My Spesial Brother

My Spesial Brother
Episode 16 S2


__ADS_3

Pyaarrr!


Saat memasuki rumah nya, Rasya mendengar suara tepat dari dalam kamar mama nya. Ia pun segera berlari dan menghampiri sang mama. Dan benar saja, kini mama nya sedang bersusah payah untuk mengambil minum,


“Mah,” panggil Rasya seraya menghampiri mama nya.


“Kamu sudah pulang?” tanya mama nya pelan dan terbata.


“Mama mau minum? Kenapa mama gak panggil pelayan saja? Kan ada remot nya mah!” Kata Rasya menghela napas nya berat, yah sejak operasi beberapa bulan yang lalu, kini kondisi mama nya semakin membaik. Bahkan kini juga sudah mulai bisa bicara, namun hingga kini masih belum bisa berjalan.

__ADS_1


Menurut dokter, pasti bisa sembuh, hanya saja akan memakan waktu yang lebih lama. Bagi Rasya itu tidak masalah, asal mama nya bisa kembali ada di samping nya, ia sudah sangat bersyukur.


“Mama tidak mau merepotkan mereka Sya, tapi lihat sekarang malah akan merepotkan mereka,” ucapnya sedih membuat hati Rasya begitu sesak.


Hal yang paling membuatnya sakit adalah saat melihat orang yang ia sayangi sedih atau menangis, maka hatinya akan ikut merasa sakit. Rasya pun segera mengambilkan minum untuk mama nya.


“Santi!” panggil Rasya sambil berjalan menuju belakang, namun yang ia cari tidak juga terlihat, membuat amarah nya semakin membuncah.


“I-iya tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya nya sedikit takut, pasal nya ini adalah kali pertama dirinya mendengar suara kencang dari Rasya.

__ADS_1


Rasya memang bukan type orang pemarah dan mudah marah. Namun, kali ini kepala nya sedang sangat berat, ia masih sangat marah dengan ucapan mama Renata, di tambah saat ia pulang ia melihat mama nya sedih. Karena tidak mau merepotkan pelayan, padahal dirinya sengaja membayar pelayan untuk menemani mama nya, membantu kebutuhan mama nya.


“Darimana kamu! Bukankah harusnya kamu tidur di kamar Mama? Bagaimana kalau mama ada yang di butuhkan? Dia ingin minum, ingin ke toilet. Bukankah aku membayar mu untuk itu!” seru nya dengan nafas memburu. Sementara Santi hanya diam, menundukkan kepala nya takut.


“Teko di kamar mama pecah! Kamu bersihkan pecahan nya dan segera ganti yang baru. Dan satu lagi, jangan ninggalin mama sendirian, kalau kamu mau pergi, kamu bisa minta tolong yang lain untuk bergantian menjaga sebentar. Yang penting mama tidak sendiri, Mengerti!” seru nya lagi dan Santi hanya menganggukkan kepala.


Setelah mengatakan itu, Rasya segera berjalan menuju kamarnya, ia ingin mendinginkan isi kepala nya. Sungguh ini bukan sifat Rasya yang sesungguh nya, ia tidak pernah memarahi pelayan- pelayan di rumah nya, ia selalu menghargai orang yang lebih tua darinya, namun amarah nya memang sudah tidak bisa di bendung.


“Ah iya, maafin Rasya mbak, jangan di ambil hati ucapan Rasya tadi.” Ucapnya lagi saat berhenti di tengah tangga dan melihat Santi masih berdiri di dekat tangga sambil menundukkan kepala nya ke bawah.

__ADS_1


Di bawah kucuran air shower, Rasya menumpahkan Segala amarah nya, berulang kali ia memukul tembok di depan nya hingga membuat tangan nya berdarah. Tanpa sadar air matanya mengalir bersama dengan air dari shower.


‘Tuhan, aku yakin engkau selalu bersama ku. Akan ku tunggu bahagia yang engkau janjikan.’ Gumam nya dalam hati.


__ADS_2