
“Kak Rasya?” gumam Michele pelan saat melihat kedatangan Rasa dengan mendorong kursi roda mama nya. Michele pun lalu melirik ke arah Aldi, melihat ekspresi wajah nya yang datar dan dingin, membuat nya mengerutkan dahi.
Tidak ada yang terucap dari Aldi maupun mama Rasya, namun mata mereka saling menatap dan menyelami dalam nya. Tidak ada kemarahan atau kebencian, hanya rasa bingung dan kerinduan. Mama Rasya sangat mirip dengan adiknya, yang tak lain adalah ibu kandung Aldi, sementara wajah Aldi juga mewarisi wajah papa nya Rasya.
“Ada apa?’ tanya Aldi bersuara, namun terdengar begitu serak. Yah, begitu serak karena Aldi tengah menahan sesak di dadaa nya.
“Kamu yang bernama Aldi?” tanya mama Rasa begitu lirih, “Bisakah kamu mendekat Nak,” tutur nya begitu lembut.
Aldi menghela napas nya dengan berat, lalu ia mendekati kursi roda itu dan berjongkok di depan mama Rasya, “Ada yang bisa saya bantu?” tanya Aldi masih datar dan sopan.
“Kenapa wajah kamu sangat mirip dengan nya,” setetes air mata luruh membasahi wajah mama Rasya saat tangan nya menyentuh wajah Aldi.
“Tante tidak membenci ku karena mirip dengan nya?” tanya Aldi memberanikan diri, inilah pertanyaan yang selama ini ingin ia tanyakan saat bertemu dengan mama nya Rasya.
__ADS_1
“Tidak!” jawab nya dengan cepat menggelengkan kepala, “Tante tidak akan bisa membenci mu, kamu tidak bersalah. Terimakasih karena kamu sudah mau menyelamatkan wanita tua ini, dan terimakasih karena kamu sudah hadir dan muncul di kehidupan kami. “
“Jangan berterimakasih, ini memang sudah takdir mempertemukan kita,” jawab Aldi menghapus air mata mama nya Rasya.
“Bolehkah tante memeluk kamu?” tanya mama Rasya pelan, lalu Aldi pun tersenyum dan langsung memeluk mama Rasya dengan erat. Tanpa kedua nya sadari bahwa sedari tadi semua yang ada di sana ikut menitikkan air mata, mereka terharu melihat pertemuan antara Aldi dan mama Rasya, walau dalam hati mereka bertanya – tanya ada hubungan apa mereka.
“Kak Rasya, ini sebenernya ada apa sih?” bisik Michele di telinga Rasya.
“Bisakah kau tetap disini bersama kami?” tanya Rasya membuka suara dan membuat Aldi langsung melepaskan pelukan nya.
“Ini bukan kesalahan tante, mengapa tante ingin menebusnya? Dan juga, Aldi sudah terbiasa hidup di sana, dan Aldi sudah biasa sendiri.”
“Tapi, bisakah kamu pulang ke rumah kami saat kembali lagi ke indonesia lagi nanti? Bisakah kau menganggap aku sebagai ganti ibumu? Tante sangat merindukan adik tante, tante mohon izinkan tante untuk merasakan tinggal bersama mu,”
__ADS_1
“Insya’allah, nanti saat kuliah Aldi selesai, Aldi akan pulang ke rumah tante. Dan untuk saat ini, tolong biarkan Aldi sendiri dulu,” jawab Aldi pelan, karena sesungguh nya dirinya belum siap berada di tengah tengah keluarga Rasya. Dirinya masih merasa bersalah karena ibu nya sudah menjadi orang ketiga di antara keluarga Rasya.
“Baiklah, pintu rumah selalu terbuka lebar, menunggu kepulangan kamu,” ujar mama Rasya tulus, Aldi pun tersenyum mengangguk lalu beranjak dari posisi nya.
“Apakah kau tak ingin memeluk ku juga?” tanya Rasya merentangkan kedua tangan nya menyambut Aldi.
“Cih,” Aldi berdecak, membuat Rasya terkekeh, namun tak urung Aldi pun juga menghampiri Rasya dan memeluk nya.
“Welcome di keluarga barumu, dan aku selalu menunggu kepulangan mu, adikku.” Kata Rasya tepat di telinga Aldi membuat Aldi tersenyum lega.
“Kak Rasya jangan macem macem yah! Jangan ambil Aldi dari Michele!” seru Michele berkacak pinggang sambil memanyunkan bibir nya.
“Astaga Cel, kamu ini merusak suasana!” sungut Rasya menggelengkan kepala dan melepaskan pelukan nya dengan Aldi, “Lagi pula aku masih normal!”
__ADS_1
“Ya kali aja, kakak patah hati karena Michele, terus berniat belok sama Aldi!’ katanya santai dan cuek membuat Aldi dan Rasya melongo dan saling pandang.