
Dengan langkah gontai, Stive mulai memasuki mansion nya. Namun, kini langkah nya terhenti saat melihat sebuah wanita yang tengah meringkuk tak sadarkan diri berada di teras rumah nya.
Stive pun dengan cepat berlari dan menghampiri wanita tersebut. Masih menggunakan gaun yang sama, tidak ada luka lecet sedikit pun di tubuh istrinya. Stive pun dengan cepat membawa Ella ke dalam kamar, tak lupa ia juga menghubungi Marcel untuk segera datang.
Cukup lama Stive menunggu di samping Ella, hingga setelah beberapa saat, mata itu mulai terbuka..Ella menghela napas berat, matanya menatap sekeliling hingga pada akhirnya ia bertemu dengan mata Stive.
Terlihat sangat jelas, raut wajah kekhawatiran yang di tunjukkan oleh Stive, namun Ella masih diam, ia begitu enggan untuk membuka mulut nya. Semua kata kata yang di ucapkan oleh Mawar terus terngiang di telinga nya. Berputar- putar seolah sedang menertawainya.
"Kamu sudah sadar? kamu darimana saja? aku mencari mu sejak kemarin. Kenapa kamu bisa pulang dalam keadaan seperti ini?" tanya Stive beruntun, tidak ada bentakan, namun Ella tau bahwa kini Stive tengah mencoba mati-matian untuk meredam emosi.
"Siapa yang membawa mu pergi? katakan Sayang, katakan."
"Aku pergi sendiri," jawab Ella dengan raut wajah datar nya.
"Kenapa? Kemana?" tanya Stive lagi.
"Ke tempat dimana aku tidak bertemu dengan mu."
Deg!
__ADS_1
Jantung Stive tiba- tiba terasa sesak. Ia bisa melihat sorot mata kekecewaan di mata istri barunya. Namun apa, Stive belum bisa menebak nya. Mengapa Ella tiba-tiba ingin pergi? apakah dirinya melakukan kesalahan? kesalahan apa? batin Stive bertanya- tanya.
"Do you love me?" tanya Ella masih dengan raut wajah datar nya.
"Sayang, kenapa kamu pertanyakan itu lagi? Kamu sudah mendengar semua pengakuan ku kemarin saat hari bahagia kita."
"Stive, do you love me?" tanya Ella sekali lagi dengan penuh penekanan.
"Ya, aku sangat mencintai kamu." jawab Stive dengan tegas namun tulus.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya? kamu kenapa sih?"
"Tidak ada alasan bagiku untuk mencintai kamu. Aku benar- benar mencintai kamu Sayang. Ada apa dengan mu?" tanya Stive penasaran.
"Apa karena kasian? Rasa bersalah? atau—"
"Siapa yang membawa mu tadi?" tanya Stive langsung menyorot tajam pada Ella.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Ella balik menatap tajam pada Stive.
"Siapa yang membawa mu tadi?" bentak Stive tiba-tiba, membuat Ella sedikit tersentak, namun ia segera bisa menguasai dirinya.
"Apakah benar tentang pembunuhan itu? Apakah korban mu adalah i—ibuku?" tanya Ella dengan nada begetar, kini air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi, matanya bukan lagi tajam namun kini begitu sayu dan menyedihkan.
Keduanya saling menatap, dengan Ella yang sedikit terisak. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Stive. Ia tidak membantah, namun juga tidak berniat memberikan penjelasan, membuat tangis Ella seketika pecah.
"Kenapa kamu lakukan itu? hiks hiks, kenapa kamu menikahi ku kalau hanya untuk menebus rasa bersalah mu!" seru Ella menangis histeris dengan menatap Stive begitu tajam.
"JAWAB STIVE, JAWAB!"
"Aku sudah menjawab mu, aku menikahi mu karena aku mencintai mu. Bukan rasa bersalah atau apapun itu, aku mencintai mu tanpa alasan apapun."
"Pembohong!" sentak Ella, ia bangun dari posisi tidur nya, tubuh nya sedikit terhuyung namun segera di tangkap oleh Stive.
"Jangan pernah pergi lagi," tekan Stive memeluk Ella dari belakang.
"Biarkan aku tenang, sebentar saja. Aku tidak mau terlalu membenci—"
__ADS_1
Bruk
"Sayang!" pekik Stive terkejut saat istrinya kembali kehilangan keasadaran.