My Spesial Brother

My Spesial Brother
Bukan rayuan gombal


__ADS_3

“Kamu harus menjelaskan banyak hal padaku,” kata Aldi saat setelah Micele mengakhiri sambungan video bersama para sahabat nya.


“Apa sih Al? Apa yang mau kamu denger dari aku hem?” tanya Michele, ia segera merangkak dan naik ke tempat tidur Aldi. Ia juga langsung merebahkan kepalanya di lengan kanan Aldi.


“Semuanya, kenapa kamu bisa nekat kesini. Kenapa kamu bisa bersama laki-laki itu, dan kenapa dia bisa memanggil kamu bayi begitu aku tidak suka.” Ujarnya dengan raut wajah datar.


“Ciee, manusia salju cemburu,” goda Michele tersenyum lebar, namun wajah Aldi masih terlihat datar dan dingin, “Al, kayaknya tempat ini gak cocok deh sama kamu. Disini terlalu dingin, makanya kamu jadi makin beku. Harusnya kamu itu tinggal di gurun biar kepanasan jadi meleleh dan hangat deh kamu nya. Gak kaya gini, anyep banget sumpah!” keluh Michele cemberut.


“Cel,” tekan Aldi karena ia tak ingin bercanda.


“Iya iya, oke fine. Aku jelasin,” Michele menarik napas nya panjang sebelum memulai bercerita, “Jadi, itu namanya om Vino—"

__ADS_1


“Aku udah tahu!” saut Aldi memotong ucapan Michele.


“Haisss, kamu ini mau di jelasin tapi motong pembicaraan mulu!” ucap Michele kesal.


“Jadi namanya om Vino. Aku kenal sama dia waktu balapan, kamu ingatkan yang waktu kamu mergokin aku sama Papa dulu.” Katanya cemberut kesal bila mengingat masa itu, “Nah disitu aku kenal sama dia. Ternyata dia pengusaha perhiasan, dan aku dapet hadiah dari dia, karena desain nya bagus aku suka jadi aku ketagihan. Aku beberapa kali datang ke kantor nya buat pesan perhiasan, bahkan kalung yang aku kasih ke Anna saat ulang tahun itu juga aku pesen dari om Vino. Nah sejak itu kita jadi semakin dekat.”


“Dan masalah panggil Baby? Astaga itu hanya panggilan biasa Al, dia memang begitu, makanya ku juluki om me sum. Tapi percayalah dia baik kok, nyatanya dia udah rela nganterin aku kesini buat ketemu sama kamu.” Jelas nya panjang lebar.


“Renata mau menikah sama om om?” tanya Aldi mengerutkan dahi nya.


“Huum hihihihi, tapi dia masih tampan loh. Umurnya juga belum tua banget sih, baru tiga puluh berapa gitu lupa, dia dewasa, dan semoga bisa sabar menghadapi Renata hihihi,”

__ADS_1


“Iya TAMPAN!!!” tekan Aldi dengan nada tak suka.


“Hehehe, tapi masih tampan kamu Al, kamu masih muda, cool dan fresh,”


“Apa aku ikan jadinya cool dan fresh?”


“Dih ngambek, jelek banget kalau cemberut gitu. Senyum dong, jangan ngambek. Aku sama om Vino gak ada hubungan apapun, walau dia pernah naksir sama aku, tapi kamu kan tau aku memnag cantik dari bayi jadi wajar kalau banyak yang suka dan cinta sama aku. Harusnya kamu lebih berjuang buat dapetin aku karena saingan kamu banyak, bukan malah menghindar dan mundur, bahkan kamu diem aja saat aku pacaran sama kak Rasya. Harusnya—"


“Iya aku tahu itu. Terimakasih sudah mau kembai padaku.” Aldi segera memotong ucapan Michele saat gadis itu terus berbicara. Karena sudah di pastikan, bila Michele sudah seperti itu maka tak akan ada rem nya, dan ia akan mendengarkan ocehan nya beberapa jam ke depan.


“Kamu memang begitu cantik, baik, lucu dan menggemaskan. Sampai aku tidak bisa melupakan senyum dan keceriaan kamu, i love you, cup.” Aldi mengecup bibir Michele sekilas.

__ADS_1


“Dih gitu doang, cium lagi dong kaya yang waktu itu,” pinta Michele membuat Aldi terkekeh, ia tak habis pikir mengapa kini gadis itu menjadi lebih me sum dan ketagihan dengan ciuman nya.


__ADS_2