My Psycho Husband

My Psycho Husband
Sensitif


__ADS_3

Sejak saat itu, kini Ella menjadi lebih banyak diam. Ia hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar. Sudah hampir satu bulan penuh ia berada di kamar, dan hanya mau bertemu dengan Jasmine. Bahkan, Stive hanya bisa bertemu dengan nya satu minggu sekali, itu Ella lakukan sebagai hukuman untuk Stive.


Bagi Ella, itu sudah lebih cukup. Juga karena memang dirinya merasa sangat malas bertemu dengan Stive, sejak ia hamil, dirinya jadi membenci Stive, namun terkadang Juga merindukan laki-laki itu. Ia sudah tidak marah karena kasus ibu kandung nya, namun ia hanya kecewa. Yah, Ella begitu kecewa kepada Bapak dan ibu tirinya.


“Sayang, izinkan aku masuk sebentar,” panggil Stive mengetuk pintu kamar nya sendiri. Sudah hampir satu bulan ini, dirinya harus tidur di kamar tamu, itupun di lantai bawah bukan dekat kamar pribadi nya.


“Mau apa?” tanya Ella sedikit ketus.

__ADS_1


“Mau ambil dasi,” kata Stive menghela nafas nya, sebenarnya ia hanya ingin bertemu dengan Ella, dasi hanyalah alasan agar Ella mau membukakan pintu untuk nya.


Dengan terpaksa, Ella pun membuka pintu untuk Stive, ia mempersilahkan Stive untuk masuk, namun dirinya langsung menghindar dan memilih berdiri di balkon kamar nya. Sementara Stive, ia sengaja berlama-lama di walk in closed agar bisa berlama- lama di sana.


“Kenapa lama sekali? Apakah harus aku pindahkan pakaian mu ke kamar baru mu biar gak bingung?” tanya Ella menghampiri Stive di walk in closed.


“Tidak perlu,” jawab Stive yang sudah mengambil salah satu dasi nya.

__ADS_1


“Bukankah kamu yang menyuruh ku pindah?”


“Iya, tapi gak harus kamu juga yang membawa nya keluar. Biar aku dan pelayan saja. Lagi pula kalau begini, pasti kamu mau pergi kan, jawab! Kamu mau pergi dari sini? Mau kemana? Apa kamu mau mencari wanita lain juga? Kamu sama saja seperti bapak, ka—“ Ella langsung terdiam dan menggigit bibir bawah nya.


Sejenak, ia menarik nafas nya panjang, lalu membuang nya perlahan. Ia lakukan berulang kali sampai akhirnya ia bisa mengontrol dirinya sendiri. Setelah melihat Ella sudah lebih baik, Stive langsung mendekati Ella dan merengkuh tubuh mungil itu. Inilah alasan Stive di haruskan mengalah dan tidak membantah apapun kemauan istrinya.


Stive tidak mau terjadi apapun dengan istri dan calon anak nya. Beberapa waktu yang lalu, saat dokter datang dan memeriksa kondisi Ella, ternyata masih sangat lemah dan rentan keguguran. Dokter menyarankan agar Ella bed rest dan tidak banyak pikiran. Maka dari itu, Stive mengalah keluar kamar dan membiarkan Ella istirahat dan melakukan apapun semau dia asalkan Ella tenang dan nyaman.

__ADS_1


“Aku tidak akan kemana- mana. Jangan pernah berfikir bahwa aku sama sepertinya. Saat kondisi kamu sudah lebih baik, kita pergi ke sana.” Bujuk Stive dengan lembut. Sungguh, kini sikap Stive sangat berubah seratus delapan puluh derajat saat bersama dengan Ella.


Kini, tidak ada lagi sosok Stive yang arogan, dingin, kasar dan pemarah. Di depan Ella, Stive menjadi laki-laki lembut dan penyayang juga penyabar. Ia tidak ingin kehilangan kebahagiaan nya lagi, karena kini di dunia nya hanya memiliki Ella dan calon anak nya.


__ADS_2