
“Om, om yakin mau menikahi Renata? Om mau menerima Renata dengan ikhlas?” tanya Michele pelan, saat ini dirinya tengah berada di taman yang berada di hotel tempat acara pernikahan Renata dan Vino di langsung kan.
Michele sengaja mengajak Vino bertemu karena ia merasa sedikit bingung dengan keputusan Vino yang memilih melanjutkan pernikahan mereka. Sekuat itukah hati Vino? Begitu besar cintanya pada Renata sampai membuatnya bisa menerima dan memaafkan Renata.
“Kenapa? Apa kau meragukan ku Baby?” ucap Vino masih bisa terkekeh walau pelan, “Cel, kamu pernah mendengar sebuah pepatah? Cinta tak harus memiliki, dan cinta itu akan saling melengkapi. Aku tahu Renata tidak sempurna, tapi aku juga sadar bahwa diriku juga tidak sempurna. Kami saling mencintai, lalu dimana salahnya kalau kami bisa saling menerima dan saling melengkapi? Dan juga, kalau aku membiarkan Renata menikah dengan Rasya, bukankah malah akan saling menyakiti? Di antara mereka hanya ada anak, tapi tidak ada cinta.” Jelas Vino panjang lebar membuat Michele terdiam.
‘Yah, cinta memang harus saling melengkapi kekurangan pasangan masing-masing. Tapi, bagaimana dengan anak yang di kandung Renata nantinya? Ia anak dari Rasya, sementara .... ‘ Michele terus bergumam dalam hatinya, memikirkan percintaan mereka. Namun, ia juga sadar diri bahwa ia bukanlah siapa-siapa. Toh yang menjalani mereka bukan dirinya.
“Apapun yang terbaik untuk kalian, Michele Cuma bisa mendoakan semoga kalian bahagia. Semoga pernikahan om dan Renata langgeng, dan bahagia sampai maut memisahkan,” ucap Michele dengan tulus, lalu Vino pun langsung membalasnya dengan pelukan.
__ADS_1
“Thanks baby,” kata Vino tersenyum lega.
“Sudah lima belas menit, aku rasa sudah cukup!” ucap Aldi tiba-tiba datang dan bersedekap tangan di dada. Membuat Vino dan Michele langsung melepaskan pelukan nya.
“Ckck, baiklah. Ini adalah pelukan terakhir ku dengan nya, terimakasih karena sudah memberikan kado terbaik,” kata Vino dengan senyum miring di wajah nya, “Baby, aku akan masuk dulu, silahkan kamu tenangkan singa jantan mu,” bisik Vino lalu beranjak pergi dari taman.
“Rasanya B aja, karena pelukan terhangat dan ternyaman hanya pelukan dari kekasihku, cinta ku dan manusia salju ku ini.” kata Michele, seraya mendekati Aldi dan langsung memeluknya dengan erat.
“Kamu memang paling bisa membuat ku luluh,” ucap Aldi mencium pucuk kepala Michele dengan gemas.
__ADS_1
“Siapa dulu dong, Michele gitu loh, hihihi.” Katanya terkekeh, “Ayo kita masuk, aku ingin berebut bunga, siapa tahu kita cepat menyusul.”
“Tanpa merebut bunga, kalau kamu mau kita juga bisa menikah sekarang juga. Kaki ku sudah sembuh dan—"
“Tidak! Kita selesaikan dulu kuliah. Aku tidak mau menikah muda!” jawab Michele dengan cepat memotong ucapan Aldi.
Aldi hanya terkekeh melihat Michele langsung berubah sewot saat dirinya mengajak nya menikah. Memang benar, selain mereka ingin menyelesaikan kuliah dulu, mereka juga tidak mau segera memiliki momongan, karena itu hanya akan menghambat mereka menikmati masa muda. Karena bila nanti mereka menikah sudah pasti mereka akan sering mencetak anak dan membuat Michele segera hamil.
Dan bila ia hamil, punya anak, otomatis mereka tidak akan bisa sebebas masa pacaran, karena fokus nya hanya akan pada anak mereka. Itulah sebab nya ia memilih memuaskan masa pacaran nya, ia akan menikah saat nanti mereka selesai kuliah.
__ADS_1