Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Kuli Angkut


__ADS_3

Malam ini, Nadira tidak banyak bicara seperti biasanya, bu Rita, pak Heru dan Naufal bingung tapi tidak ada yang berani bertanya, karna Nadira kelihatan sangat lelah, saat membaca bersama pun Nadira lebih banyak menguap.


"kamu ngantuk Ra? tanya bu Rita.


"iya bu, Nadira rasanya pingin tidur cepat malam ini."


"ya udah kalau gitu kita sudahi dulu yah baca bersamanya?"


"jangan bu ga papa, kasihan Naufal kalau gak waktu ini, dia gak bakalan baca buku."


"em kak dira gak tau aja, bagi naufal ga ada hari tanpa buku."


"iya, buku komik."


"hehehehe, kak dira tau aja"


"uda dek baca aja, gak usah banyak ngobrol! " Seru Nadira.


"siapa sih tadi yang duluan nyebutin nama Naufal."


"Sudah sudah, ni bapak lagi konsentrasi, jangan ribut nanti pekerjaan bapak terganggu!" seru pak Heru.


Mereka pun terdiam. tapi bukan membaca, Nadira malah melamun, dia memikirkan pertemuannya dengan Sarah, dia sangat senang dapat berjumpa lagi dengan Sarah, namun dia pun teringat kepada Susi, dia bertanya-tanya bagaimana keadaan Susi saat ini


flashback on


Ujian telah berakhir, Nadira bersiap hendak pulang, saat Nadira hendak keluar, Sarah sudah menunggu di depan pintu kelas Nadira,


"Ra, aku ingin bicara."


"iya Sar ada apa?" bicara aja.


"kita cari tempat duduk yuk!"


"ga usah Sar, aku harus cepat pulang." Nadira menjawab sambil terus melangkah.


"tolonglah Ra, sekali ini saja, semester depan aku pindah."


Nadira menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Sarah,


"kamu pindah Sar, kenapa?"

__ADS_1


"ayahku di tarik lagi ke kantor pusat, jadi kami akan kembali ke tempat tinggal kami yang lama.


Selain itu, aku gak betah Ra, lihat kamu dan Susi kayak gini, kalian dua sahabat terbaikku disini, dan sekarang aku seperti harus memilih di antara kalian."


"maafin aku Sar, aku gak bermaksud, aku hanya tidak ingin orang lain terganggu karena kehadiranku, aku takut nanti orang tua mu juga berfikir aku memberi pengaruh buruk padamu."


"Ra, enggak semua orang tua seperti emak Susi,


jadi kamu jangan takut untuk berteman dengan orang lain Ra! apakah kamu merasa, kalau kamu memberi pengaruh buruk sama Susi?"


Nadira menggelengkan kepalanya.


"iya Ra, aku juga berteman sama kamu, kita sering bermain bertiga, dan kamu sama sekali gak memberi pengaruh buruk sama kita, kamu malah selalu mengingatkan kami untuk belajar, sholat dan hal baik lainnya."


Nadira hanya diam mendengarkan ucapan Sarah.


"emak Susi mungkin saat itu sedang emosi saja Ra, jadi mengatakan hal apapun yang bisa membuat hatinya lega. dan aku berharap kamu jangan terlalu mengambil hati Ra?"


"tapi aku sudah berjanji untuk tidak berteman dengan Susi lagi Sar, dan aku tak ingin mengingkari janji itu, walaupun jauh di lubuk hati, aku ingin bermain lagi seperti dulu bersama Susi, Susi temanku semenjak MTs. Disaat semua orang tidak mau berteman denganku, Susi dengan senang hati mengajak aku bermain, mengajakku jalan bersama, aku sangat rindu saat itu Sar". Nadira menangis sambil mencurahkan isi hatinya kepada Sarah.


Sekolah sudah mulai sepi, Nadira dan Sarah pun sudah beranjak dari tempat duduknya mereka berjalan keluar halaman.


"Ra aku pamit ya! semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi ya Ra!"


Nadira dan Sarah pun berpelukan, dan mereka berjalan ke arah yang berbeda, menuju rumah mereka masing-masing.


flashback off


"Nadira, Nadira"


Suara bu Rita, mengagetkan Nadira dari lamunannya.


"iya bu!"


"kamu kenapa melamun, kalau ngantuk ambillah wudhu dulu, nanti kami yang beresin ini!"


"iya bu"


Nadira segera pergi ke toilet dan berwudhu, keluar dari toilet kasur sudah tertata dengan rapi,


"maafin Nadira ya bu, hari ini Nadira agak capek jadi terpaksa ibu menyiapkan semuanya sendiri."

__ADS_1


"siapa bilang ibu sendiri, itu adek mu bantuin ibu, makanya cepet bersih dan rapi"


"kalau begitu Nadira setiap hari aja duluan ke toilet biar adek bantuin ibu terus, hahaha"


"bolehlah, bolehlah jawab Naufal, asal kak Dira mau kerjain PR aku, gak apalah aku beresin kasur setiap hari."


"enak aja, bukan masalah ngerjain PR nya dek tapi kamu nya kapan belajar kalau pr nya kakak yang kerjain"


"kan di kelas Naufal uda belajar kak."


"Naufal, guru memberi PR agar kamu mengulang pelajaran di rumah, kalau di kasih PR aja kamu gak mau mengulang pelajaran apalagi gak di kasih PR" nasihat bu Rita,


"nah loh dek ibu guru tu yang bilang."


Nadira tersenyum geli melihat adeknya yang di omelin ibunya.


"Kenapa juga mesti di ulangi sih bu?" Naufal masih saja mencari celah untuk membela dirinya.


"Naufal, ibarat batu yang keras, jika terkena tetesan air sekali atau dua kali gak akan ada pengaruhnya, tapi kalau terus menerus terkena tetesan ari akan berlobang, air yang lembut bisa melubangi batu yang keras dengan pengulangan, begitupun ilmu nak, jika di ulang secara terus menerus maka dia akan membekas di otak, seperti pepatah ala bisa karna biasa, biasa kan artinya dilakukan terus menerus jadi terbiasa."


Ketika buk Rita masih memberi penjelasan kepada Naufal, Nadira sudah tertidur dan bu Rita terkejut mendengar dengkuran halus Nadira.


"wah kakakmu kayaknya capek banget yah dek,


tidurnya cepat banget, dan yang biasanya gak mendengkur, hari ini mendengkur."


Naufal hanya mengangkat bahunya, dan segera beranjak ke toilet karna pak Heru sudah keluar dari toilet.


Bu Rita masih duduk memandang Nadira yang terlelap, pak Heru mendekat untuk berbaring, sebelum berbaring pak Heru melihat ke arah Nadira karena dia mendengar dengkuran Nadira.


"gak biasanya Nadira mendengkur bu?"


"kayaknya capek banget pak dia hari ini, sejak pulang bawaannya lesu, ngaji juga gak semangat, biasanya bisa sampai setengah juz, tadi cuma 1 lembar, makan juga sedikit dan pas waktu belajar tadi melamun juga. Entah tadi tidurnya baca doa atau tidak."


"buk apa aku cari kerja sampingan aja yah buk? biar bisa kasih ongkos buat Nadira naik angkot."


"kerja apa pak, kita aja masuk sekolah setiap hari cuma minggu aja yang libur, pulang sekolah hampir pukul 3, apa yang bisa dikerjakan dari sore hari pak?"


"hari minggu aja buk, bapak mau ke pasar, mungkin ada yang butuh bantuan di pasar."


"pasar mana pak?, pasar kampung kita kan cuma pasar kecil pak, yang jualan cuma sedikit, yang beli juga cuma warga kampung, jam 9 pagi pasarnya uda bubar."

__ADS_1


"bukan pasar kampung kita buk, pasar kota yang dekat kampus Nadira, itu kan pasar besar, mungkin banyak yang butuh kuli angkut."


Bu Rita tercengang mendengar ucapan suaminya yang mengatakan kuli angkut.


__ADS_2