
“Jadi, bagaimana hem?” tanya Stive menatap Ella dengan intens.
“Ba- bagaimana apanya?” tanya Ella sedikit gugup karena kini wajah Stive terus mendekat padanya.
“Apakah kau sudah membandingkan nya hem? Milik siapa yang lebih besar? Atau panjang? Atau—"
“Stive cukup!” pekik Ella dan langsung menutup kedua telinga nya.
“Ada apa Sayang? Apakah kamu masih mau menonton nya lagi? Atau kita tonton berdua, biar kamu lebih puas membandingkan nya, kamu bisa melihat dari yang virtual dan yang asli,”
“Stive oke iya oke aku minta maaf. Udah cukup, aku gak mau bahas itu lagi. Itu sangat menggelikan plis berhenti!”
“Sejauh mana tadi kamu menonton nya?” tanya Stive kini dengan raut wajah serius.
“Hem, aku lupa a—emmmtt!”
__ADS_1
Ella langsung membulatkan kedua matanya dengan sempurna, saat merasakan sebuah benda kenyal nan basah itu tiba- tiba hinggap di bibir nya. Mata keduanya saling menatap dengan bibir yang masih menempel, tidak hanya menempel, namun Stive juga mulai memberikan lumattan – lumattan kecil di bibir nya. Menggigit pelan hingga membuat Ella membuka mulut nya. Beberapa detik kemudian, Ela pun mulai membalas ciuman Stive, ada sedikit senyum terbit di bibir Stive saat merasakan Ella membalas ciuman nya.
Ciuman keduanya semakin panas dan menuntut, hingga entah sejak kapan tiba- tiba Ella tersadar dirinya sudah mengenakan pakaian, begitu pun dengan Stive,
“Stive, pelan- pelan,” gumam Ella lirih sambil menggigit bibir bawah nya dan tangan yang menyentuh perut nya memberikan peringatan pada Stive agar tidak melukai dirinya dan kandungan nya.
Stive tidak menjawab, namun ia menganggukkan kepala nya tanda mengerti. Dengan perlahan namun pasti, ia mulai memberikan sedikit gerakan yang mampu merangsang istri nya, hinga saat ia merasakan tanda kesiapan, ia baru memulai aksi nya.
Pertempuran itu tidak berlangsung lama seperti biasanya, karena Stive tahu dan paham keadaan Ella masih belum terlalu sehat. Dan juga kini ada janin yang harus ia jaga. Stive hanya melakukan nya dua kali, baginya itu sudah adil. Tapi berbeda dengan Stive, Ella malah terus menggerutu dan mengatakan lelah, pasalnya Stive menggempurnya hampir dua jam.
Stive yang paham pun segera menarik selimut dan memeluk tubuh Ella dari belakang, dengan tangan yang terus mengusap usap perut Ella, untuk membuatnya tenang.
“Jatah kamu itu masih dua hari lagi, kenapa harus sekarang.” Kata Ella.
“Dua hari lagi? Benarkah? Baiklah, aku akan melakukan nya dua hari lagi,” jawab Stive sedikit terkekeh.
__ADS_1
“Hey, mana bisa seperti itu. Kamu sudah menagihnya di awal, berarti dua hari lagi kamu zonk!”
“Mana bisa begitu! Aku tadi hanya ingin kamu membanding kan milik ku dengan milik pria di film biru itu tadi.” Kata Stive dengan cepat, “Bagaimana? Lebih besar mana?”bisik Stive yang kembali membuat tubuh Ella meremang.
“Stive, kamu menyebalkan!”
“Tapi memuaskan kan?”
“Stive!” pekik nya.
“Apa Sayang, kamu merasakan nya kan? Satu lagi yuk,” ajak Stive yang membuat mata Ella kembali terbuka lebar.
“Sekali lagi? Kamu sudah dua kali Stive!”
“Baru dua Sayang, di bandingkan kamu, coba kamu hitung.” Kata Stive menahan tawa nya saat melihat raut wajah Ella semakin kesal lantaran tidak bisa menjawab pertanyaan Stive. Tentu saja Ella tidak bisa menjawab karena dirinya juga sudah tidak terhitung berapa kali mencapai puncak.
__ADS_1