My Spesial Brother

My Spesial Brother
Rasya


__ADS_3

***


Leo dan Angga hanya mampu menggelengkan kepala nya dengan lemah. Sementara Rasya hanya bisa menghela napas nya dengan berat. Ia sudah berusaha selama ini namun nyatanya hingga kini ia masih belum mendapatkan hasil terbaik.


“Lo sabar aja, gue yakin sebentar lagi pasti dapet.” Kata Leo mencoba menguatkan sahabat nya.


“Tapi sampai kapan? Udah setahun gue nyari tapi ... “ Untuk ke sekian kalinya, Rasya harus menahan rasa sesak di dada nya. Andai dia perempuan, pasti ia sudah menangis meraung memikirkan masalah nya. Namun, dia laki-laki, pantang untuk nya menangis.


“Kami akan terus mencoba membantu Ras, lo jangan begini,” ujar Angga sambil menepuk bahu Rasya.


“Thanks, kalian berdua bener-bener sahabat gue,” kata Rasya tersenyum kecil.


“Ya udah, gimana sekarang kalau kita minum? Udah lama banget gak minum nih,” ucap Leo lalu ia mulai menuangkan minuman ke gelas Rasya dan Angga.


“Kayaknya gue enggak deh, besok masih sekolah.” Rasya menolak ajakan Leo, karena memang ia masih memikirkan sekolah nya.


Rasya memang tidak sesempurna yang anak anak di sekolahnya kira. Dari sisi lain Rasya, ia juga memiliki kekurangan dan kelemahan. Dan hanya sahabat nya lah yang tau akan hal itu. Rasya sesekali memang butuh minuman untuk menghilangkan stres nya. Namun, bila ia akan minum, ia akan memilih tempat dan waktu yang tepat. Biar bagaimana pun, ia masih tetap memikirkan sekolah dan image nya.


“Sudahlah, jangan galau lagi. Besok kami anterin Ke sana biar lo gak sendirian. Atau lo mau ajak Michele ke sana?” tanya Angga membuat Rasya langsung diam dan berfikir.

__ADS_1


“nah, gue rasa, Michele juga wajib tahu Ras,” sambung Leo.


“Gue rasa belum waktunya. Gue masih takut,” ucap Rasya dengan lemah, “gue gak mau hubungan gue sama dia cepet berakhir. Gue udah sayang banget sama dia,” imbuh nya, kini ia menundukkan kepala nya, matanya sudah berkaca kaca bila memikirkan hubungan nya dengan Michele.


“Ras ... “ panggil Leo pelan.


“Enggak Le, biarkan gue kaya gini dulu sama Michele. Tolong jangan bahas ini dulu,” pinta nya dan kedua sahabat nya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah.


***


“Papa udah sehat?” tanya Michele saat pagi hari ia sudah melihat papa nya rapi dengan seperti mau ke kantor.


“Mike juga doain Papa loh!” kata Mike cemberut kesal.


“Ohh, jagoan Papa juga doain, pantas saja sekarang Papa langsung sehat,” kini Farel menghampiri putra nya dan mencium kepala nya dengan sayang, “terimakasih yah.”


“Apa sih tuyul ikut ikutan aja!” Saut Michele berdecak melihat Mike.


“Papa mau tahu gak selama Papa di rumah sakit, apa saja yang di ajarin kakak sama Mike?” ucap Mike menyeringai saat melirik ke arah kakak nya.

__ADS_1


Michele yang mendengar ucapan Mike dan melihat lirikan maut nya, seketika langsung panik dan hendak menghampiri Mike.


“Mike, nanti pulang sekolah jadi gak? Kalau gak jadi kakak mau hang out sama temen kakak!” ucap Michele dengan memaksakan senyum nya.


“Wow, jadi dong!” seru Mike dengan riang, membuat Michele langsung menghela napas nya dengan lega.


“Memang nya kakak ngajarin apaan hem?” tanya Crystal yang baru saja tiba di meja makan.


“Ajarin pelajaran sekolah lah Mah, memang nya apalagi,” jawab Michele dengan cepat, “Iya kan Mike,” imbuh nya dengan penuh penekanan menatap Mike.


‘Mana ada pelajaran ciuman di sekolah.’ Gumam Mike dalam hati berdecak.


.


.


.


Jangan lupa Vote, like dan komen nya yah.

__ADS_1


Biar mommy makin semangat nulis nya, nanti mommy kasih bonus update, kalau banyak yang like, komen dan vote 😍😍😍😍


__ADS_2