
Setelah melihat Stive keluar dari dalam kamar perawatan nya, kini Ella hanya mampu menghela nafas na berat. Air matanya yang sejak tadi sudah mengalir deras, kini semakin deras. Dada nya kian terasa semakin sesak, ia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini ia jaga, ia rawat dan ia banggakan, ternyata alasan utama mengapa ibu nya bisa meninggal.
Yah, tadi Stive sudah menceritakan semuanya kepada Ella. Tragedi yang menewaskan ibu kandung nya di sebuah taman yang sempat beberapa waktu lalu ia datangin bersama Stive.
Dulu, saat Stive dan Marko tengah bertengkar, tanpa sengaja peluru Stive melesat dan mengenai dadaa seorang wanita yang tengah berlari di sekitar taman itu. Peluru itu bersarang tepat menembus jantung nya. Stive segera menghampiri nya, namun wanita itu sudah sangat kritis walau masih sadar. Stive masih bisa melihat bagaimana sembab mata wanita itu, ia masih mengingat nya dengan jelas. Betapa rapuh nya wanita yang tak lain adalah ibu kandung Ella.
Stive ingin segera membawa wanita itu ke rumah sakit, namun dengan cepat wanita itu dengan cepat menggelengkan kepala nya. Darah segar semakin banyak yang keluar dari mulut dan luka nya, namun wanita itu tetap kekuh untuk melarang Stive membawa nya ke rumah sakit. Alasan utama nya adalah karena ia sudah lelah.
__ADS_1
Wanita itu menangis di pangkuan Stive yang saat itu masih berseragam sekolah, ia menangis menahan sakit di dadaa nya. Entah karena peluru Stive atau karena hal lain. Namun setelah beberapa detik, wanita itu mengatakan bahwa dirinya sudah sangat lelah untuk hidup di dunia ini. Ia tidak sanggup menghadapi kenyataan, dan memang tujuan nya ingin bunuh diri. Ia malah berterimakasih kepada Stive karena berkat nya, ia tidak harus bersusah payah membunuh dirinya sendiri.
Tentu saja Stive sangat ketakutan dan bingung, ia merasa sangat bersalah. Namun, wanita itu terus meyakinkan Stive, bahwa tanpa Stive menembak nya ia memang akan mengakhiri hidupnya. Ia baru saja memergoki suaminya tengah bercumbu mesra dengan seorang wanita yang tak lain adalah sahabat nya. Dan ia sempat bertengkar hebat dengan suaminya, hingga pada akhirnya sang suami lebih memilih wanita lain daripada dirinya.
‘Daniella, dia putri ku satu-satunya. A—aku percaya padamu, ka—kamu anak baik.’ Itulah kata- kata yang di ucapkan wanita itu untuk yang terakhir kalinya. Sebuah ucapan yang selalu Stive ingat hingga saat ini.
“Bapak, hiks hiks hiks.” Racau Ella terus terisak di tempat tidur rumah sakit.
__ADS_1
“Menurut mu kenapa kaka di luar?” tanya Jasmine berbisik di telinga Jhon.
“Tidak tahu,” jawab Jhon datar, walau sebenar nya ia sudah tahu alasan Stive berada di luar.
“Iks, kau itu jadi asisten tidak berguna. Masa masalah bos nya sendiri tidak tahu,” cetus Jasmine dengan kesal.
“Dan kau jadi adik juga tidak berguna karena tidak bisa menghibur kakak nya,” jawab Jhon tak kalah kesal dengan gadis di samping nya tersebut.
__ADS_1
“Woahh, kau—"
“Apakah kalian tidak bisa diam!” sentak Stive tiba-tiba tanpa menatap keduanya, membuat keduanya langsung terdiam dan saling menatap tajam.