
Vino yang merasakan keganjalan dan ada yang tidak beres dengan Renata, akhirnya menyuruh seseorang untuk menyelidiki dan mengikuti kemana pun Renata pergi. Entah mengapa sejak kejadian beberapa hari yang lalu, kini dirinya merasa bahwa Renata semakin menghindarinya. Ia selalu mencoba untuk merayu Renata dan meluluhkan hatinya kembali, namun Renata tetap menjauhinya.
“Bagaimana?” tanya Vino pada orang suruhan nya saat datang ke kantor untuk memberikan nya laporan.
“Memang benar saat itu nona Renata mengikuti anda ke Hotel tuan, namun saya tidak bisa melacak lebih detail lagi, karena memang tidak ada rekaman nona sama sekali di hotel itu. Hanya ada mobil nya yang terlihat memasuki kawasan hotel, tepat di belakang mobil anda.” Jelas orang tersebut, membuat Vino menghela napas nya panjang.
Ia menyalahkan dirinya, harusnya ia saat itu mengajak Renata atau setidak nya ia memberikan kabar terlebih dulu agar tak terjadi salah paham. Kini, Vino berfikir bahwa Renata cemburu dan akhirnya ia melampiaskan amarah nya pada orang lain.
“Baiklah, terimakasih,” ujar Vino, lalu ia menyandarkan kepala nya pada kursi dan matanya fokus menatap langit langit ruangan nya.
Menghela napas kasar, Vino bangkit dari tempat duduk nya dan segera menghubungi teman nya, Erick. Ia rasa hanya dia yang bisa mengobati rasa sesak nya saat ini. Tentu Saja dengan balapan, bukankah di sana ia bisa melampiaskan rasa sesak dan kesal nya.
__ADS_1
Flashback off
“Ha—hanya bekas merah kan Om? Bi— bisa saja mungkin dia ... “ Michele tampak berfikir dan bingung dengan apa yang harus ia katakan setelah mendengar semua penuturan dari Vino.
“Bagaimana kalau dia mendapatkan bekas itu dari mantan kekasih mu?” tanya Vino yang membuat Michele langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
“Om jangan bercanda, masa ka Rasya?” pekik Michele tak percaya, “Aku udah pacaran sama dia lama loh om, setahunan, dia bukan type laki laki begitu. Gak mungkin kak Rasya,”
“Om!”
“Sekarang dia berada di rumah mantan kamu,” ujar Vino menunjukkan lokasi Renata terkini.
__ADS_1
“Kok, Renata di sana?” tanya Michele penasaran membuat Vino mengangkat kedua bahu nya cuek, walau sebenarnya hatinya sangat sesak. Sebenar nya ia sangat ingin menghampiri Renata namun, ia merasa tidak perlu karena itu hanya akan menambah luka di hatinya.
Karena ini tidak hanya sekali ia melacak keberadaan Renata yang ternyata berada di rumah Rasya.
“Michele akan ke rumah kak Rasya sekarang. Om vino baik baik dulu yah, jangan keburu bunuh diri, Michele akan bantu, oke.”
“Kamu pikir aku anak kecil yang langsung bunuh diri hanya karena wanita!” sungut Vino kesal, membuat Michele sedikit terkekeh.
“Sudahlah, pokok nya aku akan mencoba meluruskan masalah kalian, dan besok aku pastikan bahwa pernikahan kalian akan berlangsung.” Michele segera meraih tas nya dan pergi ke rumah Aldi.
Yah rumah Aldi, karena hari sudah hampir malam, ia akan jauh merasa lebih aman bila bersama kekasih nya. Ia tidak akan ceroboh lagi, ia tidak mau hubungan nya ikut salah paham seperti Vino dan Renata, pikirnya.
__ADS_1
Setelah menjemput Aldi, ia pun segera menuju rumah Rasya. Awalnya, Aldi menolak, namun karena paksaan dan sedikit ancaman, Ali terpaksa mengikuti Michele ke sana, karena sesungguh nya Aldi masih belum siap untuk kembali bertemu dengan Aldi dan mama nya.