
Farhan memasukkan kartu perdana yang dia beli kemarin, kemudian menghidupkan handphonenya.
"Alhamdulillah masih berfungsi, kamu mau menyimpan Nomor Nadira Za?" Tanya Farhan kepada Reza.
"Boleh, Miss call nomorku Han, jadi nanti langsung aku simpan aja".
"Ini!. aku gak hafal nomor kamu Za, kamu telpon aja sendiri!" Perintah Farhan kepada Reza, sambil menyerahkan handphone kepada Reza.
"Tapi nanti dulu deh, itu handphone uda kamu format belum?" Tanya Farhan lagi.
"Oh ya Han, aku lupa, data-dataku masih ada semua disana nomor-nomor temanku juga masih tersimpan disana, bisa-bisa ketahuan semua sama Nadira". Reza merasa lucu karna dia melupakan hal-hal yang sepele namun penting juga.
Reza kemudian memformat hpnya. Butuh beberapa waktu sampai Handphonenya selesai di format.
Saat selesai Reza menyimpan nomornya di kontak hp Nadira lalu menelpon nomornya sendiri.
"Nah selesai Han, kamu juga nih masukin Nomor kamu, biar Nadira bisa langsung menyimpan Nomor kita!" Reza berkata sambil menyerahkan handphone kepada Farhan.
Farhan lalu memasukkan nomornya tapi dia tidak memanggil ke Handphonenya.
"Kamu gak miss call nomor kamu Han? Nanti kamu gak bisa menghubungi Nadira" Tanya Reza yang melihat Farhan hanya menyimpan nomornya.
"Gak usah Za!" Hanya itu jawaban Farhan, padahal sesungguhnya dia sudah menyimpan Nomor Nadira sejak semalam.
Pukul dua siang lebih Buk Rita, Pak Heru dan Naufal pulang dari sekolah, Buk Rita terkejut karna dia melihat motor Farhan, Reza dan Sam di depan rumah mereka, Buk Rita bingung kenapa pintunya di tutup.
Ada rasa khawatir di hati Buk Rita, karna dia meninggalkan Nadira yang sedang sakit sendirian di rumah, sedang ada motor 3 orang lelaki di depan rumahnya dengan pintu tertutup.
Buk Rita segera berjalan tergesa-gesa ke arah rumahnya, dia tidak memberi tahu Pak Heru karna dia belum yakin dengan pemikirannya, lebih baik dia memastikan sendiri tanpa harus membuat semua orang khawatir dengan sesuatu yang belum pasti.
Melihat tingkah Buk Rita, Pak Heru dan Naufal merasa heran, tapi mereka hanya memperhatikan tanpa bertanya.
Setelah melihat ke arah rumahnya Pak Heru bertanya kepada Naufal.
"Loh Dek, ada motor di depan Rumah, kira-kira motor siapa yah?" Pak Heru dan Naufal memang tidak tahu karna saat teman-teman Nadira ke rumah, mereka belum pulang dari sekolah.
__ADS_1
"Gak tahu Pak,mungkin teman-teman Kak Dira yang lain, yang baru tahu kalau Kak Dira sakit!" Tebak Naufal yang teringat cerita Buk Rita semalam tentang kedatangan teman-teman Nadira kemarin.
"Assalamualaikum" Buk Rita mengucapkan salam, namun dia tidak menunggu jawaban dan langsung membuka pintu.
Dia merasa lega, karna dia melihat Nadira, Sarah dan Evi tertidur di dalam rumah, dia kembali menutup pintu rumah dan keluar untuk mencegah Pak Heru dan Naufal masuk ke dalam rumah karna Sarah dan Evi tidur dengan tidak memakai kerudung.
"Bapak sama Adek, gak usah maduk rumah dulu yah, kalian langsung ke mushollah aja dulu, di dalam ada Sarah dan Evi lagi tidur sama Nadira, sini tasnya biar ibu letakkan di dalam rumah"
Setelah mendengar ucapan Buk Rita, Naufal langsung menyerahkan tasnya kepada Buk Rita dan dia langsung menuju ke mushollah, sedang Pak Heru melihat jam tangannya masih ada waktu 30 menit sebelum ashar jadi dia memilih untuk melihat kebunnya.
'Wah ini singkongnya sudah lumayan besar bisa di panen' Gumam Pak Heru dalam hatinya.
Dia berjalan dan terkejut melihat tiga orang pemuda duduk di bawah pohon mangga.
"Assalamualaikum" Pak Heru menyapa ketiga pemuda itu.
Farhan dan Reza yang sedang memainkan ponselnya terkejut mendengar salam Pak Heru.
"Waalaikum salam" jawab mereka bersamaan.
"hehe" Reza tersenyum, entah apa arti dari senyumnya, apa malu atau menutupi ketegangannya.
"Maaf Pak, kami teman Nadira, tadi kami menengoknya dengan Sarah dan Evi, karna Nadira mau beristirahat, Kami minta Sarah dan Evi menemani Nadira di dalam, kami menunggu di luar karna tidak enak, kalau kami juga di dalam, mau pulang kami tidak enak juga karna tadi pergi berbarengan dengan Sarah dan Evi, jadi gak enak kalau mereka kami tinggal, karna tidak ada tempat jadi kami memilih duduk di sini, untuk menunggi mereka!" Jawab Farhan sesopan mungkin.
"Oh... begitu, Saya Bapaknya Nadira". Pak Heru mengenalkan dirinya.
Farhan dan Reza langsung menyalami Pak Heru.
"Saya Farhan Pak!" Farhan mengenalkan dirinya.
"Saya Reza" Reza juga ikut mengenalkan dirinya.
"Itu teman kami Sam" Farhan mengenalkan Sam yang masih tertidur.
"hehe" Pak Heru tertawa melihat Sam yang tertidur.
__ADS_1
"Maaf Nak yah! rumah kami sangat sederhana, jadi kalian harus duduk di sini seperti ini!" Ucap Pak Heru merasa bersalah.
Farhan dan Reza saling tatap, mereka tidak tahu harus menjawab apa.
"Gak apa-apa Pak, duduk di sini enak, ada angin sepoi-sepoi kami serasa lahi piknik, saking enaknya teman kami tidur di sana!" ucap Farhan sambil terawa melihat Sam yang masih tertidur.
"Yah sudah sekarang bangunkan dulu temannya kita ke mushollah saja, sambil menunggu waktu ashar, sekalian kita sholat di mushollah" Ajak Pak Heru yang tidak tega melihat mereka duduk di tanah hanya beralaskan kardus bekas.
Mereka lalu membangunkan Sam,
"Sam... Sam..." Reza membangunkan Sam dengan memanggil namanya dan menggoyangkan bahunya.
Sam bangun dan mengucek matanya, dia lalu meregangkan badannya sambil menguap.
"Sam, kalau menguap itu, mulutnya ditutup kalau tidak setan nanti yang masuk ke dalam mulutmu itu!" Farhan mengungatkan Sam yang baru bangun tidur.
Sam yang baru bangun tidur, tidak memperdulikan ucapan Farhan, melihat tingkah Sam Reza hanya menggelengkan kepalanya.
Pak Heru menatap tiga pemuda itu bergantian.
"Ayuk Nak!" Ajak Pak Heru sambil berbalik melangkah.
Farhan dan Reza yang sudah berdiri mengikuti Pak Heru di belakangnya,
"Hei, kalian mau kemana, masak aku di tinggal sih!" Keluh Sam.
"kalau mau ikut cepat bangun dan bergerak Sam!" Ucap Farhan tegas.
Sam segera bangun dari duduknya, dan langsung mengejar Pak Heru, Farhan dan Reza.
Setelah berjalan mensejajari Reza, Sam menyenggol lengan Reza, dan memanyunkn mulutnya ke arah Pak Heru.
Reza yang mengerti maksud Sam menjawab dengan menggerakkan mulutnya tanpa bersuara mengatakan bahwa yang di depan mereka adalah Bapak Nadira.
Sam yang belum paham mengerutkan keningnya, Reza lalu mengulangi dengan lambat "Ba... Pak... Na... Di... Ra..."
__ADS_1
Sam yang sudah paham hanya menganggukkan kepalanya, tidak ada percakapan lagi diantara mereka, sampai mereka tiba ke mushollah.