
“Aku rasa ini udah cukup yah pelukan nya!” kata Aldi dengan wajah datar nya. Rasya pun langsung melepaskan pelukan nya dan meminta maaf.
“Sorry An,” gumam nya pelan, lalu ia kembali mendudukkan dirinya di kursi, “Tadi aku reflek, maaf.” Imbuh nya, Anna memang tidak mempermasalahkan di peluk oleh Rasya, karena Anna tahu bahwa Rasya pasti sedang benar benar terpuruk. Namun berbeda dengan Aldi, ia masih tetap memasang wajah datar nya, ia merasa begitu kesal dan ingin menghajar rasya karena sudah berani memeluk adik nya, sementara status nya adalah kekasih Michele.
“Kakak kenapa?” tanya Anna yang ikut duduk di sebelah Rasya.
Rasya menggelengkan kepalanya, lalu menghela napas nya berat, membuat Aldi mau tak mau juga ikut duduk di sebelah rasya.
“Aku udah relain kamu meluk adikku. Dan sekarang kamu gak mau cerita ada apa? Mau ngajak berantem?” tanya Aldi datar.
“Yakin kamu mau mengajakku berantem? Dengan kondisi kaki begitu?” cibir Rasya melirik kaki Aldi yang masih di gips.
“Tunggu sembuh!” ketus Aldi membuat Rasya dan Anna terkekeh.
__ADS_1
“Kakak cerita aja sama kita, siapa tahu kita bisa bantu. Dan kalau pun nanti Anna dan kak Aldi gak bisa bantu kakak, setidak nya kakak sudah membagi beban itu sama kita, jadi kak Rasa tidak akan merasa sendiri lagi. Percaya deh sama Anna, itu akan lebih baik dan lebih lega.” Kata Anna panjang lebar.
“Aku sedang membutuhkan darah golongan RH-Null. Sudah hampir setahun lebih aku mencarinya, namun sampai saat ini belum ketemu. Mama ku, harus segera di operasi, namun darah itu belum aku dapatkan.” Ujar Rasya menghela napas berat, matanya kembali berkaca kaca, ia memikirkan kembali ucapan ucapan dokter yang mengatakan bhawa nyawa mama nya tidak akan bertahan lama lagi bila ia tidak segera menemukan golongan darah yang ia cari.
“Itu mama nya kak Rasya? Kenapa gak kak Rasya saja yang mendonorkan?” tanya Anna mengerutkan dahinya.
“Tidak bisa, darah ku berbeda. Darahku sama seperti Papa, bukan mama.” Gumam nya menyesal.
“Al ... “ panggil Rasya pelan, namun Aldi masih diam.
“Kak Aldi!” seru Anna, baru membuat Aldi tersadar, “Astaga ngelamun lagi!”
“Iya, darah ku sama.” Jawab Aldi membuat Rasya langsung tersenyum lebar, ia berharap Aldi mau membantunya agar sang mama bisa segera menjalani operasi.
__ADS_1
“Al, kamu bisa menolong mama ku?” tanya Rasya penuh harap.
Aldi tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala nya, lalu segera beranjak dari kursinya, “Anna kita pergi.”
“Kakak tenang saja, kak Aldi memang begitu. Tapi percaya sama Anna, kak Aldi pasti bantu mama nya kak Rasya. Kita mau ketemu dokter dulu ya kak, lepas gips kak Aldi. Nanti setelah itu kami pasti kesini lagi.” Bisik Anna di telinga Rasya, jarak keduanya begitu dekat, entah sadar atau tidak Rasya merasakan suatu getaran aneh namun tidak dengan Anna. Ia masih begitu polos dan tidak mengerti apapun.
“Jangan nangis lagi kak, jelek tahu. Kasian kak Michele nanti,” imbuh Anna terkekeh, membuat rasya langsung sadar, bahwa ia memiliki janji dengan Michele.
.
Jangan lupa Vote, like dan komen nya yah.
Biar mommy makin semangat nulis nya, nanti mommy kasih bonus update, kalau banyak yang like, komen dan vote 😍😍😍😍
__ADS_1