My Spesial Brother

My Spesial Brother
Oh begitu


__ADS_3

****


Tiga tahun berlalu, Michele sukses masuk ke sekolah nomor satu di kota itu. Setiap hari ia selalu menanti kedatangan Aldi, namun penantian hanya penantian. Nyatanya, Aldi tidak pernah datang lagi. Cukup lama Michele terpuruk dalam kesedihan nya. Ia seperti tidak memiliki semangat untuk sekolah, ia sangat merindukan Aldi. Tapi apalah daya, ia benar – benar di tinggalkan.


Hingga, saat ia bertemu dengan para sahabat nya dan akhirnya ia bisa melupakan perasaan nya kepada Aldi. Ah, bukan melupakan, namun hanya menjeda. Michele berhasil memendam rasa itu selama bertahun – tahun.


Dan, untuk pertemuan nya pertama kali dengan Aldi saat di sekolah waktu itu, sebenar nya ia sangat bahagia. Namun rasa bahagia nya ia tutupi karena sikap Aldi yang sangat berbanding terbalik dengan yang dulu. Ia tidak ingin malu atau terlihat murahan di depan Aldi. Tentu saja, sekarang ia sudah besar, ia sudah memiliki rasa malu dan canggung, tidak seperti dulu.


“What! Jadi lo sama dia pacaran?” pekik denis terkejut dan langsung menutup mulut nya tak percaya.

__ADS_1


“Apaan sih Nyet! Cuma cinta monyet doang elah. Lagian, sekarang di hati gue ada kak rasya, cih siapa juga yang mau sama manusia salju kaya dia.” Ketus Michele, namun sangat berbalik dengan apa yang ia rasakan.


Tentu saja ia masih sangat menyukai Aldi. Bahkan, setelah melihat wajah Aldi yang kini semakin tampan, gagah dan begitu tinggi. Perempuan mana yang tidak akan jatuh cinta sama dia. Namun Michele begitu gengsi untuk mengakui perasaan nya itu, apalagi ia sangat tahu bahwa ketiga sahabat nya ini memiliki mulut seperti ember somplak, ia tidak ingin di jadikan bahan godaan. Jadi lebih baik ia mencari aman.


“Nyet, manusia salju begitu tapi ganteng banget loh. Bahkan kalau sama kak Rasya sebelas dua belas lah yah. Kalau kak Rasya itu type cowok kalem, adem dan ramah gitu. Nah, si Aldi ini type cowok dingin dan cool. Beuhh perfect banget kan.” Celoteh Denis membuat Michele langsung memutar bola matanya malas.


Sejujur nya ia sangat bingung dengan perasaan nya. Ia begitu kesal dengan Aldi. Namun ia ngin terus berada di samping nya, ia ingin seperti dulu lagi. Tapi entah kenapa mulut nya selalu ingin memaki bila sudah membahas nya.


“Sstt ssttt sssttt.” Renata menyenggol kaki Michele di bawah meja, sambil mata nya mengedip ngedip ke arah Michele.

__ADS_1


“kenapa sih Nyet? Bintitan mata lo? Lo abis ngntip siapa yang lagi mandi?” tanya Michele terkekeh.


“Monyet! Di belakang lo egek!” seru Denis menahan geram melihat Michele yang kurang peka dengan koed yang di berikan renata.


“Belakang gue ada apaan? Ada setannya? Woah kalian jangan bercanda dong, di sekolah se elit ini gak mungkin ada setan. Kalian jangan bikin takut woy!” seru Michele terus mengoceh bukan segera berbalik membuat ke tiga teman nya semakin jengkel.


Akhirnya Michele pun memberanikan membalikkan kepala nya ke belakang dan ...


“Oopps!” desis nya sedikit kikuk, “Ini sih bukan setan. Tapi raja nya setan.” Gumam nya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2