
“A-ampun. A-mpun, baiklah saya akan mengatakan nya, tapi saya mohon lepaskan. Lepaskan saya aaaahhhh!” teriak nya untuk kesekian kalinya memohon agar Stive melepaskan hukuman nya. “Bunuh, bunuh saya. Bunuh saya, hentikan!”
“Jadi kau mau aku bunuh atau mengatakan siapa yang menyuruh mu datang kemari?” tanya Stive, kini dengan raut wajah datar dan dingin menatap musuh nya.
“Bunuh saya, saya mohon!” pinta nya memohon, kini tangan kirinya tengah memegang tangan kanan nya yang terus mengeluarkan darah segar karena di potong oleh Stive. Bila saja ia melepaskan tangan kirinya, maka bisa di pastikan tangan itu sudah lepas dari lengan nya.
“Sudah ku katakan, kematian itu terlalu indah buat mu. Lebih baik katakan padaku, sebelum kamu bertemu dengan iblis yang akan menjemput mu!” kata Stive cuek, ia kembali duduk di tempat nya, menyilang kan kakinya dengan kaki satu lagi, dan ia kembali menghisap rokok nya.
“Tu-tuan Ma—"
Dorr!
Laki-laki itu pun tewas seketika saat sebuah pistol berhasil menembus mata sebelah kirinya. Stive langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang sudah membunuh tawanan nya, namun ternyata tidak ada yang membawa pistol.
__ADS_1
“Shittt! Cepat kalian cari siapa yang sudah menembak sampah ini! Cepat!” teriak Stive begitu marah, ia pun juga ikut bergegas untuk mencari pembunuh tersebut.
“Stive!” panggil Ella yang langsung memeluk Stive dari belakang saat melihat Stive berlari hendak keluar rumah untuk mengejar musuh nya, “Aku mencari mu dari tadi. Kenapa kamu pergi hiks hiks hiks,” ucap Ella kembali terisak.
“Kenapa disini? Aku ada urusan, kamu kembali ke kamar mu dan bersihkan diri kamu.” Kata Stive hendak melepaskan pelukan Ella.
“Gak mau, aku mau sama kamu hiks hiks. Kamu tahu tadi aku mimpi buruk, aku takut hiks hiks.”
Stive hanya mampu menghela napas nya berat, ia mengisyaratkan pada pengawal nya untuk mencari penghianat itu, lalu ia segera menggendong Ella dan membawa nya kembali ke kamar.
“Orang? Berlari? laki-laki? Aku tidak tau, tapi aku tadi melihat pelayan kamu buru buru keluar, katanya mau belanja.” Kata Ella mengingat kembali tingkah pelayan nya yang sedikit mencurigakan baginya.
Karena saat ia melihat Ella di depan pintu ia seperti melihat hantu, ia begitu terkejut dan berulang kali ia menatap ke belakang sebelum akhirnya ia izin kepada Ella ingin pergi berbelanja kebutuhan dapur.
__ADS_1
“Pelayan? Siapa?” tanya Stive mengerutkan dahi nya.
“Aku tidak tahu nama nya. Kau itu terlalu banyak memiliki pelayan, aku tidak bisa hafal nama nya!” jawab Ella cemberut, memang benar, Stive memiliki pelayan lebih dari dua puluh orang, dan juga pengawal yang tidak kurang dari lima puluh orang.
“Orang nya seperti apa?” tanya Stive menghela napas nya berat, karena sesungguh nya ia sendiri juga tidak mengenali pelayan nya sendiri.
“Hem seperti apa yah? Dia cantik, tinggi dan ia sering memberikan obat kepada nyonya Melanie. Ah iya nyonya Melanie!” pekik Ella seolah tersadar.
“Ada apa dengan mama ku?”
“Apakah kau menambahkan obat lagi untuk nyonya Melanie?”
“Tidak,” jawab Stive dengan cepat.
__ADS_1
“Kita ke pondok sekarang!” Ella langsung beranjak dari tempat tidur dan menarik tangan Stive untuk pergi ke pondok. Entah mengapa kini ia memiliki firasat tidak enak tentang nyonya Melanie.