
“Jadi Boy itu sepupu kamu?” tanya Rasya, saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Sementara Anna sudah tidur dengan pulas di kursi belakang.
“Iya, emang kak Rasya baru tahu yah? Padahal nama belakang kami sama loh,” kata Michele sambil memakan makanan nya.
Tadi saat melintasi lampu merah, ia sempat membeli beberapa makanan ringan yang di jual oleh pedagang asongan di pinggir jalan. Ini yang membuat Rasya begitu mengagumi dan Michele, gadis itu tidak pernah membeda bedakan derajat manusia. Bahkan, makanan apa saja ia makan asal rasanya cocok. Selama berpacaran dengan nya, Michele bahkan sangat jarang mengajak nya makan di restauran mewah, gadis itu lebih suka di ajak nongkrong di Kafe atau warung pinggir jalan, yang dimana suasana nya begitu asik dan ramai.
“Dulu sempat mau nanya, tapi lupa.” Kata Rasya tersenyum lebar, memang benar saat Boy baru masuk ke sekolah saat itu, dia juga sempat heran saat melihat nama belakang nya memakai nama PRANATA, yang mana itu berarti nama keluarga besar Michele. Namun, selama di sekolah, keduanya sangat jarang bertegur sapa, jadi Rasya tidak tahu bahwa mereka benar saudara.
“Lalu gadis tadi? Kekasihnya?” tanya Rasya lagi, ia ingat saat tadi Boy di panggil oleh seorang gadis dan ia langsung menghampiri nya namun dengan wajah yang sedikit di tekuk.
“Itu adiknya. Dia punya dua adik, dan itu salah satunya.” Rasya mengangguk paham, lalu ia kembali terdiam, “Mau gak?” Michele menyodorkan buah ke mulut Rasya, dan dengan cepat Rasya pun memakan makanan itu. Walau sebenar nya ia sedikit ragu memakan nya.
__ADS_1
“Seger kan?” kata Michele lalu kembali melahap buah tersebut.
“Pedes,” keluh Rasya lalu ia segera mengambil minuman di samping nya.
“Astaga, Cuma segini pedes.” Cibir Michele, lalu ia kembali memakan asinan buah nya, “Kak Rasya tuh mirip banget loh sama Anna, kalian sama sama gak bisa makan pedes. Kakak tau, ini kalau sampai Anna yang makan, beuh, bisa bisa Michele langsung di bantai sama om Tian. Percaya deh.”
“memang nya kenapa?”
Sementara mantan kekasih Michele itu hanya diam dan menyimak, ia tidak tahu mengapa Michele lebih suka bercerita tentang Anna daripada membahas dirinya sendiri. Hal ini membuat Rasya menjadi tau banyak tentang Anna.
Mobil Rasya sudah memasuki halaman rumah Michele, namun Anna belum juga bangun dari tidur nya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah di pastikan orang tua Michele sudah pada tidur, kalau pun belum tidur, Michele bisa menebak, paling orang tua nya sedang ‘Berolah Raga’.
__ADS_1
“Kakak, tolong bantu angkat Anna ke kamar Michele yah. Dia kalau udah tidur kaya kebo.” Kata Michele dan rasya hanya menganggukkan kepala nya.
Dengan perlahan, Rasya mengangkat tubuh Anna dan membawa nya ke kamar Michele. Tanpa di sadari juga, kini tangan Anna sudah merangkul leher Rasya dan ia juga menyandarkan kepala nya di dadaa bidang Rasya. Mungkin, di alam bawah sadar nya, Anna mengira bahwa Tian lah yang menggendong nya.
Sementara Michele hanya menatap kedua nya dnegan tatapan yang sulit di artikan. Ia menyandarkan kepala nya pada pintu kamar nya, saat melihat betapa lembut nya Rasya meletakkan tubuh Anna di atas tempat tidur.
.
.
Maafkan bila banyak typo yah, Anak mommy lagi sakit, dan mommy masih coba sempetin buat nulis. Tapi maaf gak bisa revisi lagi, jadi kalau ada kesalahan nulis atau typo, mohon di maafkan ... terimakasih 😊
__ADS_1