
"S—Stive, jangan begini. Ka—kamu masih sakit, lepaskan Stive," Ella berusaha menghindar saat Stive hendak mencium bibir nya. Ia masih teringat bahwa luka di perut Stive masih basah.
"Apakah aku terlihat seperti orang sakit? apakah kau pikir aku pria lumpuh?"
"Bukan seperti itu, aku cuma emmmttt."
Ella tidak bisa berbuat banyak lagi saat sebuah benda kenyal nan basah itu menyentuh bibirnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah dan menikmati sentuhan Stive. Ia akui, ia juga sangat merindukan sentuhan Stive, namun ia juga tidak ingin egois. Ia masih mengingat luka pada tubuh Stive, namun bila seperti ini, Stive yang memulainya dan memberikan padanya, maka ia hanya bisa menerima nya.
'Apakah aku terlihat seperti wanita murahan? Mengapa aku bisa menikmati setiap sentuhan nya? Aku datang kemari untuk menjenguk nya, bukan kah aku masih marah dan kesal padanya? Lalu kenapa aku tidak bisa marah padanya. Kenapa aku masih bersikap biasanya padanya, Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku? Mengapa aku begitu murahan pada laki-laki yang pernah menyakiti ku ini,' gumam Ella dalam hati saat memejamkan matanya dan menikmati ciuman Stive yang begitu lembut dan memabukkan.
"Stive cukup, kamu masih sakit." Ella menjauhkan wajah nya dari Stive, nafas nya begitu terengah engah, ia menatap wajah Stive yang tampak sedikit kecewa.
"Maafkan aku, tapi—"
"Hentikan, aku mengerti," kata Stive menyentuh bibir Ella dengan lembut, menghapus sisa Saliva nya yang masih menempel pada bibir itu. Bibir yang selalu membuat nya candu dan selalu menginginkan lebih.
"Apa kau marah padaku?" tanya Stive kembali merangkul pinggang Ella.
__ADS_1
"Sedikit, tapi—"
"Maafkan aku, aku melakukan semua itu hanya ingin melindungi kamu. Sesungguh nya aku masih keberatan kamu berada disini, karena suasana masih sedikit rawan untuk kamu."
"Kenapa? Apa kau punya musuh?" tanya Ella menatap wajah Stive dengan intens.
"Musuh ku sangat banyak, tapi musuh terbesarku adalah orang terdekat ku."
Deg!
"Siapa?"
"Ada, dan kamu tidak perlu tahu. Yang harus kamu tahu, hanya satu," ucap Stive, lalu ia membisikkan sesuatu di telinga Ella.
"I love you."
Blush.
__ADS_1
Wajah Ella langsung merona dan bersemu, bibir nya terangkat tak bisa ia tutupi.
"Apakah kau juga mencintaiku?" tanya Stive.
"Stive aku—"
"Jangan katakan sekarang. Aku tidak butuh balasan cinta dari kamu, cukup aku saja yang mencintai kamu."
Ella tersenyum mendengar pernyataan dari Stive. Tak bisa ia pungkiri, bahwa kini hatinya begitu berbunga dan bahagia. Namun, ia juga bingung apakah ia bisa bersama Stive kelak. Entah mengapa ada sedikit rasa mengganjal dalam hatinya. Ia tidak tau apa itu, namun ia ada sedikit rasa ragu untuk melangkah bersama Stive, ia seperti memiliki sebuah firasat buruk akan masa depan nya nanti.
"Bila suatu saat nanti aku melakukan kesalahan, aku tidak akan memaksa mu untuk memaafkan aku, tapi aku hanya ingin kamu mempercayai aku. Percayalah, semua yang aku lakukan itu semua demi kamu. Hanya kamu, cup!" Stjve mencium kening Ella dengan lembut, lalu ia memeluk tubuh mungil gadis itu dengan erat.
"Kamu tahu, aku sangat merindukan mu," bisik Stive.
"Stive, apa kau tidak merasa aneh?" tanya Ella masih memeluk Stive.
"Aneh kenapa?" kata Stive kembali bertanya.
__ADS_1
"Kamu banyak berubah akhir-akhir ini. Kamu semakin pintar merayu dan menggombal, bahkan kini kamu sudah jauh berbeda dengan Stive yang ku kenal dulu saat kita bertemu." ucap Ella panjang lebar membuat Stive langsung terkekeh.
"Aku hanya lelah, dan aku ingin menikmati hidupku bersama mu." gumamnya pelan sambil terus memeluk tubuh Ella dengan erat.