
Acara berlangsung dengan lancar dan tanpa hambatan apapun. Mama Renata hanya diam sepanjang acara, ia masih bingung dan merasa begitu sesak melihat pernikahan anaknya. Karena ia merasa sangat bersalah kepada Vino dan juga keluarga nya. Ia masih tidak habis pikir, mengapa Vino masih mau menerima anaknya yang sudah hamil dengan laki-laki lain.
“Tunggu, Mama mau bicara sama kalian.” Ujar mama Renata mencegah Vino untuk menutup pintu kamar nya.
“Kenapa mama mengajak kak Rasya?” tanya Renata bingung, begitu pun dengan Vino yang ikut mengerutkan dahinya melihat mama mertua nya datang dengan membawa Rasya.
Mama Renata tidak menjawab pertanyaan Renata, ia langsung masuk dan menarik tangan Rasya agar masuk ke dalam kamar pengantin. Sementara Renata dan Vino hanya bisa menghela napas nya berat dan saling memandang.
__ADS_1
“Renata, kamu dan Vino kini memang sudah sah menjadi suami istri. Tapi kamu harus ingat, saat ini kamu sedang hamil anak Rasya!” kata mama Renata menghela napas nya berat, “Vino, mama sangat berterimakasih sama kamu karena masih mencintai putri mama, kamu masih mau menikahi putri mama. Tapi- sekali lagi mama mau meminta maaf sama kamu.”
“Tolong jangan sentuh putri mama sampai dia melahirkan, mama mohon. Dan setelah dia melahirkan, kalian bisa kembali menikah, kamu mengerti kan maksud mama?”
“Vino mengerti Mah, dan Vino juga sudah memikirkan itu. Dan untuk orang tua Vino, Mama tidak perlu khawatir, karena besok pagi Vino akan membawa Renata pergi, kami kaan tinggal di Dubai.” Ucap Vino dengan tegas.
“Baiklah, bila memang itu yang terbaik. Dan untuk kamu Rasya, maafkan tante, bukan tante tidak menyayangi anak itu, tapi tante minta setelah anak kalian lahir, kamu bawa dia pergi sejauh yang kamu bisa. Jangan sampai kami melihatnya terutama keluarga Vino. Karena anak itu hanya akan menghancurkan keluarga kami, sudah cukup aku yang malu, jangan sampai besan ku ikut marah dan menanggung malu, Kamu mengerti kan?”
__ADS_1
“Mama!” seru Renata langsung berdiri, bagaimana bisa mama nya berbicara seperti itu. Bagaimana bisa mama nya sendiri ingin membuang cucu nya, meski bayi itu akan di urus oleh ayah kandung nya, tapi bagaimana mungkin mama nya melarang dirinya untuk merawat anak kandung nya sendiri.
“Mah, tapi—" Vino juga sama terkejut nya dengan Renata, namun ia juga tidak bisa berbuat banyak, karena ia menyadari bahwa anak itu memang bukan miliknya.
“Keputusan mama sudah bulat. Rasya harus mau dan harus bisa mengurus anak kalian, karena memang ini kesalahan nya, dan kamu bisa fokus dengan keluarga baru mu. Dan juga, pikirkan saat nanti mertua kamu tahu bahwa kamu melahirkan tapi itu bukan cucu mereka. Sudah cukup Ren kamu membuat mama malu, jangan kamu buat malu keluarga suami kamu juga.” Kata mama Renata tegas.
“Maaf tante, tapi anak itu bukanlah beban dan juga dia tidak memalukan. Akulah yang bersalah, jangan ikut menyalahkan anak yang ada di kandungan Renata. Sesuai keinginan tante, saya akan mengurus dan merawat anak saya sendiri nanti. Saat usia kandungan Renata sudah mendekati HPL, maka saya akan menyusul kalian dan menunggu sampai anak itu lahir. Dan untuk bang Vino, terimakasih, saya titip Renata dan anak saya, permisi.”
__ADS_1
Dengan mengepalkan tangan nya kuat, menahan sesak di dadaanya, Rasya memilih pergi dari kamar tersebut, sudah cukup dirinya yang hina dan mendapatkan cacian, ia merasa begitu sesak saat mendengar orang tua Renata menyalahkan bayi yang bahkan belum berbentuk dan Memiliki nyawa tersebut.