
“La, kamu gapapa?” tanya nya begitu khawatir. Ella menganggukkan kepala nya, lalu ia kembali menghela napas berat.
“Ah syukurlah, kamu istirahatlah dulu disini, Jasmine yang akan menemani mu,” ucap nya lalu ia hendak pergi.
“Dimana Jasmine? Dan ini dimana? Kenapa aku bisa disini?” tanya Ella beruntun.
“Kamu di rumah sakit, Jasmine yang membawa mu kemari. Tekanan darah kamu sangat rendah la jadi kamu istirahat saja dulu,” katanya lalu benar benar pergi.
Setelah dokter Marcel meninggalkan Ella, tak berapa lama, Jasmine pun masuk dan menghampiri Ella. Kini sikap Jasmine sudah sangat berbeda dari sebelumnya, kini mereka menjadi begitu dekat dan bisa bersahabat, membuat Ella sedikit lega.
“Lo udah gapapa?” tanya Jasmine mendudukkan dirinya di samping brankar milik Ella.
“Hem, aku gapapa. Makasih yah,” kata Ella tersenyum.
__ADS_1
“Lo di apain aja tadi sama kakak?” tanya Jasmine menyelidik.
“Enggak kok, aku pingsan karena memang tekanan darah ku rendah. Aku sedang datang bulan, dan itu selalu terjadi padaku,” jelas Ella.Mereka pun akhirnya kembali berbincang dan bercerita, dan Jasmine memutuskan akan menginap di rumah sakit malam ini menemani Ella, karena kakak nya sedang sibuk dengan pekerjaan nya.
Pagi harinya, Stive terbangun saat Jhon mendatangi nya untuk memberitahu bahwa mawar sudah di temukan. Stive pun dengan cepat bergegas untuk menemui nya. Hampir satu jam perjalanan, kini Stive dan Jhon sudah sampai di sebuah gedung kosong tempat dimana pengawal nya berlatih dan menyekap sandra tentu nya.
“Jhon, tinggalkan kami berdua,” ujar Stive datar, sedari tadi mata nya masih fokus saling menatap dnegan Mawar.
“Baik Tuan,” jawab Jhon lalu ia segera bergegas keluar dan menutup pintu.
“kenapa harus kamu yang melakukan itu?’ tanya Stive masih dengan raut wajah datar nya.
“A-aku terpaksa Stive, hiks hiks aku terpaksa.”
__ADS_1
“Siapa yang memaksa mu?”
“Tu—tuan Hendra, dia mengancam ku Stive dan juga ia lah yang membantu ku untuk bangkit. Aku tidak punya pilihan lain selain membalas budi nya,”
“Balas budi?” Stive mengerutkan dahi nya, lalu ia membanting kursi di depan nya dengan begitu kencang.
Braakk!
“Membalas budi dengan cara membunuh ibu ku hah!” bentak Stive begitu marah, ia segera mencengkram dagu Mawar hingga membuat nya mengeluarkan darah, “Kau lupa bagaimana ibu ku memperlakukan mu dulu hah!”
“A- aku ingat Stive, dan justru itu. Justru karena aku ingat bagaimana perlakuan ibu mu terhadapku sampai aku bisa melakukan itu!” seru Mawar saat Stive sudah melepaskan cengkraman di dagu nya.
“Asal kau tahu, ibu mu lah yang berniat membunuh ku! Dialah yang ingin memisahkan kita! Berulang kali ia menyuruhku untuk meninggalkan kamu tapi aku tidak mau, hingga akhirnya ia yang membunuh ku! Kau tahu Stive, saat aku masuk ke dalam jurang itu, Marko lah yang membantu ku, dan juga tuan Hendra yang menyelamatkan ku!” serunya dengan lelehan air mata membasahi wajah nya.
__ADS_1
“Jangan mengarang! Ibuku tidak mungkin sejahat itu!” kilah Stive menggelengkan kepala nya.
“Kamu tahu Stive, ibumu berulang kali ingin membunuhku, melenyapkan aku dari sisi kamu hiks hiks hiks, dia tahu bahwa aku dan kamu sangat mencintai jadi sangat tidak mungkin bila kita berpisah begitu saja, sampai akhirnya ia menyusun rencana nya untuk melenyapkan ku. Dan benar saja bukan, perpisahan beda alam benar-benar membuat mu melupakan ku hiks hiks hiks. Aku berusaha agar bisa pulih secepat nya, tapi saat aku kembali kau sudah bersama perempuan lain. Aku semakin sakit Stive! Dan itu yang membuat dendam ku pada ibu mu semain besar!” jerit nya histeris membuat Stive langsung terdiam.