
"Kakak," kata Jasmine saat Stive dan Ella menuju meja makan untuk makan malam. Yah, Stive sudah memutuskan bahwa Ella akan menghina malam ini dan akan di antarkan esok pagi.
"Kak, apakah benar kalau—"
"Ehheemm!" Jhon langsung berdeham dengan sedikit keras serta memberikan tatapan tajam pada Jasmine.
"Iks, dasar kanebo kering!" gerutu Jasmine cemberut menatap Jhon.
"Ah iya kak—"
"Jasmine," tegur Ella pelan.
"Apa sih El, kamu sama dia sama aja ih. Ngeselin banget asli, aku cuma mau bilang, kak tadi waktu kita di jalan ada yang membuntuti, tapi pas kita masuk Mansion mobil itu ilang." Kata Jasmine panjang lebar.
"Siapa Jhon?" tanya Stive langsung menatap tajam pada asisten nya.
"Iwan dan yang lain nya Tuan, saya sengaja menelfon nya saat mendengar Marcel dan nona Jasmine membicarakan tentang penjemputan nona Ella." Jelas Jhon, membuat Stive menganggukkan kepala nya paham.
__ADS_1
"Astaga, kanebo kering kenapa kau tidak bilang padaku kalau itu pengawal mu! Kenapa kau diam saja, apa kau tau, karena perbuatan mu itu kamu membuat ku panik dan khawatir. Belum lagi mendengar ocehan Ella yang semakin membuat ku parno. Kamu tau gak sih itu membahayakan, bagaimana kalau aku tidak bisa mengontrol diri saat menyetir karena ketakutan? bagaimana kalau aku kecelakaan, mobil ku rusak dan aku mati hah!" seru Jasmine langsung menatap Jhon yang masih saja berekspresi datar.
"Nona jangan khawatir, sekarang nona baik-baik saja." jawab Jhon tanpa dosa.
"Astaga! apa perlu aku ambilkan air satu ember biar kanebo mu basah dan gak kaku begini lagi!" omel Jasmine panjang lebar.
"Tidak perlu repot-repot Nona," kata Jhon.
Sementara Ella dan Stive hanya bisa diam dan menghela napas nya berat, mereka tak lagi memperdulikan perdebatan antara Jasmine dengan Jhon. Yang terpenting bagi Stive adalah Ella sudah sampai dengan selamat di Mansion nya. Dan kini ia sudah bisa bertemu dengan nya.
Setelah selesai makan malam, Ella dan Stive pun langsung menuju kamar.
"Sshht sakit Sayang," seru Stive saat Ella mulai membersihkan luka nya sebelum mengganti perban.
"Tenang lah sedikit," gumam Ella sambil matanya terus fokus pada luka jahitan di perut Stive, "Katanya kuat, kenapa hanya seperti ini kau begitu manja." gerutu Ella.
"Hey, aku memang kuat. Dan kau juga tahu soal itu, ahhh sakit!"
__ADS_1
"Jangan cengeng, jangan manja!" ketus Ella, dengan cepat ia pun segera mengganti perban Stive, tanpa memperdulikan jeritan dan ringisin dari sang empunya.
"Dan kan, siap." kata Ella tersenyum puas.
"Tapi masih begitu nyeri," desis Stive kembali manja.
"Aku akan bereskan ini dulu," Ella pun bangkit dan membereskan bekas perban kotor Stuve, setelah itu ia merangkak naik ke tempat tidur dan memeluk Stive.
Yah, bila biasanya ia lah yang di peluk, kini ganti dialah yang memeluk.
"Bagaimana, sudah lebih baik?" tanya Ella sambil mengusap usap perut Stive.
"Hemm," jawab Stive mulai memejamkan mata.
"Kenapa aku malah merasa kamu sedang hamil yah minta di usap usap begini," celetuk Ella terkekeh sendiri, membuat Stive langsung membuka matanya kembali.
"Eh, hehehe enggak kok. Bercanda Sayang," kata Ella namun ia semakin tak bisa menahan tawanya saat melihat raut wajah Stive.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku yang membuat mu hamil!" kata Stive menyeringai dan langsung menindih tubuh Ella.