
“Tunggu Stive, aahhh!” pekik Ella yang berusaha mengejar Stive, namun tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di bagian perut nya.
Tubuh nya langsung tumbang dan luruh ke lantai. Ia mencengkram kuat perut nya sambil terus meringis menahan sakit. Sementara Stive yang melihat itu juga langsung panik dan menghampiri Ella.
“Sayang, kamu kenapa?’’ tanya Stive dengan penuh kekhawatiran.
“Pe—perut aku sakit, sshhttt ...” Ella terus meringis dan Mencengkram kuat perut nya.
Tanpa banyak bicara lagi, Stive pun segera mengangkat tubuh Ella dan membawa nya keluar kamar. Sambil menuruni anak tangga, Stive terus memanggil nama Marcel dan Jhon. Kepanikan nya semakin menjadi saat mendengar Ella berteriak, di sertai dengan adanya aliran basah yang merembes ke dalam baju nya.
“Marcel! Jhon! Siapkan mobil, cepat!” teriak Stive terburu-buru. Jhon dan Marcel yang sedang berbincang di dalam kamar pun akhirnya langsung keluar dan ikut terkejut saat melihat Stive yang menggendong Ella dengan darah yang sudah mewarnai kemeja putih Stive.
“Shitt! Kan udah gue bilang! Buruan ke rumah sakit!” Seru Marcel geram, lalu ia pun segera ikut berlari dan menuju mobil.
“Ella kenapa?’ tanya Jasmine yang ikut keluar dari kamar nya saat mendengar suara kegaduhan dari luar.
****
__ADS_1
“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Stive saat melihat seorang dokter baru saja keluar dari ruang UGD.
“Syukurlah, istri dan anak anda baik-baik saja. Mungkin bila saja tadi anda sedikit terlambat membawa nya kemari, besar kemungkinan anda akan kehilangan mereka. Untuk saat ini kondisi pasien sudah stabil, namun masih sangat lemah dan butuh banyak istirahat.” Jelas dokter.
“Ma- maksud nya, i- istri saya hamil?” tanya Stive menatap tak percaya pada dokter perempuan yang habis memeriksa Ella.
“Iya Tuan, selamat, dan saya berpesan jangan membuat ya stres dan banyak fikiran, karena akan kembali membahayakan janin nya.”
“terimakasih Dok.” Bukan Stive yang menjawab, melainkan Jhon sambil tersenyum lalu mempersilahkan dokter tersebut untuk pergi. Sementara Stive Masih mematung, ia tak percaya bila ternyata istrinya hamil.
“Dasar ganjen,” cetus Jasmine pelan, namun masih bisa di dengar oleh orang sekeliling nya.
“Selain ganjen, ternyata juga kepo,” cetus nya lagi, lalu Jasmine memilih untuk pergi dan menghindar. Sementara Stive, ia langsung masuk ke dalam ruangan itu dan menemui istri nya.
Stive masih diam mematung di depan brankar Ella. Tatapan nya menjurus, menatap perut Ella yang masih datar. Ia tidak hanya hampir kehilangan Ella, namun juga hampir kehilangan calon bayi nya. Tapi, benarkah istrinya hamil? Baru satu hari pernikahan mereka.
“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Stive menghampiri Ella dan menggenggam tangan nya.
__ADS_1
“Ngapain kamu disini?” kata Ella pelan, namun terlihat masih marah.
“Maafkan aku,” gumam Stive pelan.
“Sudah aku maafkan, tapi aku mau kamu pergi.” Jawab nya, lalu Ella segera membuang wajah nya ke samping agar tak melihat Stive lagi.
“Ka- kamu hamil,” gumam Stive begitu lirih, seketika membuat Ella langsung kembali menatap dirinya.
“Be- benarkah? Ba—bagaimana bisa?” Ella menutup mulut nya dengan kedua tangan, ia menatap Stive dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Bisakah kita menjaga nya dan melupakan semuanya?” tanya Stive perlahan kembali menggenggam jemari tangan Ella.
“Percayalah, aku tidak ingin menyakiti mu. Percaya padaku, jangan mencari tahu lagi, karena itu hanya akan melukai hati kamu,” kata Srive.
“Kamu gak mau aku terluka, karena kamu akan terus merasa bersalah kan?” cibir Ella mendengkus kesal.
“Aku sama sekali sudah memaafkan diriku sendiri, aku tidak lagi merasa bersalah, tapi aku tidak mau kamu terluka.”
__ADS_1
“Bisakah kamu katakan dan jangan berbelit, atau aku akan pergi dari hidup kamu! Dan juga anak ini, jangan harap kamu bisa menemukan kami.” Ancam Ella dengan raut wajah serius.