
Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat. Kini adalah hari kelulusan bagi anak kelas tiga. Yakni kelas Rasya dan Aldi tentunya, namun Aldi sudah tidak ada di sekitar mereka. Kini, Michele dan teman-teman nya tengah menyiapkan beberapa kejutan untuk Rasya dan teman teman nya juga.
“Udah kali yah begini aja,” kata Michele saat selesai mendekor sebuah ruangan yang tepatnya adalah gudang belakang sekolah Gudang dimana dulu dirinya di tembak oleh Rasya.
“Oke lah, lumayan,” jawab Denis sambil mengamati sekitar.
“Semoga kak Rasya suka,” kata Michele terkekeh, terlebih saat melihat hasil karya nya sendiri.
Michele dan para sahabat nya pun segera pergi menuju aula dimana tempat acara di adakan. Michele begtu bangga dengan Rasya karena ia berhasil mendapatkan nilai terbaik, juga beberapa piagam penghargaan berhasil ia dapatkan. Memang, Rasya adalah siswa paling teladan dan idaman semua wanita.
“selamat,” kata Michele yang langsung memeluk Rasya saat lelaki itu turun dari atas panggung.
“Terimakasih, cup!” Rasya membalas pelukan Michele dan mengecup kening nya sekilas.
“Woy! lihat sikon woy! Kampret emang yah ini berdua. Masih banyak guru noh!” sungut Renata tak habis pikir dengan tingkah Rasya dan Michele.
“Biarlah,” jawab Rasya santai lalu ia kembali memeluk Michele dari belakang.
__ADS_1
“Oh iya, aku punya kejutan buat kak Rasya,” ucap Michele sambil mengusap tangan Rasya.
“Kita buat pesta ke kafe ku kuy!” seru Leon.
“Nah cocok ini.” Saut Rara lalu tertawa.
Mereka semua langsung menuju Kafe tempat Leon, namun Michele malah membawa Rasya menuju ruang belakang tadi. Dan kini ia sudah berdiri tepat di hadapan Rasya.
“Ada apa?” tanya Rasya lembut sambil merapikan rambut Michele.
“Kak,” Michele menggigit bibir bawahnya, ia sangat gugup ia juga bingung darimana harus memulai pembicaraan darimana.
“Kak, gimana kalau kita akhiri saja hubungan kita?” tanya Michele dnegan lirih sambil menundukkan kepala nya, matanya fokus menatap kedua sepatu nya yang terus bergerak gelisah, tangan nya mere mas ujung seragam nya.
“A- aku gak bisa bohongin diri aku terus kak. Aku sudah berusaha selama ini tapi-“
“Tapi kamu masih belum bisa mencintaiku hem?” tanya Rasya masih dengan suara santai dan lembut.
__ADS_1
Michele mendongakkan wajah nya, ia menatap wajah Rasya yang tengah tersenyum manis menatap nya, “Maafin Michele kak.”
“Apa selama ini kamu tersiksa jalan bersama ku?” tanya Rasya.
“Tidak,” jawab Michele dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Michele seneng bisa jalan berdua sama kakak. Tapi Michele gak bisa terus bohongin diri Michele, dan Michele gak mau terus nyakitin perasaan kakak. Meskipun Michele seneng dan nyaman bersama kakak, tapi perasaan nyaman itu hanya nyaman sebatas sahabat tidak bisa lebih.” Cicit nya pelan.
“Kamu masih mengharapkan dia kembali?” tanya Rasya lagi membuat Michele terkejut dan langsung menatap wajah Rasya, ““Sebelum kita akhiri, bolehkah aku meminta sesuatu dari kamu?”
Michele langsung mengerutkan dahinya, seolah bertanya apa. Dengan cepat Rasya langsung menarik tengkuk Michele dan mendaratkan bibir nya tepat di bibir Michele. Tentu saja Michele sangat terkejut, biasanya Rasya hanya mencium nya di sekitar Kening, dan pipi juga tangan. Tapi kali ini Rasya mencium bibir nya.
“Aku tau ini milik nya. Karena dia yang pertama buat kamu.” Ucap Rasya saat sudah selesai dengan ciuman nya, “Bahagia lah.”
Michele menatap Rasya dengan tatapan sendu dan sedetik kemudian ia langsung kembali memeluk Rasya dengan begitu erat. Jujur, hatinya sakit dan sedih karena sudah menyakiti orang sebaik Rasya, namun dirinya juga tidak ingin terus hidup dalam kebohongan dan terus menyakiti Rasya semakin dalam lagi. Di tempat ini mereka memulai hubungan dan di tempat ini juga mereka Mengakhiri hubungan mereka.
.
.
__ADS_1
End ....