
“Om Vino,” panggil Michele saat melihat kedatangan Vino di bandara.
“Sorry telat, tadi sedikit macet.” Katanya lalu ia mendudukkan diri di samping Michele.
“Gapapa,” jawab Michele pelan, saat ini pikirannya sudah kacau, kepalanya hanya terpenuhi dengan Sosok Aldi. Dan keinginan nya hanya satu, yakni bertemu dengan laki laki itu. Makanya, ia meminta bantuan Vino agar bisa membantu nya kabur dari rumah, ah lebih tepat nya kabur dari pantauan keluarga nya. Ia akan menyusul Aldi ke korea, dengan menggunakan jet pribadi milik Vino.
Ia tidak mungkin pergi dengan menggunakan pesawat umum, karena akan memudahkan keluarga nya mengetahui kepergian nya. Walau ia tahu pada akhirnya mereka juga akan mengetahui saat dirinya sudah sampai di korea nanti. Tapi setidak nya, orang tua nya tidak bisa mencegahnya karena ia sudah sampai di tempat.
“Apa yang membuat kamu yakin bahwa orang tua kamu berbohong?”tanya Vino mengerutkan kening nya.
Michele sudah menceritakan semuanya kepada Vino. Segala isi hatinya tentang Aldi dan keluarganya, semuanya di ketahui oleh Vino. Dan Michele yakin bahwa Vino pasti bisa membantu nya. Saat ini, harapan Michele hanyalah Vino.
__ADS_1
“Aku gak tau Om, aku Cuma bisa merasakan saja bahwa papa memang sedang berbohong. Tapi apa alasan nya, Michele tidak tahu, makanya Michele ingin ke sana untuk membuktikan nya sendiri,” ungkap Michele panjang lebar.
“Mengapa kau tak meminta bantuan pada kekasih mu? Siapa itu namanya aku lupa?”
“kak Rasya? Dia sibuk dengan kuliah nya,” keluh Michele lagi lagi menghela napas berat.
“Baiklah, kamu tenang saja. Kamu bisa istirahat nanti saat di dalam pesawat. Lebih baik, kita sekarang segera berangkat agar orang tua kamu tidak menemukan mu disini.” Michele mengangguk lalu ia segera mengikuti Vino menuju pesawat pribadi nya.
‘Gue harap, apa yang gue pikirin benar. Dan gue harap, lo masih manusia salju kesayangan gue yang dulu.’ Gumam Michele dalam hati, sebelum akhirnya ia menutup mata dan menuju alam mimpi nya.
“Michele kemana?” tanya Denis saat baru sampai di tempat tongkrongan nya bersama para sahabat nya.
__ADS_1
“Entah, gue telfon nomor nya gak aktif dari tadi,” ujar Renata yang terus menghubungi nomor Michele namun tak bisa.
“Yah, gak asik dong kalau Cuma bertiga,” keluh Rara memanyunkan bibir nya.
“kan ada abang neng, tenang saja. Pasti bakal seru kok,” saut Leon yang baru saja datang dan tiba tiba duduk di samping Rara.
“Lah, kamu ini udah kaya jailangkung aja sih ah!” kata Rara cemberut kesal, namun juga tersenyum karena kedatangan sang kekasih.
“Dah lah Ren, kita gigit jari aja berdua. Biasanya si Michele sama kak Rasya. Ini sekarang malah manusia barbie sama singa, hadeuh!” sindir Denis berdecak karena melihat tingkah Rara dan Leon.
Yups, karena sering nya mereka nongkrong di kafe milik Leon, akhirnya Rara terpincut dan jatuh hati dengan mantan kakak kelas nya itu. Keduanya sudah berpacaran tiga mingguan ini, dan setiap kali mereka di sana, semua akan di gratiskan oleh Leon.
__ADS_1
“Makanya jangan jomblo berkepanjangan,” kata Rara santai, “ya gak beib,” imbuh nya lalu ia bergelayut manja di dadaa bidang milik Leon.
“Bodo amat!” seru Renata dan Denis bersamaan, membuat Rara dan Leon langsung terkekeh puas karena berhasil menggoda kedua gadis tersebut.