Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Sam dan Evi


__ADS_3

Pak Heru bertanya kepada Buk Rita, tidak biasanya Nadira tidur habis subuh, Buk Rita menjawab bahwa Nadira sedang sakit.


"Bagaimana ini Pak, Nadira tidak bisa ke kampus, tapi kita tidak bisa memberi kabar ke kampus ataupun ke temannya, kasihan kalau sampai nanti mempengaruhi nilainya". Buk Rita merasa bingung karna tidak bisa memberi kabar ke kampusnya.


"Yah mau bagaimana lagi Buk, Insyaallah ada solusinya, kita doakan saja, semoga Nadira cepat sembuh, dan dosen Nadira bisa memahami keadaan Nadira!"


"Aamiin" Jawab Buk Rita yang masih cemas.


Pak Heru juga merasa tidak enak, karna sampai sekarang dia belum bisa membeli handphone walaupun cuma satu, setidaknya jika punya handphone, dia bisa memberi kabar kepada siapa saja yang terpisah oleh jarak.


Sebenarnya bisa saja Pak Heru membeli handphone pada saat gajian, tapi karna mereka jarang gajian jadi terkadang untuk makan mereka berhutang, dan Pak Heru merasa tidak enak jika membeli Handphone sedangkan mereka masih mempunyai hutang.


"Pak, Ibu izin saja yah, biar hari ini Bapak sendiri yang masuk ke sekolah, kasihan Nadira jika harus ditinggal dalam keadaan tidak sehat". Buk Rita ingin izin saja ke sekolah karna dia ingin merawat Nadira yang kurang enak badan.


"Iya Buk sebaiknya begitu".Pak Heru menyetujui permintaan Buk Rita.


Pak Heru berfikir apa mungkin sebaiknya dia membeli handphone agar bisa memberi kabar, tapi uangnya harus dihitung-hitung dulu, dia berniat bertanya kepada teman-teman guru yang ada di sekolah barangkali ada handphone yang rusak dan masih bisa diperbaiki.


"Pak, ayo siap-siap, habis itu sarapan, jangan sampai terlambat ke sekolah, karna ibu sudah izin, tidak enak kalau bapak datangnya terlambat pula". Buk Rita mengingatkan Pak Heru yang masih melamun.


Pak Heru segera melakukan perkataan Buk Rita, dan hari itu Pak Heru hanya berangkat bersama Naufal, karna Buk Rita harus menjaga Nadira yang kurang enak badan.


Di kampus Nadira, Evi bertanya-tanya kemana Nadira biasanya jam seperti ini Nadira sudah datang, tapi hari ini Nadira belum juga datang padahal sebentar lagi jam kuliah kan dimulai.


"Nadira kemana yah, apa dia sakit yah, tapi semalam kayaknya baik-baik saja, ada apa yah?," Evi bergumam dalam hati, dia juga sedikit kesal karna Nadira tidak punya handphone jadi dia tidak bisa menghubunginya, dia bingung nanti kalau dosen bertanya, apa yang harus dia katakan, kalau dia bilang sakit, tapi Nadira gak sakit malah sakit beneran.


Mata kuliah dimulai, dosen juga sudah masuk ke kelas, tapi Nadira tidak datang bahkan sampai mata kuliah usai.


Evi mengirim pesan pada Sarah untuk makan di kantin, dia ingin mengatakan tentang Nadira yang tidak masuk ke kelas.

__ADS_1


Sarah dan Evi makan sambil menanyakan kemana Nadira tidak masuk, dan karna mereka sudah tahu rumah Nadira, mereka berencana ke saba lagi untuk mengetahui alasan kenapa Nadira tidak masuk kuliah, karna mereka tahu kalau Nadira tidak masuk kuliah pasti karna dia memang tidak bisa, bukan tipe Nadira yang suka bermalas-malasan di rumah.


Saat mereka sedang asyik makan dan ngobrol tiba-tiba Sam, Reza dan Farhan datang menghampiri mereka.


"Woi ember bocor, kalau makan mulutnya berhenti dulu ngobrol muncrat semua tuh isi mulut". Datang-datang Sam sudah melancarkan ejekannya kepada Evi.


"Ish Kak Samsudin, datang itu salam kek, sapa kek, senyum kek, ini datang-datang langsung nyerocos aja kayak mulut bebek". Evi yang merasa terganggu langsung nyerocos juga.


"Aku gak lagi bertamu ke rumah kamu, jadi gak perlu lah mengucap salam, ini kantin tempat umum, bisa dikira ceramah aku mengucap salam di tempat umum" Kilah Sam.


"Wahai Kal Samsudin yang namanya paling keren, mengucap salam itu gak hanya pas bertamu kali, setiap bertemu sesama muslim ya sunnahnya mengucap salam!" Lanjut Evi lagi.


"Kan cuma sunnah gak wajib, jadi kalau aku gak mengucap salam gak berdosa dong!" Jawab Sam yang tak mau kalah.


"Walaupun gak berdosa kan kalau dikerjakan dapat pahala kak Samsudin, lagian salam juga kan do'a, pelit amat,cuma mendoakan orang lain gak mau" Jawab Evi lagi.


"Oh Kak Sam mau makan juga Kak, ini habisin!" Evi menyodorkan mangkuk baksonya yang masih tersisa dua biji.


Sam yang ingin mengerjai Evi, langsung menyendok kan sebiji bakso dan kuahnya ke dalam mulutnya. Saat memakannya dia kepedasan.


"Ya ampun ember bocor ini makanan apa racun sih, kamu kasih cabe berapa sendok, pedes banget tau!" Ucap Sam yang kepedasan setelah memakan bakso Evi.


Sam yang kepedasan langsung mengambil es teh Evi dan menenggaknya hingga tandas.


"Hahaha" Evi tertawa melihat Sam yang kepedasan.


"Makanya kalau mau makan pesan sendiri kak, jangan asal comot punya orang, Hahahah." Evi masih tertawa melihat muka Sam yang merah.


"Kamu pasti sengaja kan, mau mengerjai aku". tuduh Sam.

__ADS_1


"Yah aku kan cuma bercanda Kak, mana tahu kalau Kak Sam mau makan, makanan sisa aku". Evi berkata dengan jujur setelah tawanya hilang.


"Kakak mau makan bakso lagi kak?, biar aku pesankan, sebagai tanda permintaan maaf ku, tapi bayar sendiri yah kak!, hahaha" Evi tertawa lagi, dia sangat senang karna bisa mengerjai Sam walaupun dia tidak sengaja melakukannya.


"Dasar Ember Bocor Pelit?" Gerutu Sam, sedang Evi masih tertawa.


"Kalian sudah selesai?" Tanya Reza yang dari tadi menyimak perdebatan Evi dan Sam.


"hehehe, Maaf Kak!" Evi yang melupakan keberadaan Reza, Sarah Dan Farhan menjadi malu, Sedang Sam masih mengibas-ngibas mulutnya yang kepedasan.


"Kakak-kakak mau makan juga kah?" Tanya Evi.


"Sebenarnya disana banyak kursi kosong kak, tapi kalau memang mau di kursi ini, yah kami pergi dulu karna kami sudah selesai makannya". Ucap Sarah dengan lembut, dia merasa tidak enak karna ulah Evi.


"Enggak Dek, kami sudah makan tadi sebelum istirahat karna kami kan gak ada mata kuliah lagi, jadi sebelum kantin ramai kami sudah makan duluan". Jawab Reza.


"Terus Kakak-Kakak ke kantin mau ngapain kalau gak mau makan" Tanya Evi langsung nyolot.


"Mau cari kalian!" Jawab Reza.


"uhuk... uhuk..." Evi yang sedang minum es teh milik Sarah, terbatuk-batuk mendengar jawaban Reza.


"Aduh Kak, rasa capek yang kemarin belum hilang, jadi kami belum bisa bantuin kakak-kakak lagi hari ini". Jawab Evi tanpa mendengar penjelasan Reza lagi.


Mendengar jawaban Evi, Reza tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bukan Dek, kami mencari kalian hari ini bukan untuk minta tolong!" Jawab Reza.


"Terus?" Jawab Evi memotong perkataan Reza yang belum selesai.

__ADS_1


__ADS_2