagi membuat wajah Jasmine memerah, “Jasmine, Jhon baik kok. Dia juga tampan, lumayan lah, tapi sayang dia kaku, eh tapi dulu kakak kamu juga kaku sih, gapapa Jas, aku mendukung kalian untuk bersama. Kamu cantik, dan Jhon juga tampan.” Kata Ella terkekeh, mengingat kembali setiap perdebatan antara Jasmine dan Jhon yang kini sudah lama tak ia dengar lagi.


“Jhon tampan?” saut Stive yang baru saja masuk ke dalam kamar, dan ia hanya mendengar sepotong dari ucapan Ella.


“Stive!” pekik Ella terkejut, tentu saja, karena kini ia bisa melihat raut wajah suaminya sudah berubah. Stive begitu posesif dan pecemburu berat, ia tidak pernah mengijinkan dirinya untuk memuji siapapun, kecuali dirinya.


Bahkan, saat Ella bertemu dengan ayah kandung nya, pak Darto. Stive juga selalu menyuruhnya untuk menjaga jarak. Tidak Boleh terlalu lama berpelukan dan terlalu dekat. Dan kini, ia tiba tiba mendengar bahwa Ella memuji ketampanan asisten pribadinya sendiri, tentu saja ia cemburu dan marah.


“Bu- bukan begitu maksud ku. I- ini ak emmmttt—"

__ADS_1


Di ujung sana, Jasmine tanpa sengaja melihat adegan live antara Stive dan juga Ella. Memang sambungan Video Call mereka belum di matikan, Ella hendak menjelaskan kepada Stive kalau yang ia dengar itu hanya sepotong, namun, belum selesai ia menjelaskan, Stive malah lebih dulu membungkam bibir nya tepat di depan kamera laptop nya yang masih tersambung dengan Jasmine.


“Stive, tunggu dulu, a-“ Lagi dan lagi, Ella hendak menjelaskan, namun Stive seolah sudah tuli dan tidak mau mendengarkan ucapan Ella.


Stive terus memagut bibir Ella dengan begitu dalam dan menuntut. sementara Jasmine masih terus stand bye sambil menelan saliva nya saat melihat kakak dan kakak iparnya sedang bergelut bibir dan lidah.


Hingga, tiba-tiba, seseorang datang dan mematikan sambungan video call tersebut, dan yang membuat Jasmine semakin terkejut adalah saat ini wajah Jhon sudah terlihat seperti menahan marah padanya.


“J—Jhon,” gumam Jasmine lirih dan hendak merebut kembali ponsel nya yang kini masih berada di tangan Jhon.

__ADS_1


“Kenapa kau suka sekali melihat hal seperti itu,” tuduh Jhon.


“H- hey, a—aku tidak sengaja! Ka—kamu tahu, kakak saja itu yang terlalu berlebihan. Dia tidak bisa cemburu sedikit, hanya masalah kecil, ia langsung marah dan langsung mencium Ella begitu saja, tanpa dia tahu kalau kami sedang melakukan panggilan video.” Jelas Jasmine dengan sedikit terbata.


__ADS_2