My Spesial Brother

My Spesial Brother
Undangan party


__ADS_3

****


Aldi hanya mengantarkan Anna sampai depan gerbang nya saja, lalu ia melanjutkan menuju sekolah nya. Sekolah mereka berdampingan, SD, SMP barulah SMA. Nama sekolah sama, hanya gedung yang membedakan.


Setelah mobil memasuki halaman parkir, banyak mata yang menatap kagum ke arah mobil Aldi. Karena mobil itu baru di lihat oleh mereka. Yups karena Aldi memang anak baru kan. Kemarin ia ke sekolah dengan di antar oleh Tian, dan hari ini ia baru berangkat seorang diri.


“Sok iye banget lu ya. Pakai mobil bagus, dandan rapi biar apa? Ya biar banyak yang lirik ckck.” Gumam Michele berdecak saat melihat ke arah luar sudah banyak cewek – cewek yang menunggu sang empu nya keluar dari mobil.


“Turun,” titah Aldi datar tanpa memperdulikan ucapan Michele.


“Lo aja duluan, gue gak mau bikin heboh. Kasian fans gue nanti kalau tahu gue semobil sama cowok plastik, mereka patah hati ntar.” Ucap nya sambil memakai liptint. Tadi ia lupa dan belum sempat dandan karena buru-buru.

__ADS_1


“Turun Cel!” tekan Aldi lagi.


“LO dulu—“ glek, Michele menelan saliva nya saat menoleh ke arah Aldi yang kini tengah menatap nya tajam. Ia tidak takut, hanya saja terkejut, “Sumpah lo serem kalau begitu. Jangan mentang – mentang udah pasang plastik, jadi lo ngira bakal tetep ganteng kalau marah. Salah besar, lo serem!”


“Michele,” geram Aldi dan membuat Michele mau tak mau langsung turun dari mobil dan menggerutu sepanjang jalan menuju kelas nya.


Setelah melihat Michele sudah berjalan lumayan jauh, Aldi pun juga segera turun dari mobil nya. Bertepatan dengan Rasya yang baru saja juga tiba bersama kedua teman nya. Mereka saling menyapa dan mengobrol menuju kelas, karena kebetulan mereka satu kelas.


“Jam berapa?” tanya Aldi.


“Malam minggu bro, mungkin jam tujuan. Tenang, di sana gak ada alkohol apalagi miras dan narkoba. Jadi aman, dan juga itu Kafe punya doi,” sambung Angga, teman Rasya satu lagi.

__ADS_1


“Miras sama alkohol apa bedanya?” tanya Leo menahan greget dengan teman nya satu itu.


“Oh iya yah heheh lupa,” kata Angga menyengir tanpa dosa.


“Hem, lihat sikon dulu yah. Tapi aku usahain nanti,” ucap Aldi tersenyum, selama di korea ia hanya fokus belajar. Ia tidak pernah bergaul dengan teman – teman nya apalagi pergi jalan – jalan. Walau pun papa nya selalu mengirimi nya uang, namun ia memilih menggunakan uang itu untuk kebutuhan yang lebih bermanfaat.


Terlebih saat ia sadar akan status nya. Yah, Aldi cukup sadar diri bahwa dia bukanlah siapa – siapa. Dia bukan anak kandung papa Tian. Sedangkan papa kandung nya, tidak ada yang mengetahui nya.


Sebenar nya ia sudah cukup bersyukur bahwa keluarga Tian mau menerima nya dan membiayai hidup nya.


Yah, bisa di katakan kehidupan Aldi selama di korea pun datar. Seperti wajah nya, hari – hari nya ia lakukan seperti robot dan selalu on time. Makan, tidur mandi sekolah. Dan selalu seperti itu setiap hari, tidak ada hangout apalagi pacaran. Memiliki teman saja hanya beberapa dan itu juga mereka yang menganggap Aldi, sementara Aldi tetap bersikap cuek dan datar.

__ADS_1


__ADS_2